
Entah karna apa Fana tiba-tiba merasa pusing dan seketika penglihatannya mengabur. Ya Fana terjatuh pingsan tak sadarkan diri diruang pesta. Ziano yang melihat itu langsung sigap membawa Fana ke salah satu kamar yang sudah di sediakan panitia di temani seseorang juga yang berada di sana.
Dengan telaten Ziano menggosok telapak kaki dan tangan Fana secara bergantian menggunakan minyak kayu putih sampai mata Kenan terasa sakit saat melihatnya.
Kelopak mata Fana mengerjap beberapa kali membiasakan diri deri dengan silaunya cahaya yang menembus kelopak matanya.
"Kenan." Gunaman itu sangat pelan sampai semua orang tidak mendengarnya.
"Kau sudah bangun?" Ziano membantu Shafana untuk bangun.
"Aku ingin pulang!" Ujarnya lemah.
"Baiklah, biar kuantar!"
"Tidak perlu Cupu, aku yang akan mengantarnya pulang." Kenan menatap tajam Ziano dengan pandangan penuh peringatan.
"Tidak, aku saja yang akan mengantarnya pulang, aku tidak bisa membiarkan temanku di antar dengan pria jahat sepertimu."
Ziano sungguh tidak percaya jika Shafana di antar pulang oleh Kenan, pria tidak berperasaan yang kerap kali bertindak sesukanya tanpa memperdulikan perasaan orang lain.
"Aku yang mengadakan acara, sudah sepatutnya aku bertanggung jawab pada dia, lagi pula Shafana Moza temanku juga, aku akan mengantarkannya."
"Tida kau ti-"
"Biarkan Kenan mengantarkan ku Zi." Sebenarnya Fana enggan pulang dengan Kenan, tapi jika mengingat ia akan pulang ke rumah yang sama akhirnya ia memaksakan diri untuk menerima tawaran Kenan, jika tidak ia pasti akan di maki habis-habisan saat sampai di rumah.
Ziano hanya bisa mengiakan saat Fana memutuskan untuk pulang bersama Kenan lagi pula ia gidak memiliki hak untuk memaksakan kehendaknya.
__ADS_1
"Ken, biarkan aku saja yang mengantar Moza, lebih baik kau tetap di sini dan tutuplah acaranya." Eldy datang menawarkan diri, menurutnya ini adalah kesempatan emas untuk bisa bersama dengan wanita itu.
"Kau saja yang disini, kau yang membuka acara jadi kau juga yang harus menutupnya." Nada Kenan terdengar kesal lantaran Eldy tetap mengotot ingin mengantar Shafana pulang.
"Ayolah Ken, biarkan kali ini saja aku mengantar Moza pulang."
"Tidak, aku tau otak busukmu Eldy, kau pasti ingin mencari kesempatan, atau memiliki rancanakan?"
Sumpah demi apapun kali ini Eldy benar-benar membenci otak cerdas Kenan, rasanya ingin sekali Eldy mengirim sahabatnya ke pelanet lain.
"Ayo!" Kenan melangkahkan kaki meninggalkan Shafana yang masih terduduk di atas ranjang.
Shifa dan Eliza membantu Shafana untuk bangkit dan berjalan dengan pelan.
"Gara-gara kakak acara malam ini jadi kacau." Shifa berbisik kesal tepat di samping telinga Fana.
Kenan terus melangkahkan kaki lebih dulu tanpa menunggu atau menoleh kearah belakang.
Ziano yang tidak tega melihat Fana diapit dua orang, bahkan gadis itu beberapa kali terhuyung karna mungkin pandangannya yang buram serta kepalanya yang masih pusing, akhirnya ia berinisiatip untuk menggendong teman wanitanya.
Saat sampai di parkiran Kenan sudah masuk kedalam mobil lebih dulu, ia sengaja menyalakan lampu mobil agar Shifa dan temanya tidak kesulitan mencari mobilnya, tapi yang membuatnya terkejut adalah saat Shafana berada di dalam gendongan Ziano.
"Cihh, mereka sangat serasi, mengapa bukan si Cupu itu yang menjadi suaminya." dengusnya kesal.
"Eliza, tolong buka pintunya." Ziano meminta temannya membuka pintu mobil karna ia tidak bisa membukanya seorang diri.
Ziano mendudukan tubuh Fana di kursi penumpang yang terletak di sebelah kemudi, mengatur ketinghian senyaman mungkin, agar temannya merasa tenang.
__ADS_1
"Ingat! Jika terjadi sesuatu yang buruk pada Moza, kau adalah orang pertama yang akan kucari." Sempat-sempatnya Ziano melayangkan ancaman pada Kenan, sedangkan yang mendapat ancaman hanya memutar matanya malas.
Siapa juga yang ingin berbuat macam-macam dengan orang di sampingnya, jika tidak mengingat Mamanya, sebenarnya Kenan ingin meninggalkan Fana, namun sayang Kenan masih ingin nyawanya berada dalam tubuhnya.
Kenan melesatkan kendaraan mewahnya meninggalkan beberapa temannya.
"Bagai mana rasanya di gendong pria cupu itu?" Kenan bertanya tanpa mengalihkan pandangan dari jalanan.
Masih hening. Kenan melirik sekilas wanita di sampingnya, Fana tak bergeming ia menutup kedua matanya, jujur saja kenan dibuat takut, takut si culun istrinya itu mati di dalam mobilny maka urusannya akan sangat panjang. Iapun menepikan mobilnya untuk memastikan, Kenan meletakan jari telunjuknya di depan hidung gadis yang tengah tetpejam itu.
"Syukurlah kau masih hidup." Kenan bernapas dengan lega saat hidung itu masih bernapas.
Shafana terganggu, dan langsung tetjaga, menepis kasar tangan Kenan.
"Kau mau apa? Mau membekapku sampai mati di saat kondisiku sedang lemah."
"Ya sekalian masih di jalan, aku hanya ingin memastikanmu mati lalu ku buang mayatmu kejurang di pinggir tol." Shafana sampai merinding mendengar itu.
"Dasar sadis, kau akan di hukum mati dengan pembunuhan berencana." Kalimat itu terdengar pelan dan lemah.
"Tidak apa aku rela, jika harus di hukum mati setelah melenyapkanmu, memastikan kau mati di tanganku itu cita-cita yang mulia."
Shafana diam tidak menyaut lagi ia merasa dirinya sangat lemah, jangankan untuk lanjut berdebat, bahkan untuk sekedar bernapas saja ia enggan.
"Jangan tidur, pastikan matamu tetap terjaga selama di perjalanan, nanti jika sudah sampai rumah kau boleh tidur."
Shafana tidak menanggapi ucapan suaminya ia tetap memejamkan mata menghadap keluar jendela.
__ADS_1