Terpaksa Menikahi Gadis Culun

Terpaksa Menikahi Gadis Culun
Mantra apa yang kau miliki


__ADS_3

Fana tidak dapat memejamkan matanya meskipun malam sudah larut, ia melirik adiknya yang berada di belankar pasien sudah terlelap beberapa watu lalu.


Fana sedang menjaga adiknya seorang diri, ayahnya Fana suruh pulang supaya dapat beristirahat dengan nyaman di kamarnya.


Fana tidak bisa tidur bukan karna tempatnya yang tak nyaman, melainkan karna suatu hal. Fana sudah mandi, juga sudah makan. Ia dan ayahnya memakan makanan yang Kenan kirimkan, dan saat ini Fana sedang memakan sebutir buah pear yang di berikan Ziano padanya beberapa waktu lalu. Dokter tampan itu juga memberikan banyak susu kotak serta vitamin untuknya, sungguh pria yang manis bukan?


"Kemana Kenan pergi? Dia benar-benar marah sepertinya." Fana menghela nafasnya panjang, "Arven di akhir hidupmu kau membuat masalah, sekarang aku tak menyukaimu lagi." Gunam Fana lirih.


Fana menunggu Kenan tapi pria tampan itu tidak juga kunjung kembali, ponselnya bahkan tidak aktif. "Ya, Tuhan kemana pria itu pergi?"


Ceklek (pintu terbuka)


Nampaklah pria yang sejak tadi Fana rindukan.


"Ken." Fana langsung berdiri dari duduknya dan berlari menjatuhkan tubuhnya pada pelukan Kenan.


"Kau belum tidur?" Kenan balik mendekap tubuh mungil di hadapannya. Menghirup dalam-dalam aroma menenangkan dari rambut istrinya.


"Maaf. Maafkan aku Ken. Aku bersalah padamu." bisiknya, Fana sudah terisak di peluka Kenan.


Kenan mengurai pelukannya menangkup rahang wanita di depannya.


"Aku menunggumu. Aku tak tenang, aku bersalah padamu mohon maafkan aku Ken, aku ..." Cup, Kenan mengecup sekilas bibir yang sejak tadi mengakui kesalahannya.


"Aku sudah memaafkanmu. Jangan ulangi lagi." Kenan membenamkan ciuman dalam di kening istrinya.


Hey siapapun! tolong hentikan waktu. Fana terbuai akan kelembutan suaminya sendiri.


"Kau belum tidur karna menungguku?" Kenan bertanya tanpa mengalihkan tatapan dari wajah yang sudah sejak kapan tak berbingkai kacamata.


Fana menganggukan kepalanya.


"Aku tak ingin menjadi istri durhaka, aku tak ingin kau mengkutukku. Sungguh jika itu terjadi aku akan menjadi wanita yang rugi." Fana menyucapkan dengan ekspresi polosnya.

__ADS_1


"Kau berkata seperti orang waras." celetuk Kenan.


"Memangnya selama ini aku gila?" Fana mencebik kesal.


"Sudah, jangan memancing perdebatan lagi, adikmu sedang beristirahat." putus Kenan cepat.


"Hm."


"Ayo kita tidur!"


Ada sofa panjang di ruangan itu tapi sepertinya Fana lebih memilih tidur di atas lantai dengan menggelar selimut. "Kau tidur di atas biar aku yidur di bawah saja."


"Sofanya cukup lebar untuk kita tidur berdua. Aku akan memelukmu." ungkap Kenan.


"Tidak usah, Ken aku di bawah saja. Aku tak ingin kau tubuhmu tertimpa tubuhku pasti akan sakit jika bangun nanti." Fana tak seegois itu untuk membiarkan suaminya menderita.


"Jika seperti itu kau yang tidur di atas aku akan tidur di bawah." putus Kenan cepat.


Tak membutuhkan waktu lama Fana sudah terlelap dalam tidurnya.


"Sepertinya kau sangat lelah." Kenan mengusap lembut rambut istrinya dan membalutkan selimut di tubuh yang terbaring itu.


"Kakak, kakak ... " paggilan lemah yang berasal dari ranjang berbaring Shifa membuat atensi Fokus Kenan teralihkan.


"Ada apa?" Kenan menghampiri Shifa ke tempat pembaringannya.


"Aku ingin buang air kecil, tolong bangunkan kakakku!" Shifa meminta tolong.


"Fana baru saja tertidur jangan mengganggunya, aku akan membantumu."


"Aku juga akan mengganti pembalut."


Kenan sigap mengambil pembalut di atas nakas. "Aku akan mengantarmu sampai masuk ke kamar mandi, dan akan keluar dan akn menunggumu di depan pintu kamar mandi." Kenan mengambil selang inpus dan memapah adik iparnya turun dari brankar.

__ADS_1


Dengan hati-hati Kenan membawa adik iparnya memasuki toilet juga meletakan inpusan di sebelah Shifa.


"Aku akan keluar, panggil aku jika sudah selesai." Kenan benar-benar menunggui adik iparnya di luar kamar mandi.


Setelah selesai Shifa tak lantas memanggil Kenan, ia tercenung sejenak merenungi hidupnya, seandainya saja waktu itu ia menerima pinangan Kenan mungkin semuanya akan berbeda.


Tiba-tiba mata Shifa terasa perih ada rasa penyesalan yang besar dalam jiwanya.


Kenan membuka sedikit pintu kamar mandi yang tidak terkunci menciptakan celah hanya dua jari, bertujuan agar suaranya terdrngar oleh wanita di dalam.


"Shifa apakah sudah?" Kenan bertanya. Shifa buru-buru menghapus air matanya.


"Ya. Aku sudah selesai."


Kenan memasuki kembali kamar mandi dan membawa tubuh adik iparnya dalam gendongannya karna Shifa yang merasa kram di perutnya.


Shifa dapat mencium aroma tubuh suami kakak iparnya, seandainya saja Shifa yang menikahi pria yang telah menjadi kakak iparnya, Shifa tidak akan sungkan untuk menghirup tubuh kakak iparnya lebih dalam.


Kenan meletakan tubuh adik iparnya hati-hati di atas brankar.


Atensi Kenan tersita akan sebotol vitamin dan buah-buahan di atas nakas.


"Shifa, kau membeli Vitamin tanpa resep dokter, dan siapa yang membawa buah pear ini bukannya kau dangat tidak menyukai buah pear?" Kenan keheranan mengapa ada buah yan tidak di sukai Shifa mana satu keranjang lagi, tidak mungkin yang menjrngukkan mengingat tidak ada yang tau Shifa berada di sana selain ia dan Arven.


Shifa tertegun dengan pertanyaan Kenan, kakak iparnya itu ternyata mengetahui apa yang tidak di sukainya.


"Vitamin dan buah itu milik kak Fana, dokter Zi yang memberikannya." Jawab Shifa junur.


"Perhatian sekali dokter itu pada kakakmu."


"Dokter Zi, memang sangat perhatian dan pengertian pada kakak, aku yang sakit dia yang mendapat buah menyebalkan." Shifa mengerucutkan bibirnya.


Kenan tak menjawab ia lebih memilih menghampiri istrinya dan memperhatikan dalam-dalam wajah polosnya istrinya yang terlelap. "Mantra apa yang kau miliki sehingga banyak pria hebat yang menginginkanmu."

__ADS_1


__ADS_2