
"Fana besok pagi aku ada urusan keluar kota dan mungkin aku akan menginap." Kenan beucap datar tanpa mengalihkan pandangan dari gawainya.
"Baiklah, aku akan menyiapkan keperluanmu. Apa saja yang ingin kau bawa?" Shafana kini beranjak dari tempat tidur mengambil sebuah koper dan membukanya.
"Cukup hanya pakaian untuk dua kali ganti, selebihnya aku yang akan menyiapkan sendiri."
"Kau akan kesana dengan siapa?"
"Tentu saja dengan Arven, mana mungkin aku kesana dengan Bibi Dora." (kepala pelayan) yang umurnya sudah memasuki kepala lima.
"Barang kali saja kau mau bulan madu dengannya." Fana malah menambahi.
Dari tempatnya duduk Kenan menyoroti istrinya yang tengah mengemasi pakaiannya.
Aih sejak kapan gadis itu memakai gaun tidur berbahan satin, sangat tipis sekali belahan dadanya juga rendah menampilkan isinya yang yaris tumpah keluar. Kenan menurunkan pandangan ke bawah wanita itu, panjang gaun itu tak lebih dari sebatas pahanya saja. Kulit seputih salju itu seakan menawarkan diri untuk di sentuh.
"Hah." Tiba-tiba Kenan menghembuskan nafas berat.
"Dari mana kau mendapatkan baju yang kau pakai?"
"Ini? Aku dapat dari Mama, Mama menyuruhku memakainya, jadi untuk menghargai pemberiannya aku memakainya. Lagi pula ini nyaman saat ku kenakan."
Polos sekali gadis ini, apa dia tidak menyadari bahwa di sana ada sosok predator yang sudah bangun dari mati surinya.
"Kau tidak risih memakai pakaian sependek dan setipis itu?"
"Tidak, aku sudah terbiasa, kadang-kadang aku mengenakan bikini saat aku aku tertidur."
Gerah itu yang Kenan rasakan, membayangkan tubuh indah itu hanya tertutup bikini.
'Ah apa Kenan tak nyaman saat melihatku memakai ini?' batinnya, Fana melirik tubuhnya sendiri, kemudian beranjak untuk mengganti pakaian tidurnya.
"Kau mau kemana?"
__ADS_1
"Mengganti pakaian, aku tak mau kau tak bisa tidur karna risih oleh pakaianku."
"Tidak usah kau tidurlah."
.
Sudah dua hari Kenan pergi, begitu pula dengan kedua mertuanya.
Shafana bergeming memandang gerak punggung Kenan yang kini berjalan menjauhinya menuju kearah lemari, ia menolak jika Shafana melayaninya bahkan untuk sekedar menyiapkan pakaian, entah mengapa tiba-tiba sikap pria itu kembali berubah saat kembali dari luar kota, tapi sudahlah bukankah ini keuntungan untukmya, ia bisa terbebas dari tugasnya sebagai istri yang selalu serba salah di hadapan pria itu.
Perhatian Fana tersita saat ekor matanya menangkap suara desisan kesakitan yang berasal dari pria itu, Fana tidak dapat melihat apa yang terjadi pada pria itu karna posisi Kenan yang memunggunginya, tapi Fana mencoba memandang apa yang terjadi.
"Tidak usah memandangku seperti itu." Lihatlah bahkan pria menyebalkan itu persis seperti seorang cenayang, yang mengetahui apa yang Fana lakukan tanpa menengok ke belakang atau jangan-jangan Kenan memiliki empat mata.
"Siapa yang memandangimu." Fana berdecih, "Kau terlalu percaya diri." lanjutnya kemudian.
"Awas kau, kau akan mendapat hukuman." Ucanya kental akan ancaman.
Tubuh Kenan perlahan masuk ke kamar mandi kemudian hilang di telan kayu persegi itu. Ia memikirnya nasibnya bagai mana jika Kenan benar benar akan menghukumnya saat pria itu selesai membersihkan diri.
Tak henti-hentinya Fana berjalan mondar mandir memikirkan kemungkinan yang ada.
