Terpaksa Menikahi Gadis Culun

Terpaksa Menikahi Gadis Culun
Batas tertinggi


__ADS_3

Kenan masih membungkam dengan kalimat yang Shafana ucapkan tadi, tidak bergeming dari tempatnya berdiri sejak tadi.


"Kau itu terlalu banyak berbicara Moza."


Setelah sekian banyaknya Fana mengeluarkan luapan emosi yan ada di dadanya Kenan malah menanggapinya seperti itu, santai sekali dia.


"Aku benar-benar lelah Ken." Ucap Fana frustasi.


"Itulah tujuanku, membuatmu lelah sendiri." Ya Tuhan adakah pria seperti Kenan di belahan dunia lain.


"Aku tidak ingin lelah sendiri, kita tetap harus mengakhiri ini."


"Kau tidak berhak memutuskan apapun"


"Aku tidak mau."


"Aku tidak bertanya pendapatmu, yang harus kau lakukan adalah menuruti setiap yang kukatakan dan jangan lakukan apapun yang tidak aku sukai."


"Kenapa kau selalu berlaku seenaknya?"


"Pergilah! jangan mengusikku kali ini aku sedang marah, jika kau tak ingin mendapat amukanku."

__ADS_1


"Kau mengusirku. "


"Moza, aku tidak suka mengulang kata-kataku."


Sepertinya Kenan memang tengah marah saat ini dapat di lihat dari diri pria itu beberapa kali menghembuskan nafas lelah.


Shafana pergi meninggal suaminya, ia membuka pintu yang menuju balcon, ia duduk diantara kursi yang berada di sana, membuka kacamatanya dan ia letakan di atas meja. Ia benamkan wajahnya di meja itu dengan kedua tangan yang sengaja ia lipat sebagai bantalan.


Kemana ia harus mengadu, ia tidak memiliki teman dekat sama sekali, Jessa teman juga sebagai bawahannya tak mungkin ia membenkan kan madalah pribadinya pada gadis itu, cukup hanya masalah pekerjaan saja ia melibatkan Jessa. Ia juga tidak memiliki keberanian untuk bercerita pada Shifa, adiknya yang tidak perduli serta acuh padanya membuatnya semakin metasa sendiri. Hanya ayahnya yang peduli padanya tapi ia tidak mungkin menceritakan masalah rumah tangganya pada sang ayah ia takut ayahnya malah berpikir yang tidak-tidak yang justru akan merusak kesehatanya.


Shafana merasa sudah tidak nyaman berada di rumah ini di saat pertama kali ia menginjakan kaki di sana.


.


.


Rambutnya yang di gerai menunjang penampilannya yang memukai. "Kalung ini sangat indah kau kenakan sayang." Lagi-lagi Fana hanya tersenyum menanggapi.


"Ma,"


"Mama."

__ADS_1


Kenan terpesona dengan penampilan istrinya.


"Ada apa Ken? "


Selalu saja kenan berteriak, ia akan selalu kesulitan saat mengancing kemejanya.


Mamanya tersenyum dan memanggil menantunya.


"Fana." Tanpa di minta Shafana mengerti apa yang harus ia lakukan-pun ia mendekatkan diri dan meraih lengan suaminya, sepatu yang Shafana kenakan kali ini sanhat tinggi, bahkan tingginya nyaris menyamai tinggi suaminya.


Kenan tak dapat melepas pandangan dari wanita di hadapannya, ia bisa menjamin kali ini Shafana lah yang akan menjadi bintang di acara itu. Mengapa bisa istri nya berubah sangat cantik ditangannya sendiri.


"Sudah." Shafana memundurkan tubuhnya saat selesai mengancingkan lengan baju suaminya, jika boleh jujur Kenan masih ingin berdekatan dengan istrinya itu.


"Ken, Fana sangat cantikkan?"


"Biasa aja Ma," Kali ini Kenan kembali berdusta.


"Ayo Mozaa, kita berangkat sekarang sebelum terlalu malam."


Keduanya berjalan beriringan menuju mobil meninggalkan Mamanya yang kini mengembangakan senyuman.

__ADS_1


Fana ingin sekali memiliki kemampuan melenyapkan diri. Ia merindukan seseorang dan ingin mengunjungi suatu tempat, tempat yang dimana menjadi pembatas tertinggi yaitu antara hidup dan kematian.


__ADS_2