
"Kenan."
Wanita itu reflek membungkam mulutnya. Sedangkan Kenan dan Fana serempak melihat ke arah pintu.
"Olivia." lirih Kenan, tapi ia masih bersikap tenang bahkan Kenan mengusap bibir bawah Fana menggunakan ibu jarinya, seakan menegaskan jika mereka barusaja mengakhiri ciuman panas, terlihat dari bibir keduanya yang membengkak kemerahan.
"Siapa kau?" Fana menatap sengit wanita yang berdiri di ambang pintu, wajahnya merah padam, bukaan kartna marah melainkan karna rasa malu yang mendominasi, bagai mana bisa ada orasng lain yang masuk dengan lancang di saat ia dan suaminya berbuat mesum. Bagai mana jika bukan hanya ciuman yang mereka lakukan. Fana tidak bisa membayangkan saat ia sedang menyenangkan suaminya mengunakan mulutnya, ya tadi Kenan memintanya untuk menyesapp milik pria itu. Beruntung Fana beluhhhm melakukannya, sungguh ia tak rela jika milik suaminya di lihat orang lain selain dirinya meskipun ia tidak tau apa alasannya.
"Harusnya aku yang bertanya padamu, apa yang kau lakukan dengan kekasihku?" teriak Olive murka.
"Ke-kekasihmu.?"
"Ya dasar, wanita murahan."
"Perhatikan kalimatmu Olivia!" Kenan buka suara.
__ADS_1
"Kenapa Ken? Kau ingin melakukan pembelaan pada wanita penggoda itu." Tuding Olive menggebu.
"Siapa yang kau katakan murahan? Nona."
"Tentu saja dirimu. Mau di sebut apa kau selain murahan, seenaknya kau berciuman dengan kekasihku. Kenan itu kekasihku selama empat tahun. Bayangkan saja apa yang telah kami lakukan selama empat tahun berhubungan." ucap Olivia penuh penekanan.
"Hubungan kita sudah berakhir dua tahun lalu, berhenti memaki istriku."
Ada rasa hangat dalam hati Fana saat Kenan mengakuinya sebagai seorang istri di hadapan oran lain. Ini adalah pertama kalinya Kenan mengatakan Fana istrinya tampa keraguan sedikitpun. Hey bolehkah Fana merasa bangga detik ini.
"Itu karna mereka tidak mengetahui pernikahanku, karna aku merahasiahkannya.
"Ck, kau sedang menciptakan kebohongan hanya untuk membuatku cemburu bukan, aku bahkan mengingat kau selalu mengucapkan kau mencintaiku tiga kali dalam sehari." ucap Olive.
"Ish, alay sekali, menggelikan tiga kali sehari seperti minum obat saja." Cibir Fana.
__ADS_1
Kedua orang di sana langsung menatap tajam Shafana.
"Kenapa kalian menandangku seperti itu?"
"Katakan berapa Kenan membayarmu, aku akan membayar tiga kali lipat dari upahmu." Olive mulai mengeluarkan Cek dari dalam tasnya, lengkap dengan satu buah pena. "Tulis berapapun yang kau inginkan lalu tinggalkan kekasihku." Olive meletakan Cek beserta penanya di tangan Shafana.
"Hah ... Apa-apaan maksudnya ini?" Fana masih linglung entalah kali ini ia tidak bisa berpikir, tiba-tiba saja otak cantiknya terasa kosong.
"Kau berniat membeli seorang pria dari istrinya sendiri." tanya Fana dengan polos. Jika di luar sana seorang istri sah akan mengamuk saat prianya di datangi wanita lain, beda halnya dengan Fana ia merasa biasa saja karna memang sejak awal cintanya belum tumbuh pada suaminya.
"Kenan milikku. Hanya milikku, Kenan berjanji akan menikahiku."
Ini adalah waktu yang tepat untuknya membebaskan diri dari jerat Kenan. Pikir Fana.
"Oh begitu rupanya, syukurlah. Kau tidak usah membayarku, dengan senang hati aku akan melepaskan pria mesum, penindas, dan manulatif itu. Nona jangan lupa urus surat ceraiku." Fana meraih kacamatanya di atas nakas dan akan segera berlalu, tapi sebelum ia menggapai pintu, tubuh rampingnya sudah di dekap Kenan.
__ADS_1
"Mau kemana kau? Beraninya kau menumbalkan diriku. Lihat saja aku takan mengampunimu." Ancaman Kenan sungguh-sungguh.