
"Kau mau apa?"
Kenan mendekatkan tubuhnya pada sosok istrinya sampai pinggang Fana membentur meja di ruangan itu, Fana tak bisa lagi memundurkan langkah tapi Kenan semakin mengikis jarak ia mencondongkan badannya ke depan intuk memerangkap tuubuh mungil istrinya.
Tubuh Fana melengkung ke belakang demi menghindari himpitan yang di lakukan pria itu.
Mata Kenan tak bisa melepas tatapannya dari istrinya, menelisik dengan tajam wajah panik wanita itu, sampai bahkan ia dapat menilai ketakutan serta wajah pucatnya. Mambuat orang yang di tatapnya merinding.
Ia mengamati kemana mata Fana mengarah, bahkan saat wanita itu bernapas mungkin juga Kenan sedang mengamatinya.
"Kita akan bercinta di tempat ini." Kenan ingin mengoda Fana dengan menyajaknya bercinta kemudian ia mempermalukannya.
"Aku tidak sudi bercinta dengan pria songong sepertimu, ingat ini dalam tempurungmu sampai saat ini kau bukan tipeku."
Kenan terkesiap dengan respon yang di tunjukan Shafana, untuk kesekian kalinya Ahafana menolaknya bahkan mengatainya.
"Kau menolak ku?"
"Kau itu masih muda tetapi sudah tuli, sayang sekali."
"Kau mengataiku tuli?"
"Ya kenapa memangnya? Kau juga selalu mengulang perkataanku, apa kau juga pikun."
"Perhatikan ucapanmu, Nona Moza aku ini suamimu."
kenan harus bertanya sekali lagi untuk memastikan jika yang di dengarnya tidak salah, bisa saja ia salah dengar bukan?
"Kau benar-benar menolak seorang Tuan muda Moses."
__ADS_1
"Ya aku menolakmu, Tuan muda Moses ataupun sebagai pewaris tahta Moses, aku tidak perduli dengar setatus atau gelar yang kau miliki." Entah jin dari mana yang merasuki diri Fana sampai ia berani berbicara seperti itu terhadap pria nekad di hadapannya.
Shafana mendorong dada bidang itu dengan jemarinya. Namun dengan cepat Kenan meraih pergelangan tangannya dan menggenggamnya sangat erat.
"Aku bertanya-tanya mengapa kau menolak Pria setampan dan sekaya aku."
"Tampan saja tidak cukup untuk membuatku tertarik."
"Apa pria idamanmu adalah pria cupu tadi siang."
"Siapa yang kau katakan cupu, apa kau tidak lihat ke keren apa Ziano tadi siang?."
Kesal tentu saja, Kenan merasa dirinya tengah di bandingkan, dan ia sangat tidak menyukai saat orang lain membandingkannya.
"Kau pikir siapa kau? Berani membandingkan aku dengan si Cupu itu."
Shafana ingin berteriak di wajah pria itu kata-katanya yang mana menurutnya yang membandingkan Kenan dengan Zi.
"jangan memandangku seperti bisa-bisa kacamatumu pecah."
"Jika pecah aku bisa membelinya kembali."
"Kau itu sok cantik sekali, aku hanya mengerjaimu saat mengajakku bercinta, sok jual mahal sekali dengan wajah burukmu, penampilanmu bahkan seperti karung beras. Sangat mengganggu sekali saat ku pandang."
Fana berhasil melepas himpitan itu, ia berjalan menjaih.
"Tidak ada yang menyuruhmu untuk memandangku. Lagi pula siapa yang melarangmu menutup mata, kau bisa menutup matamu jika merasa terganggu denganku."
Skak matt, Shafana selalu memiliki jawaban untuk setiap kata yang Kenan lontarkan.
__ADS_1
"Jika Mama menanyakan kita sudah makan malam di luar, katakan saja sudah." Kenan lebih memilih mengalihkan topik dan hendak melangkah pergi.
"Sebenarnya mau apa kita ke sini?"
"Beristirahat, aku ingin tidur, mustahil aku membawamu kemari untuk benar-benar bercinta, aku memiliki banyak uang, sangat baik cukup untuk membayar wanita yang cantik dan seksih tentunya tidak sepertimu."
Sedangkan Fana tidah fokus mendengarkan gerutuan Kenan, jika ia mendengar pria itu kembali menghinanya sudah di pastikan akan ada perdebatan kembali.
Shafana menelisik sekelilingnya, barang-barang yang berada di ruangan itu adalah kualitas terbaik mulai dari prabotan sampai hiasan-hiasan semuanya adalah barang mahal dengan daya jual tinggi.
Kenan menggebrak meja di belakang Shafana sampai ia terjengkit kaget. Entah sejak kapan Kenan kembali mengembalikan posisinya di hadapan pria itu.
Shafana bisa melihat leher Kenan sekarang, Aroma maskulin dari pria itu menguar menggelitik indra penciumannya, Rahang tegas tepat do bagian bawah dihiasi dengan jakunnya. Dada bidangnya seakan menegaskan keseksian pria sialan itu. Membuat Shafana merasa sesak nafas. Apalagi tatapannya yang dingin meneliti wajah Fana sampai keseluruhan membuat Shafana salah tingkah. Demi Dewa, tubuh Fana rasanya ingin meleleh dilantai. Apalagi saat ini tubuh Kenan semakin mencondong kearahnya, membuat Fana bisa merasakan nafas laki-laki itu hangat membelai kulit wajahnya. Semakin dekat dan intim. Kini ia seperti ikan yang bernafas di daratan, menggelepar, jika di biarkan terlalu lama bisa-bisa ia mati sekarang juga.
Lidah Shafana merasa kelu, ia lupa caranya berbicara bahkan ia lupa apa pertanyaan Kenan pada dirinya. Padahal pria yang berada di hadapannya seperti tengah menunggu sesuatu.
Tanpa kata Kenan pergi kekamarnya. Shafana yang merasa lelah kemudian menduduka bokonggnya di sebuah sofa yang ada di sana.
"Bena-benar mewah, berapa banyak uang yang di habiskan pria kejam itu demi membeli ini semua." Entah mengapa ia merasa sangat lelah dan membaringkan tubuhnya.
"Hey jangan tidur, aku mau pergi sebentar jadi kau harus ikut untuk membawa belanjaanku." Kenan datang dan langsung menarik tangannya sampai ia terduduk.
"Kau ingin berbelanja saja sendiri, kau sudah dewasa bukan lagi seorang balita yang harus ku temani saat bermain air."
"Ya karna aku sudah dewasa makanya aku tidak membiarkanmu di sini sendiri, bisa saja kau mencuri barang-barang mahalku. Atau merusaknya."
"Pikiranmu picik sekali, tidak perlu mencuri barang-barangmu jika aku ingin aku bisa membelinya sendiri. Kau pikir aku miskin." Fana selalu terpancing emosi jika berbicara dengan pria tukang fitnah ini,
"Seandainya saja Shifa tak melarikan diri mungkin ia tidak akan terjebak dengan pernikahan paksa ini.
__ADS_1
.