
"Ken, bantu aku untuk ke kamar mandi."
Kenan yang masih menggerakan otot-ototnya yang kaku karna tertidur di lantai, seketika mengalihkan tatapannya pada adik iparnya. Matanya menyipit karna kantuk yang masih menyergapnya.
"Sebentar, aku akan bangunkan Fana." Kenan menggerakan lehernya kekiri dan ke kanan sampai menimbulkan bunyi kretekan.
"Kasian kak Fana masih tertidur, lebih baik kau saja yang membantuku kekamar mandi." Ungkap Shifa apa adanya, ia masih melihat Fana tertidur dengan menghadap ke sandaran sofa. Tidak tahu saja jika kakaknya sudah terjaga sedari tadi, tapi Fana memilih untuk terus berpura-pura tidur.
"Aku tak ingin mencari penyakit Shifa, aku tak bisa membayangkan saat membantumu nanti Fana terbangun dan dia salah paham, bisa-bisa aku tak di beri jatah enak-enak selama tujuh purnama." Kenan tertawa dengan ucapan sendiri. Sedangkan Fana terkikik geli tanpa suara, seperti ia saja pria itu mengatakannya. Padahal yang sebenarnya terjadi pasti Kenan akan memaksanya dengan berbagai cara.
Shifa sendiri menjadi tersipu, membayangkan tubuh kekar kakak iparnya saat meminta jatah sebagai suami, pasti nampak menggairahkan otak Shifa terlalu jauh berpikir.
"Tapi semalam kau membantuku. Bahkan kau menggendongku dari kamar mandi" ceplos Shifa, membuat Fana seketika melenyapkan tawanya.
"Aku semalam sudah bilang padamu. Aku bukan sepenuhnya membantumu, aku hanya kasihan pada istriku yang baru saja terlelap.
__ADS_1
Dan kau ingin membangunkanya. Jadi aku terpaksa membantumu ke kamar mandi." jelas Kenan panjang lebar.
"Jadi kau terpaksa membantuku." Wajah Shifa sudah memerah ia tersinggung karna perkataan pria yan masih meregangkan ototnya di atas lantai.
"Tentu saja. Kau pikir aku sangat baik begitu? Ridho dan iklas menolongmu. Tentu tidak Shifa, aku hanya mengkhawatirkan istriku yang kekurang istirahan, aku tak ingin Fana sakit dan kesulitan saat melayani gairahku." Kenan kembali tertawa ia merasa lucu dengan candaannya sendiri, terkutuklah Kenan yang selalu ingin membuat Shifa menyesal karna pernah menolaknya dulu. Ya Kenan memang sangat kekanakan.
"Astaga. Otak Kenan ternyata tak jauh-jauh dari surga dunia." Tapi Fana tercenung sejenak, ternyata Kenan hanya membutuhkan dirinya untuk memuaskan hasrattnya saja. Sepertinya Kenan memang tidak menyukainya. Bukannya srorang pria bisa bercinta meskipun tanpa cinta. Eh tunggu dulu bukannya seorang wanita juga begitu? Buktinya dirinya tidak mencintai Kenan tapi ia selalu terbawa suasana atas sentuhan suaminya. Jadi tidak masalah asal bukan suami orang saja.
Shifa tak mampu berkata-kata hatinya tertohok oleh setiap kalimat yang keluar dari mulut Kenan.
Fana pura-pura menggeliat dari tidurnya.
"Selamat pagi." ucapnya seserak mungkin.
Ya Tuhan seandainya saja bukan di rumah sakit Kenan sudah menerjang mulut lancang istrinya yang sudah berani berucap seksih secara terang teranga. Kalian pasti tau kan hormon testistoren seorang pria dewasa selalu meningkat di pagi hari. Kepala atas dan bawahku berdenyut bersamaan. Keluh Kenan dalam hati.
__ADS_1
"Fana adikmu ingin ke kamar mandi." Kenan langsung pergi setelah mengucapkan itu ia tak ingin terlalu lama bersama istrinya takut khilaf menyeret istrinya ke kamar mandi.
Di luar Kenan berpaspasan dengan ayah mertuanya yang sudah membawa sarapan.
"Ken mau kemana?"
"Tadinya aku akan mencari sarapan, sepertinya tidak jadi. Lebih baik aku membersihkan diri terlebih dahulu."
"Baiklah, setelah selesai segeralah kembali kita sarapan bersama." Ayah mertuanya menepuk pundak menantunya.
.
Saat Kenan kembali ke ruang rawat adik iparnya dalam keadaan rapih. Kenan celingukan karna tak mendapati istrinya.
"Fana kemana?"
__ADS_1
"Sedang mandi." Ayah mertuanya uang menjawab, sedangkan Shifa hanya membuang pandang. Kekesalan masih tercipta di wajah pucat itu. Terserah sungguh Kenan tak perduli jika Shifa marah.