Terpaksa Menikahi Gadis Culun

Terpaksa Menikahi Gadis Culun
Tak ingin mempermalukanmu


__ADS_3

Kenan kembali menghampiri Dimi.


"Kakak, kau berhutang penjelasan padaku." Dimi terdengar merajuk,


Akhirnya Kenan menceritakan semuanya, awal dimana ia harus menikah juga dengan alasan ia merahasiahkan pernikahannya. Kenan benar-benar menceritakan semuanya sama halnya saat Kenan menceritakan kepada ketiga sahabat prianya. Kenan melupakan jika ini adalah rahasia, bisa jadi ini adalah bumerang untuk dirinya sendiri.


"Tapi itu dulu Dimi, sekarang aku tak akan melepas istriku bagai manapun keadaannya. Hanya dia yang memahamiku." Terang Kenan.


"Aku juga memahami kakaka." bela Dimi.


"Ya, beda. Kau memahamiku dari segi teman dan adik sedangkan Fana adalah istriku, dia memahami luar dan dalamku." Papar Kenan lagi


"Jika aku istrimu aku juga memahamimu kak." Dimi srlalu memiliki jawaban.


"Hahaha ..." Kenan tertawa. "Aku tak berniat memiliki dua istri, satu saja aku sudah di buat pusing apa lagi jika dua. Kau itu ada-ada saja." Kenan menggelengkan kepalanya.


"Jika begitu ceraikan istrimu, dan menikahlah denganku."


Kenan menoyor kepala teman kecilnya. "Kau ini semakin besar, malah semakin banyak membual." Kenan menanggapi ucapan Dimi sebagai candaan.


"Sudah sore pulang lah. Aku ingin tidur, kau boleh bekerja mulai besok." ujar Kenan.


"Antar. Aku sudah lama tak jalan kaki sama kakak." ucapnya manja.


"Ayo." Kenan meraih tangan temannya.


Dimi memeluk lengan tanga Kenan seperti dulu sewaktu ia masih kecil hingga ia beranjak remaja. Bahkan sesekali Kenan mengacak rambut gadis itu, yang mana tidak pernah lakukan pada Fana istrinya.

__ADS_1


Dimi menyadari jika Fana mengintipnya dan Kenan di balik jendela. "Bukan salahku jika aku ingin mengambil milikku kembali, salahkan dirimu sendiri karna menikahi priaku." Batin Dimi berceloteh.


.


Kenan kembali ke kamarnya, ia melihat istrinya tertidur meringkuk di atas ranjang. Terdapat sisa-sisa air mata di ujung matanya.


"Apa dia selesai menangis." pikir Kenan seraya mengusap air matanya.


Fana terlihat lebih diam saat makan malam. Ia fokus dan menunduk menatap makan di piringnya.


"Besok pagi Papa dan Mama harus kembali pergi ke luar kota." ucap Mamanya memberitau.


"Mama harap saat kembali nanti sudah ada kabar baik." lanjutnya kemudian.


Fana hanya tersenum sedikit tanpa menyauti ucapan mertuanya.


"Mama, jangan berkata begitu jangan sampai Fana tertekan." Bela Kenan yang justru di anggap lain oleh Fana.


.


Kenan menggerutu, kenapa Papa dan Mamanya menjadi kompak tida menyukai kedakatan antara ia dan Dimi.


Fana mendiamkannya bahkan saat ia memasuki kamar Fana memili pergi kemar mandi. Ponsel Fana bergetar di layar terdapat nama Ziano pria itu menanyakan kabar Fana dan mengajaknya untuk bertemu.


"Fana kenapa kau diam saja dari tadi." Kenan kecal karna di acuhkan, bukankah Kenan sering mengatakan pada Fana jika ia sangat tidak menyukai di diamkan.


"Memangnya aku harus berbicara apa padamu. Aku tak ingin membuatmu marah lagi." ungkap Fana jujur.

__ADS_1


"Oh ya, Miranda akan menikah bulan depan. Dia mengundangmu." terang Fanap


"Miranda mana?"


"Miranda teman sekolahmu. Memangnya kau mengenal berapa Miranda." Fana mencebik.


"Kau juga di undang?"


"Tidak, untuk apa aku di undang aku bukan temannya, lagi pula aku tak memiliki teman sekolah selain Ziano." Fana tersenyum miris.


Ada perih di hati Kenan, melihat senyum yang ada di bibir istrinya. Benar apa yang di katakan Fana, istrinya itu tidak memiliki teman selain Ziano, baik itu teman pria ataupun teman wanita.


"Lalu dari mana kau tau?"


"Shifa dan Eldy yang bilang padaku. Eldy menitipkan pesan padaku untuk menyampaikan jika kau di undang, katanya ponselmu tak aktif, Eldy bilang bila aku bertemu denganmu."


"Eldy bilang begitu?" tanya Kenan. "Eldy tak mengatakan apapun tentang kau atau aku." lanjutnya lagi.


"Tidak, lagi pula kau mengharapkan Eldy mengatakan apa?" Fana mengecek ponselnya.


"Nanti kita pergi sama-sama ya?" ajak Kenan. Pria itu mengalihkan pembahasan.


"Aku tidak mau."


"Kenapa?"


"Aku tak ingin mempermalukanmu."

__ADS_1


Deg,


Entah ada senjata apa yang tiba-tiba menikam Kenan, sehingga dadanya terasa sakit. Bukan belati bukan pula senjata api tapi ia merasa terluka.


__ADS_2