Terpaksa Menikahi Gadis Culun

Terpaksa Menikahi Gadis Culun
Surat gugatan


__ADS_3

"Ma-maksudku Tuan Kenan." ucapnya gugup menyadari tatapan semua orang.


"Fana kau disini?"


"Ya aku menunggumu."


"Rencananya nanti sore aku akan ke rumah Ayah."


"Sejak kapan kau menungguku disini?"


"Lebih dari satu jam yang lalu."


"Apa ..."


Kenan mengumpulkan seluruh karyawannya.


"Kenapa kalian menyuruh istriku menunggu di lobby kenapa tidak di biarkan masuk ke ruanganku." Kenan membentak.


Semua bungkam, dan tujuannya adalah dua oran resepsionisnya.

__ADS_1


Menyadari di tatap Atasannya dengan tajam, satu di antara dua resepsionis itu membuka suara.


"Kami tidak tau, jika Nona ini istri Bapak." ucapnya takut-takut.


"Sudahlah Ken, mereka tak salah mereka memang tidak tau." Fana menatap suaminya dengan tatapan tak terbaca.


"Kenapa kau tidak mengatakan pada mereka jika kau istriku? Agar mereka lebih menghargaimu." Kenan marah juga pada istrinya.


"Aku, tak ingin mempermalukanmu. Lagi pula mereka juga tak akan mempercayaiku." Fana tersenum masam ia membuang pandangan.


Fana benar ini salahnya salah Kenan sendiri, jika seandainya ia mengumumkan atam memperkenalkan istrinya di publik ini tidak akan terjadi.


Kenan meraih tangan Fana dan secara resmi Kenan memperkenalkan istrinya di kantornya kepada seluruh jabatan dan semua orang.


Disaat pernikahannya akan berakhir Kenan baru memberitahukan setatusnya, dan bagi Fana itu sia-sia saja.


Kenan langsung memelik tubuh istrinya dan menghirup dalam-dalam aroma yang ia rindukan.


Fana melepas pelukannya, ia risih di peluk seperti itu. "Kau semakin cantik, tapi wajahmu pucat. Kau sakit?" Kenan mengangkat dagu istrinya.

__ADS_1


"Ada hal penting ken yang mau aku berikan padamu kau pasti akan senang." Fana tersenyum.


"Apa itu?" Kenan ikut berbunga-bunga saat melihat senyum di wajah istrinya.


Fana meraih sesuatu di dalam tasnya, dan saat mata Kenan berhasil menangkap tanda pengadilan di amplop itu, jantungnya terasa di renggut paksa.


"Fana jangan bercanda." Kenan berdiri dari duduknya ia terkejut bukan main. Bukankah dua hari yang lalu Fana mengatakan akan mempertimbangkan keputusannya, kenapa sekarah malah ada surat gugatan cerai itu di tangan istrinya.


Arven, atau siapapun sadarkan Fana jika kepusan itu salah. Kenan menatap surat itu dengan kilatan penuh amarah.


"Kenapa kau keras kepala sekali Fana? Aku sudah memohon maaf tapi kau malah berbuat sekejam itu padaku." Kenan membentak istrinya, bahkan merasa barang-barang di sana terasa bergetar oleh bentakan Kenan.


Jika saja ruangan itu tidak kedap suara mungkin semua orang akan mendatangi mereka.


"Kau bilang aku boleh menghukum sebanyak yang ku mau bukan, sebesar yang ku inginkan. Dan inilah mau dan keinginanku berpisah denganmu." Ketenangan Fana membuat Kenan iri. Siapa yang mengajari Fana ilmu setenang itu, Kenan ingin berguru padanya.


"Kau tidak berhak memutuskan hubungan denganku, jika aku bisa memaksamu untuk memulai hubungan denganku. Aku juga bisa memaksamu untuk tetap bertahan denganku. Aku tidak perduli apapun Fana." Kenan nampak menggebu-gebu nafasnya sudah memburu.


"Kita tidak bisa terus bersama. Kita hanya saling menyakiti. Lebih tepatnya aku yang selalu kau sakiti." Fana malah meregangkan otot jemarinya yang terasa kaku, karna memegang surat gugatan cerai yang tak kunjung Kenan ambil padahal ia sudah mengulurkannya sedari tadi. Akhirnya Fana menaruhnya di atas meja di hadapannya.

__ADS_1


Kenan mengepalkan genggaman tangannya, giginya juga kini saling beradu. Ia sangat marah atas surat gugatan yang di bawa istrinya.


"Beraninya kau!"


__ADS_2