"Kenapa dia lama sekali, apa dia sedang memikirkan hukuman apa yang akan dia berikan padaku? Apa karna Mama dan Papa tak ada dia berniai akan melenyapkanku malam ini?"
Shafana tidak bisa berhenti menduga-duga tentang apa yang akan di lakukan suaminya, karna suaminya itu pasti akan mengerjainya, sesekali Fana menempelkan kepala di depan pintu kamar mandi namun yang terdengar hanya suara gemercik air saja dari balik pintu.
"Apa ia sedang mengukur kamar mandi? Untuk memperkirakan tubuhku muat di kubur di sana, seperti di drama yang pernah ku tonton?" Fana menepuk keningnya sendiri kemudian merapatkan telinganya kembali.
"Dari tadi yang terdengar hanya suara air, apa jangan-jangan dia tengah melakukan..." Kali ini Fana memukul kepalanya lebih kencang mencoba menyadarkan otak kotornya yang semakin tercemar.
Lagi-lagi Fana menempelkan wajahnya di depan pintu, tanpa ia sadari ada pergerakan dari balik pintu, dan wajah itu sekarang menempel bukan di pintu lagi, melainkan di sebuah dada bidang yang di hiasi bulu-bulu halus yang membelai pipi Shafana, terdapat sisa-sisa air di sana yang menambah keseksian tubuh pria tampan itu.
Shafana belum menyadari jika kini ia sedang menempelkan wajahnya di dada seorang pria, bahkan ia ikut menempelkan tangan kirinya di dada itu.
__ADS_1
"Sedang apa kau?"
Shafana terjengkit ia kaget bukan kepalang, pertanyaannya sejak kapan ia menyentuh dada yang menggetarkan isi perutnya, Astaga ini sungguh memalukan.
"A-aku aku.. Maafkan aku!" Pukasnya gugup seraya menundukan pandang.
"Kau sedang mengintipku?"
"Tidak aku sama sekali tidak mengintipmu."
"Jangan berbohong, jika tidak untuk apa kau berada di depan pintu kamar mandi di saat aku tengah mandi."
"Aku tidak mengintip, rugi sekali jika aku mengintipmu dengan mata suciku, mataku di ciptakan tuhan dengan sangat indah, tak sudi aku mengintip tubuh jelekmu."
Sebisa mungkin Fana terlihat yakin akan ucapannya, ia menepis kenyataan bahwa tubuh Kenan benar-benar nyaris sempurna dengan lekukan yang pas terlihat kekar dan berotot, ia yakin setiap wanita akan dengan suka rela menyerahkan dirinya pada pria seperti Kenan hanya untuk hasrasnya saja, untuk memenuhi rahim wanita dengan cairan hangatnya, Shafana menekan nalurinya tidak tergoda dengan tubuh kekar itu.
"Jelek katamu, kau tahu? banyak wanita yang rela berebut untuk menikmati tubuh ini." Kenan semakin mendekatkan tubuhnya pada Shafana, wanita itu mau tak mau melangkah mundur.
"Jangan samakan aku dengan pelacurrmu."
"Jangan sok jual mahal di depanku, katakan bagian mana yang ingin kau lihat? Apakah ini?" Kenan meraih tangan istrinya dan menyentuhkannya pada dada bidangnya. "Atau yang ini?" Kenan bersiap intuk membuka handuk yang melilit di pinggangnya."
"Apa yang kau lakukan?" Fana mencekal tangan tangan Kenan yang siap membuka handuknya.
Kenan mendorong tubuh Shafana sampai terjungkal di atas ranjang, kemudian mengungkungnya.
Karna takut Fana mendorong kencang pinggangnya
"Aggrrrr." Kenan berteriak kesakitan.
Meskipun Shafana mendorong kencang tubuh Kenan, tapi tidak mungkin suaminya selemah itu, pria itu sampai berteriak kencang nyaris mengoyak telinga lalu apa yang terjadi. Kenan bangkit dengan tangan yang masih ia pergunakan untuk menetup pinggangnya.
Shafana sampai terkejut melihat darah berpindah ke tangan Kenan, bahkan handuk putih itu kini sebagian ternoda oleh darah yang berasal dari pinggang Kenan.
__ADS_1
"Kenan, Kau terluka?"
.