Terpaksa Menikahi Gadis Culun

Terpaksa Menikahi Gadis Culun
Kenan muak


__ADS_3

Fana segera membersihkan diri terlebih dahulu, sedangkan Kenan lebih memilih membersihkan dirinya nanti saja setelah sampai di kantornya.


Kenan ikut menyusul di mana Shifa di rawat, pria itu menghampiri adik iparnya yang tengah terbaring dengan selang inpus di tangan kanannya.


"Bagaimana kondisimu? Apa sudah lebih baik?" Kenan bertanya pada adik iparnya.


"Sekujur tubuhku terasa sakit Ken, juga pengliatanku terasa buram, pusing di kepalaku juga belum menghilang." Shifa memaparkan apa yang di rasanya.


"Tenang saja sebentar lagi kau akan pulih." Kenan mengelus rambut adik iparnya.


"Sayang kau makan ya!" Ayah Randy berbicara sangat lembut, pria tua itu juga tak memarahi atau menyinggung Shifa mengenai tindakan anaknya, ia tak ingin membuat Shifa menjadi tertekan ataupun hal lainnya, yang tengah Rendy lakukan adalah mengayomi juga tetap mendukung apapun yang menjadi keputusan putrinya.


"Aku ingin di suapi Kenan." lirih Shifa lemah.


"Ken. Tolong suapi Shifa ya!"


Kenan yang enggan melakukannya tapi ia juga tak tega jika harus menolak.


Sepertinya Fana juga masih lama di kamar mandi jadi Kenan meraih bubur encer dalam mangkuk di atas nakas yang entah sejak kapan sudah berada di sana, kenan tidak tau dan malas untuk bertanya.

__ADS_1


Ayah mertuanya pindah tempat duduk ke arah Sofa setelah membantu Shifa untuk sedikit duduk bersandar, pria tua itu mempersilahkan Kenan duduk di samping pembaringan sang putri bungsunya.


Kenan menyuapkan bubur itu ke mulut adik iparnya.


"Ken, panas." Shifa mengaduh saat makanan mendarat di mulutnya.


Entah memang beneran panas atau hanya hangat saja Kenan tidak tau, tapi yang Kenan ketahui orang sakit memang sangat sensitif.


Kenanpun menghela nafas dan meniup lebih dulu bubur itu sebelum ia masukan ke mulut adik iparnya. Meskipun ini bukan kali pertama Kenan menyuapi seorang wanita tapi ia di buat risih dengan status antara mereka.


Kenan melakukan itu sampai beberapa kali.


Ceklek (pintu kamar mandi terbuka), tapi sepertinya ketiga orang di ruangan itu tidak menyadarinya. Mereka terlalu sibuk dengan aktifitas msing-masing, juga Ayah Rendy yang tengah menelpon seseorang terlihat sangat serius.


Sial, memang. Yang pertama kali menyadari kehadirannya malah adiknya sendiri.


"Kak. Aku pinjem Kenan sebentar untuk menyuapiku." Shifa meminta ijin. Tapi Fana malah menganggap itu sebagai ajang pamer jika Kenan bersedia melakukan apapun jika di belakangnya, tercela bukan pikiran Fana. Tapi wajar saja sih mengingat wanita selalu menyimpulkan sendiri apa yang dilihatnya. Dan kenapa pula adiknya makan harus di suapi Kenan?


"Tanganku masih lemas untuk menyuap makanan, lagi pula tangan kananku terdapat selan inpus jadi susah bergerak." Shifa segera memberi alasan, ia sedikit tidak nyaman saat kakaknya menyoroti dirinya dan Kenan bergantian di balik kaca mata yang Fana kenakan.

__ADS_1


Kenan hanya diam di tempatnya, ia masih kesal lantaran Fana menirukan gayanya berbicara.


"Apa tangan Ayah juga lemas, atau terdapat inpus juga." Pertanyaan yang tenang berlawanan dengan kekesalan yang merambati dadanya.


Ayah Rendy mendengar ucapan Fana yang seakan menyudutkan Shifa. Tak ingin kedua anaknya kembali berdebat akhirnya ia bersuara.


"Tadi Ayah sedang mengangkat telepon di saat Shifa minta makan." Bohong sekali pria tua itu, jelas-jelas pria tua itu yang meminta tolong pada Kenan untuk menyuapi putrinya, Kenan menatap mertuanya dengan tajam, bahkan Kenan bertanya-tanya benarkan Fana juga anak mertuanya, lalu menhapa keduanya di perlakukan berbeda.


"Wah, kau pengertian sekali Ken." Tunggu dulu ini pujian atau sindiran kenapa yang terlihat di bibir Fana hanya senyum sinis.


Fana tak ingin betbicara lagi. Salah-salah ia malah tak dapat mehan diri untuk memaki Shifa, dan akan kembali di salahkan oleh ayahnya. Sungguh menjadi seorang kakak adalah ujian hidup terberatnya selama lebih dari dua puluh lima tahun.


Fana membawa pakaian kotor serta tas dan ponsel di atas meja dekat sang Ayah.


"Aku pamit, ada urusan."


Fana buru-buru pergi dari sana, sebenarnya Fana free hari ini tapi karna moodnya sudah rusak akhirnya ia akan memilih menyibukan diri, sebenarnya Fana kesal pada dirinya srndiri yang terlalu gampang baper. Tau lah ya istilah baper itu apa, jika tidak aku kasih tau ya. Baper itu singkatan dari bawa perasaan.


Melihat istrinya pergi Kenan menyusul beranjak dari duduknya, Kenan menaruh asal mangkuk sampai menimbulkan bunyi. Niat hati mendiamkan Fana malah ambyar sepertinya Fana marah kali ini.

__ADS_1


"Ken aku belum selesai makan! Aku lemas jika harus menyuap dari sendok sendiri." Terdengar manja memang. Dan Kenan mulai muak.


"Jika kau lemas menyuap dengan sendok, lebih baik kau telan sekalian dengan mangkuk-mangkuknya supaya lekas kenyang." Kenan pergi tanpa memperdulikan teguran Ayah mertuanya.


__ADS_2