Terpaksa Menikahi Gadis Culun

Terpaksa Menikahi Gadis Culun
Cengkraman


__ADS_3

Kenan bisa bernapas dengan lega saat ia sampai di rumah Mamanya sudah tertidur bisa di pastikan saat menggendong Fana memasuki rumah tidak ada siapapun kecuali beberapa pelayan yang masih berkeliaran.


"Tubuhnya mungil tapi si Culun ini lumayan berat."


Kenan langsung masuk kedalam kamarnya dan merebahkan tubuh istrinya di ranjang, di susul dengan dirinya yang ikut berbaring di sisi kosong di samping istrinya.


"Sebenarnya wajahmu tidak terlalu buruk jika di perhatikan." Kenan memusatkan pandangan je bibir Shafana, ibu jarinya terulur mengusap bibir sensual itu sampai menampakan belahannya, kenyal dan lembut yang Kenan rasakan. Cukup jarinya saja yang menyentuh bibir Fana malam ini, jika bibirnya ikut mencoba menepi di sana, Kenan tidak yakin ia bisa menahan diri.

__ADS_1


.


Kenan terbangun lebih dulu, dan setelah Kenan rapi, Shafana baru mengerjapkan kedua matanya. Ia nampak linglung tetakhir ia mengingat semalam berada di atas mobil bersama Kenan, lalu sekarang ia berada di tempat tidur, mungkin saja Shafana semalam berjalan menuju tempat tidur sendiri namun tidak dapat mengingatnya, mustahilkan jika Kenan yang menggendongnya.


Kenan harus memastikan istrinya tidak keluar kamar sampai ia kembali, ia hawatir akan keselamatannya sendiri jika Fana sampai mengadukan kejadian semalam pada Mamanya.


"Jangankan kedua tanganku, kau boleh mengambil nyawaku jika itu yang membuatmu lega." Fana menatap kosong seduatu di hadapannya. "Akan lebih bagus jika kau membunuhku sekarang, jika kau berniat melenyapkanku sekarang, dengan senang hati aku menerimanya." Perkataan Shafana selalu saja membuat Kenan tak menduga. Kenan mengerutkan kening. Kemudian melangkahkan kaki mendekati Fana, sampai wanita itu ikut mundur dari duduknya untuk menghindari wajah Kenan yang mendekat dan punggungnya terperangkap hedbad tempai tidur yang berwarna abu itu. Wajah Shafana pias seketika meneliti Kenan, wajahnya menakutkan dengan mata memincing penuh peringatan.

__ADS_1


"Apa kau sudah bosan hidup?" Kenan menggebrak nakas yang ada di samping tempat tidur, sampai Shafana sedikit terjengkit saking terkejutnya.


"Ya aku sudah bosan dan lelah!" Kata Fana dengan bergetar di tenggorokannya. Bibir Kenan terkatup rapat, saat melihat sorot sendu yang tersemat penderitaan di manik coklat wanita itu. "Aku sudah lelah menjalani hidupku, aku hanya hidup untuk menjadi badut yang menghibur orang-orang di sekitarku, jika sekarang aku masih hidup itu semata karna Shifa dan ayahku." Shafana menghembuskan nafas ke udara, mencoba mengerjapkan matanya yang nyaris basah. "Jika kau ingin menghabisiku sekarang tidak masalah, mungkin mereka tidak terlalu menghawatirkanku karna aku mati di luar rumah." Shafana tersenyum getir bahu dan punggung yang tadinya menegang kini mulai melemas. "Sungguh jika boleh aku memilih srbelumnya, aku lebih baik memilih mati dari pada harus menikah denganmu, hanya wanita gila yang mau menikah dengan pria sepertimu!" Shafana memalingkan wajah. Kenan cukup terkejut dengan keberanian wanita culun itu, sebelumnya, belum pernah ada yang berani berbicara sekasar Shafana pada dirinya.


Tangan Kenan kemudian dengan tangkas menarik rahang gadis itu mendongakan wajahnya agar menatap dirinya. Kini Shafana berada di bawah pandangan matanya, manik hazel itu meneliti dengan seksama tatapan sendu yang penuh dengan amarah yang di perlihatkan Shafana, Tapi tiba-tiba tatapan Kenan teralihkan dengan bibir wanita itu yang semerah Cherry, bibir itu seolah menjadi magnet yang kerap kali menarik kesadaran dirinya.


"Dan kau sudah mengjadi wanita gila itu." Ujarnya ringan sembari mengeratkan cengkramannya di rahang gadis itu. "

__ADS_1


__ADS_2