
Kenan tak dapat menahan gairahnya lebih lama akhirnya ia beranjak untuk mengunci pintu kamar, ia tak ingin ada orang lain yang mengganggu kegiatan kesukaannya.
"Ken kau masih sakit." Fana berusaha mendoron dada Kenan yang tengah mencumbu lehernya. Anehnya tidak ada ciuman bibir di sini.
"Aku masih sanggup membuatmu berteriak memanggil namaku." bisik serak Kenan. Sensual dan menggairahkan.
"Jangan menganggap ku lemah hanya karna aku tengah demam." Kenan sudah melucuti pakaian keduanya entah sejak kapan.
Fana dapat merasakan suhu tubuh suaminya yang panas. Apa lagi saat mulut pria itu mengabsen inci demi inci tubuhnya.
Tak ingin terlalu lama melakukan pemanasan. Kenan langsung memulai penyatuannyan.
"Ahh. Fana kau selalu nikmat."
racauan demi raccauan Kenan keluarkan untuk pertama kalinya Kenan seberisik ini dalam bercinta. Ia mengatakan apapun tentang rasa yang ia dapatkan. Sampai gerakannya semakin cepat dan terken dali.
"Ahh. Ken."
"Kenan ..." Fana sudah mencapai pelepasannya dan ia mengira jika sebentar lagi rahimnya akan di genangi oleh ledakan cairan suaminya. Tapi dugaannya salah Kenan mencabut miliknya dan mengocokknya di luar tepat di atas perut pamping istrinya cairan itu tumpah berceceran dan rasanya sangat panas, mengingat Kenan tengah demam
Fana merasa kecewa karna Kenan menumpahkannya di luar bukan di tempat semestinya. Seperti biasa prasangka buruk datang kembali.
__ADS_1
Fana meraih tissue di atas nakas dan mengelapnya dengan asal. Maniknya sudah berkaca-kaca lapisan itu siap tumpah kapan saja jika Fana berkedip. Kenan menyadarinya.
Siapa yang tidak kecewa jika duaminya membuang benihnya di luar padahal orang tua mereka menginginka seorang cucu, begitu juga dengan dirinya yang menginginkan seorang bayi.
"Hey jangan kecewa seperti itu." bujuk Kenan.
"Aku mengeluarkan benihku di luar karna tak ingin kau tertular sakit. Sejak tadipun aku menghindari mencium wajahmu hanya karna tak inginkau terjakit virus. Lagi pula aku tak menjamin jika benihku berkualitas saat aku sakit itu sebabnya aku memilih membuangnya di luar." Kenan memeluk tubuh Fana.
Fana mengulum senyumnya. "Kupikir kau tak menginginkan anak dariku, atau lebih parahnya kau sudah mendapatkan tempat lain untuk menanam benihmu."
"Kurang-kurangi pikiran jelek tentang suamimu sendiri. Tolong ambilkan aku obat penurun panas aku merasa lemas saat ini."
"Kau tau sakit kenapa masih nekad melakukan itu denganku?"
"Lagi pula aku takut karna tidak memberikanmu nafkah kau mencampakan aku." papar Kenan jujur.
"Mana ada, kau ini."
Setelah meminum obat dan istirahat Kenan marasa cukup segar.
.
__ADS_1
Setelah beberapa hari berselang Kenan pulang dalam keadaan mabuk, meskipun masih sadar tapi Kenan di antarkan oleh Arven itu artinya Kenan cukup parah mabuknya.
"Ken bisakah kau tidak berangkat dan pulang bersama dengan Dimi?" Tanya Fana to the poin.
"Memang apa masalahnya? tujuan kamipun sama."
"Aku tak ingin terjadi ada hal yang tidak di inginkan terjadi. Kata bang Napi kejahatan bukan hanya ada niat dari pelaku melainkan karna adanya kesempatan." Fana memberenggut.
"Kau tidak percaya padaku?"
"Terserah jika kau ngeyel. Lihat saja aku tak akan menurutimu lagi. Aku ingin kau memecatnya jadi sekertarismu. Biasanya juga kau hanya berkerja dengan Arven saja." Fana terlihat egois saat mengatakan itu biarkan saja.
"Aku tidak memiliki alasan untuk memecatnya Fana, jika kau menyuruhku tidak bareng bersamanya aku bisa. Tapi untuk memecatnya aku harus memiliki alasan lebih dulu." Terang Kenan.
"Kau juga tidak memiliki alasan untuk menerimanya bekerja, selain karna dia teman kecilmu." Fana menyilangkan tangan di dadanya, ia angkat sedikit dagunya. Bukan tanpa alasan ia berbuat demikian. Kenan kerap kali makan siang bersama dengan Dimi ia khawatir dengan kelanjutan rumah tangganya.
Dimi yang mengatakannya langsung jika Kenan kerap kali makan siang dan pergi dengannya.
"Kau itu kenapa semakin kemari semakin menyebalkan. Kau pikir dirimu siapa bisa mengaturku." Kenan membentak Fana meskipun nadanya tidak terlalu tinggi.
"Jika kau belum memecatnya, aku tak ingin melayanimu." Fana memberanikan diri mengatakan itu tak menduga jika Kenan malah balik membentaknya dan menoyor kepalanya sama seperti dulu.
__ADS_1
Fana menatap tajam suaminya.
.