
Kenan meraih tissue di atas nakas, ia berniat membersihkan sisa-sisa percintaannya di tempat di mana ia menumpahkan benihnya.
Keduanya terlentang dalam keadaan nafas memburu. Senyuman puas tersungging di bibir Kenan. Jiwanya tenang raganya senang ia merasa tenang karna kebutuhan biologisnya terpenuhi setelah beberapa hari terpenuhi.
Kenan menatap langit-langit kamar dengan hati yang damai, ia menarik tubuh istrinya ke pelukannya.
Fana mendongak menatap wajah suaminya yang berseri-seri "Ken."
"Hm."
"Tadi banyak sekali." celetuk Fana polos.
"Apanya?" Kenan pura-pura tak tau.
"Itu."
"Apa?"
"Ish, tentu saja calon anak-anakmu."
"Hahaha." Kenan tergelak kencang saat istrinya mengatakan benihnya sebagai calon anaknya. Sekuat mungkin Kenan meredakan tawanya.
"Tentu saja banyak. Aku sudah beberapa hari tidak mengeluarkanya. Makanya tadi aku keluar banyak." Kenan tersenyum mesum.
"Ken, oh begitu."
"Lalu katamu, saat ingin menyentuhku kau bilang sudah lebih dari dua tahun, tidak menyentuh seorang wanita tapi kenapa tidak keluar satu gayung. Ken."
__ADS_1
"Apanya yang satu gayung?"
"Air kenikmatan mu."
"Astaga, konsepnya bukan seperti itu. Dari mana kau mendapat pemikiran ajaib itu?"
"Aku sedikit menghitung Ken, jika beberapa hari kau tidak keluar dan saat keluar sebanyak tadi, ku pikir jika dua tahun akan lebih banyak berkali-kali lipat."
"Kau mengalikannya Fana?"
"Hm."
"Ya, Tuhan. Bukan seperti itu. Kau pikir jika seorang pria tidak mengeluarkan spermaa beberapa waktu maka air nya akan terkumpul begitu. Tidak Fana, tidak seperti itu, airnya akan terserap kembali ke tubuh orangnya." jelas Kenan.
"Oh, aku baru tau Ken." Fana menganguk-nganggukan kepalanya.
"Sia-sia saja kau memiliki teman dekat seorang dokter." cibir Kenan kembali.
"Ziano temanku, bukan suamiku. Jadi aku tidak berani bertanya hal se intim itu pada seorang teman." Fana mencebik kesal. Saking kesalnya ia melepas pelukannya dan tidur membelakangi suaminya. Baru beberapa saat saja Fana sudah pindah ke alam mimpi.
"Ya Tuhan, cepat sekali dia terlelap." Kenan melirik istrinya yang sudah terlelap kemudian mengecup punggung telanjang istrinya. Kenan juga membenahi selimut untuk menutup tubuh telanjang istrinya.
"Sepertinya, kau menyukai obrolan sebelum tidur."
Kenan melirik jam di dindingnya, jarumnya menunjukan pukul sembilan malam.
"Ternyata masih sore."
__ADS_1
Kenan merasa lapar, ia lupa bahwa belum makan, ia beranjak dari tidurnya, memungut pakaian yang tergeletak. Tujuannya adalah kamar mandi, ia butuh untuk membersihkan tubuh.
.
Saat menuruni tangga Kenan melihat orang tuanya tengah berbincang dengan mertua serta adik iparnya.
"Ma, Pa, kapan kalian datang?" Kenan memeluk orang tuanya bergantian.
"Baru sekitar satu jam yang lalu Ken." ucap sang Papa.
"Kenapa tidak memanggilku? Aku merindukan kalian." Kenan menecup kening Mamanya.
"Kau yakin ingin di panggil? Mama tau kau tengah bersenang-senang." Mama Lily berbisik di telinga putranya, membuat wajah Kenan seketika memerah seperti seperti bunga mawar merah yang merekah, dan merambat sampai ke kuping serta lehernya.
"Mama sangat pengertian." Kenan tersenyum canggung saat kedua pria beda generani menatap nya bersamaan.
"Apa?" Kilahnya lagi.
"Kau keramas malam-malam, Ken?" Papanya nyeletuk tanpa aling-aling seakan menjelaskan jika Kenan baru saja selesai bertindak mesum.
"Ya, Pah aku gerah." Kelakar Kenan berdusta. Rambut hitamnya masih meneteskan air, karna dia buru-buru turun, ia sudah sangat lapar jadi tidak sempat mengering rambut.
"Bagaimana kau tidak gerah jika selesai baru selesai olah raga malam." Mertuanya seakan meruntuhkan alasan yang Kenan buat, kan Kenan sudah pernah mengatakan jika pria tua itu menyebalkan dan sepertinya akan menjadi sejarah jika Kenan memusuhi mertuanya sendiri.
"Memang apa masalahmu? Aku meniduri istriku sendiri bukan istri tetangga." Kenan benar-benar gambaran menantu kurang akhlak, pria itu malah membenarkan ucapan mertuanya.
"Ken," Mama Lily menegur, Kenan putranya terlihat tak menyukai mertuanya.
__ADS_1
"Mama, tidak usah membelanya. Aku kesal padanya semakin ke sini besanmu semakin tidak menyukaiku." Kenan mengatakan kekesalannya bahkan ingin sekali Kenan mengatakan jika Ayah mertuanya membandingkan dirinya dengan pria yang menyukai Fana.