Terpaksa Menikahi Gadis Culun

Terpaksa Menikahi Gadis Culun
Benda apa tadi?


__ADS_3

Seharian Shafana benar-benar berada di dalam kamar bahkan makanannyapun si antarkan oleh pelayan.


Saat sore menjelang Mama Lily mendatangi kamar menantunya, karna seharian tidak menampakan diri, anehnya Mama Lily merasa senang saat putranya mengatakan jika Shafana tidak enak badan, bukannya ini bisa menjadi tanda jika sebentar lagi ia akan menjadi seorang nenek.


"Sayang, bagaimana apa kau sudah merasa mendingan? Apa kau merasa mual? Atau inhin memakan sesuatu?" baru pintu terbuka Mamanya sudah memberondong Fana dengan petrtanyaan.


"Ya Ma, Fana sudah mendingan, aku tidak mual sama sekali tadi aku hanya kelelahan." Ia menutupi jika sesungguhnya Kenan melarangnya kelur kamar sebelum ia kembali.


Shafana tersenyum tipis untuk menanggapi ucapan mertuanya, Ia bisa melihat binar penuh harap di wajah mertuanya itu.


"Habiskan buahnya, setelah itu Istirahatlah Mama keluar dulu." Mama Lily meletakkan sepiring besar di atas pangkuan Fana, buah segar yang sudah di potong-potong, Macam-macam buah ada di sana.


Kenan pulang pukul empat sore, pas masuk kedalam rumah Kenan berpapasan dengan Mamanya yang sedang bersantai sambil minum teh.

__ADS_1


"Ma." Kenan menyalami tangan ibunya dan mengecup pipinya.


"Kau sudah pulang?"


"Ya Ma, Oh ya apa Fana turun?"


"Tidak, Ken. Tapi barusan Mama abis dari atas mengantarkan buah potong dan..." Belum sempat Mamanya menyelesaikan ucapannya Kenan sudah pergi menuju kamarnya.


Kenan tidak tahan lagi, persetan dengan gengsi gan ego yang dirinya jungjung tinggi selama ini, ia sungguh tertarik untuk mencicipi bibir itu, Kenan sampai bertanya-tanya seperti apa rasa bibir merekah itu, entah untuk berapa lama Kenan menatap penuh minat bibir itu, secara perlahan Kenan mendekatkan wajahnya hidung mereka sampai bersinggungan, Shafana seakan tersihir, hati dan pikirannya menolak akan tindakan suaminya tapi tubuhnya bereaksi lain ia sampai-sampai menutup kedua matanya seakan menantikan hal selanjutnya, aneh tapi inilah kenyataannya ia pasrah dan terkesan menikmati tindakan itu.


Bibir kenan mendarat dengan sempurna di atas bibir wanitanya, awalnya hanya diam saja, Kenan menikmati sensasi yang berbeda dari rasa bibir itu, setroberi itulah yang ia yakini. Perlahan tapi pasti Kenan mulai menggerakan bibirnya menyesapp dan ******* yang ia bisa, Shafana hanya mematung dengan mata terpejam menikmati rasa yang sulit untuk di perjelas, Shafana sampai menahan nafasnya beberapa saat.


"Bernafaslah, kau bisa mati saat menahan nafas seperti itu." Kenan memberi jarak bibir keduanya saat ia mengatakan hal memalukan itu, tidak jauh, jaraknya hanya satu senti saja bahkan bibirnya masih bersengolan dengan bibir lawannya saat ia berbicara. Kenan tersenyum samar saat wanitanya membuka mata.

__ADS_1


Ciuman itu kembali Kenan lanjutkan kali ini lebih panas menggebu, kesal karna istrinya masih mengatupkan mulut Kenan berinisiatif menggigit bibir istrinya."Awww" bibir itu sedikit terbuka tak menyianyiakan kesempatan Kenan segera menelusupkan lidahnya pada mulut Fana, hangat dan lembut, Kenan mengulum, melummat serta menggigit kecil bibir itu, setelah dua tahun lamanya kenan merasa jiwa laki-lakinya seakan siuman dari tidur panjangnya.


Tangan nakal Kenan kini ikut berulah, tangan yang tadinya hanya merangkum tengkuk Fana sekarang mulai turun membelai dada wanita itu, ia meremassnya dengan pelan. "Emhh". Lenguhan itu lolos begitu saja dari bibir istrinya.


Jujur saja ini kali pertama Shafana mendapatkan sentuhan lebih jauh dari seorang pria, dan pria itu adalah suaminya sendiri, ia tidak memiliki kekuatan dan hak untuk menolak. Seandainya saja tubuhnya tidak tertahan tubuh kekar di hadapannya, bisa saja Fana meluruh ke lantai karna merasa lemas. Ia juga merasakan ada benda tumpul yang kini menusuk-nuduk perutnya.


Karna panik dengan tindakan Kenan yang semakin jauh, tangan Fana meraba-raba dinding yang justu malah menekan tombol Shower. Tepat berada di atas keduanya air terjun mengucur begitu saja membasahi keduanya.


Air itu menyadarkan Kenan "Mandilah." Lalu ia pergi dari sana begitu saja, meninggalkan Fana yang mematung dengan banyak pertanyaan.


"Benda apa tadi? Mungkinkah?"


.

__ADS_1


__ADS_2