
"Kau bukan tidak hanya akan di pecat kau juga akan di hukum". Kenan memelototi pelayan wanita itu.
"Nona Moza tolong saya! ".
"Kembali kebelakang biar masalah ini saya yang urus". Tak tega Fana melihat pegawainya sampai menangis karna ulah pria itu.
"Siapa kau berani-beraninya ikut campur masalahku?"
"aku pemilik Caffe ini, lebih baik kita obati lukamu dulu, mari ikut ke ruanganku!".
Kenan mengedarkan pandangan saat berada di ruangan yang ia yakini milik si culun itu, matanya menelisik dan menilai dalam diam. Shafana kembali dengan membawa kotak obat, mengulurkan kotak itu di hadapan Kenan. Kenan hanya bergeming mengernyitkan kedua alisnya bingung.
Fana menarik kembali kotak itu kemudian membuka isinya, memilih dengan teliti meyakinkan bahwa salep yang ia raih adalah Cream yang tepat, membaca aturan pakainya dengan seksama.
"Ini salep untuk luka bakar, kau harus mengoleskannya kelukamu dengan segera, agar tidak melepuh dan meninggalkan bekas yang mengerikan, kakkiku pernah tersiram air panas karna aku tidak langsung mengobatinya kakiku sampai melepuh bahkan aku terkena demam selama dua hari".
Dengan santainya Kenan membuka kemejanya di hadapan gadis itu, dampaknya sangat mengejutkan untuk Fana mendapati seluruh permukaan wajahnya memerah, astagha siapa yang telanjang mengapa dirinya yang merasa malu, tangan yang terulur di hadapan Kenan sekarang gemetar, keringat di dahinya menguap keluar.
"Hey apa yang kau lakukan?, mengapa kau membuka bajumu di hadapan seorang gadis?brnar-benar tidak sopan". Fana memekik hampir saja dia alan berteriak dengan tindakan pria yang sudah putus urat malunya.
"Kau menyuruhku untuk mengobati lukaku, apa kau bodoh atau tak bisa melihat di mana letak lukaku?, katakan bagai mana caraku mengobati lukaku sedangkan luka ini berada di dalam tubuhku". Benar saja saat kemeha itu terlepas sempurna menampilkan bahu lebar dan punggung yang kekar, tidak Fana lewatkan dada dan perut Kenan benar-benar sempurna, sekuat mungkin Fana mengepalkan jemarinya agar tidak lancang ingin menjawil tubuh indah itu.
__ADS_1
"Apa yang kau lihat".
"Tentu saja tubuh indahmu, Ehh maksudku luka merah yang ada di tubuhmu". Meskipun Fana sudah meralat ucapannya Kenan sudah terlanjur tersipu telinga sampai merah padam.
"Apa telingamu juga terkena air panas? ".
"Tidak!".
"Lalu mengapa telingamu sama memerahnya dengan lukamu? ". Ya Tuhan jeli sekali mata si culun itu apa karna matanya ada empat batin Kenan menyimpulkan.
"Kau itu terlalu banyak berbicara, cepat lebih baik segera obati lukaku". Nada ketus itu selalu bertengger pada diri pria rupawan itu.
Shafana melemparkan salep itu ke dada Kenan, dan hendak berlalu dari sana.
"Pergi saja jika kau ingin melihat pegawaimu berada di balik jeruji besi". Ancaman Kenan mampu menghentikan langkahnya yang nyaris sampai di ambang pintu.
Shafana memutar kembali langkahnya mendekati pria itu dan kembali memungut salep yang tergelek di atas lantai karna ulahnya sendiri, Kenan menyunggingkan senyum tipis merasa puas telah menggretak si culun itu. " Ini baru permulaan culun, kau pasti akan lebih menderita saat sudah menjadi istriku nanti".
"Duduk lah di bawah, biarkan aku yang duduk di atas sofa, biar aku bisa meraih lehermu untuk ku olesi obat ini".
"Aku tidak mau, kau obati lukaku sambil berdiri saja, itupun jika kau masih peduli dengan pegawaimu". Enak saja si culun itu menyuruh ia seenaknya dia pikir dia siapa.
__ADS_1
ini memalukan, Fana bersumpah ini pertama kalinya ia menyentuh tubuh seorang pria apa lagi pria itu penyebab dari deritanya di masa lalu, dengan pelan Shafana menyentuh permukaan leher Kenan dengan kedua jarinya yang sebelumnya sudah ia olesi salep anti luka bakar, dengan pelan-pelan ia terus melakukannya merambat hingga ke luka bagian pundak serta dadanya, khawatir Kenan merasa sakit dengan tindakannya sesekali Fana meniup tubuh pria itu.
"Apa yang kau lakukan? kau sedang mengobatiku atau sedang menggodaku?, seenaknya meniup tubuh telanjang seorang pria. Sepertinya kau sangat ahli melakukan sentuhan untuk membangkitkan hasrat pria dewasa, tapi sayangnya itu tidak berlaku terhadapku, seharusnya kau bercermin terlebih dahulu sebelum... ".
PLAK...
Suara tamparan menggema di seluruh sudut kamar. Dengan mata yang menyorot marah, Shafana memaki lelaki dihadapannya.
"Jika kau berpikir aku menggoda atau merayumu tidak masalah, itu adalah hakmu sepenuhnya, tapi kau mempunyai otak bukan untuk berpikir mana yang patut untuk keluar dari mulut kotormu itu, terserah kau menganngapku seperti apa tapi satu yang harus kau tau, kau sama sekali bukan tipeku standarku jauh lebih tinggi dari pria sombong sepertimu, satu lagi aku tidak menyukai mulut besar seorang pria, obati lukamu sendiri aku tidak peduli sekalipun kulitmu akan mengelupas sampai ke tulang, kau pikir aku berhasrat untuk mrnggoda pria lemah sepertimu". Shafana meninggalkan Kenan di ruangannya terserah lelaki itu akan melakukan apa.
"Si culun itu benar-benar sableng". Kenan melanjutkan mengobati lukanya ia tidak akan rela tubuh kekarnya meninggalkan bekas luka di kulit bersihnya.
tadinya Kenan juga ingin balik memaki balik gadis berkaca mata itu, tapi ia urungka ketika melihat kobaran amarah di mata Fana yang seakan ingin menelannya hidup-hidup.
"Ternyata si culun itu sangat menyeramkan saat marah, hampir saja kaca yang melapisi bola mata itu retak". Kenan terus membatin di sela ia mengobati lukanya sendiri.
Sepertinya Kenan malah semakin tertantang untuk menaklukan gadis culun itu, ia tidak habis pikir Bisa-bisa gadis itu mengatakan jika dirinya bukan tipe gadis itu, bahkan bertanya-tanya sebenarnya Fana itu normal atau tidak, lihat saja setelah ini Fana tidak akan lepas dari pesonanya lalu setelahnya akan Kenan buat siculun itu patah hati, tapi yang jadi pertanyaannya bagai mana jika si culun tidak menyukainya, maka kesimpulannya gadis itu tidak normal.
Hari itu Shafana langsung memutuska untuk pulang saja moodnya benar-benar sudah dibrusak manusia yang penuh dengan fitnah.
,
__ADS_1