
Shafana masih membatu di tempatnya duduk, Ziano tersenyum lembut. "Kau tidak perlu menjawab, aku hanya menyampaikan perasaanku saja. Tapi jangan melarangku untuk berjuang." Ziano berkata tanpa bisa mengalihkan pandangannya dari fokusnya mengemudi.
"Zi, Aku ..." Shafana hendak mengatakan jika sebenarnya ia sudah memiliki suami agar Ziano tidak terlalu berharap padanya, tapi mengingat peringatan Kenan akan pernikahan rahasiahnya Shafana kembali membukam rapat mulutnya.
"Jangan katakan apapun Moza, aku tidak ingin mendengar penolakan atau apapun yang bisa melukai hatiku. Kau cukup diam dan lihat." Ziano mengalihkan sejenak fokusnya dari jalanan untuk tersemum pada wanita di sampingnya.
Hujan masih belum reda saat ia mereka sampai di depan rumah. Ziano hendak turun lebih dulu membuka jaketnya dengan tujuan untuk melindungi kepala gadis berkacamata itu dari derasnya air hujan. untuk mengantarkan Fana ke dalam rumah, bahkan Zi sudah membuka sabuk pengamannya tapi Fana segera menghentikan niat pria itu.
"Tidak usah Zi, biar aku turun sendiri saja. Di luar hujan deras nanti kau bisa sakit." Fana menahan gerakan tangan temannya.
Ziano bersorak dalam hatinya, ia menganggap larangan yang di tunjukan Fana adalah sebagai bentuk perhatian wanita itu untuknya. "Terimakasih, kau sudah perhatian padaku." Ziano tersenyum sangat manis dan sialnya Fana di buat tremor oleh senyuman itu. Astagha untuk sesaat Fana melupakan statusnya.
"Pakai ini." Ziano menyampirkan jaketnya di kepala Fana ia membenahinya dengan sangat hati-hati. Aroma dari parfum Ziano yang menyeruak menusuk lubah hidung wanita itu. Wangi dan menenangkan. Fana yakin bau itu berasal dari tubuh Ziano dan pastinya masih tersisa di jaketnya.
"Baiklah."
"Hati-hati."
"Kau tidak perlu mengatakan itu Zi, rumahku tinggal beberapa langkah lagi."
"Itu karna aku tidak ingin kau terluka."
"Aku tidak akan lecet atau tergores Zi,"
"Ya sudah masuk lah. Aku akan pergi setelah kau masuk." Ah pria gentel pikir Fana.
Di dalam rumah Kenan sudah melihat sebuah mobil berhenti sedari tadi, tapi sudah beberapa menit tidak ada tanda-tanda orang di dalam mobil akan keluar.
"Siapa di dalam mobil itu? Sialan kenapa lama sekali." Kenan mengintip di balik jendela ia sangat penasaran siapa orangnya.
"Kemana juga wanita itu?"
"Astagha apa penumpang di dalam sana lama sekali apa mereka berbuat mesum karna keadaan hujan." Kenan terus menggerutu.
__ADS_1
Saat pintu mobil terbuka Kenan membulatkan matanya menyadari orang yang turun adalah Shafana. "Shafana. Lihat saja aku akan menghukummu."
Fana cepat-cepat membuka pintu dengan jantung yang berdebar-debar, ia bahkan memegangi dadanya yang tidak dapat berhenti berdetak kencang, pipinya terasa panas meskipun udara sangat dingin.
"Kemana saja kau?" saat membuka pintu sebuah suara menyambutnya, suara berat itu berhasil membuat Fana terjengkit kaget sampai ia mundur beberapa langkah.
"Ka-kau sedang apa?" sumpah demi apapun Fana sangat gugup. Ia merasa bahwa telah ia sudah tertangkap basah, sudut hatinya tak nyaman seakan ia telah berhianat dengan cara memikirkan pria lain.
"Kemana saja kau?"
"Siapa yang mengantarmu? Jangan katakan jika kau di antar oleh taksi onlin, karna tidak mungkin mobil semewah itu di jadikan taksi online."
"Tentu saja tidak."
Tiba-tiba ia ingat bahwa Kenan dan Eldy tadi membahas wanita lain di Caffe maka ia memutuskan untuk membalas perbuatannya. Dengan cara membuat Kenan kesal, ia bukan pemeran istri sinetron indosiar yang hanya menangis saat suaminya menindasnya.
"Aku di antar pulang oleh pria tampan dan Seksih." ucapan Fana tidaklah bohong, Ziano memang sesempurna itu pemirsah.
"Kau tidak percaya? Apa perlu ku panggilkan pria itu."
Fana hendak memanggil Ziano karna kesal bahwa Kenan sudah meledeknya, tapi mobil itu telah melanjutkan mobilnya.
"Hah ... "Kenan membuang nafas. "Kau itu terlalu percaya diri." Kenan terkekeh geli, ia merasa Fana sedang sedikit membalas perbuatannya untuk memanasinya.
"Kau tidak percaya padaku? Biar ku telepon dia." untung saja Fana sempat menyimpan nomor Ziano waktu itu.
Panggilan pertama tidak di jawab, begitupun dengan panggilan keduanya.
Ha ha ha ha.
Kenan tertawa terpingkal-pingkal tadinya ia ingin marah karna Fana pulang terlambat, tapi justru pria itu merasa lucu daat istrinya berbohong bahwa Fana telah di antar oleh pria tampan dan seksih.
"Aduh perutku sampai sakit." keluh kenan
__ADS_1
Fana mengerucutkan bibirnya karna kesal, Kenan meledeknya habis - habibisan
Tapi siapa yang menduga jika orang yang tadi ia hubungi menghubunginya balik.
Fana tersenyum sangat lebar dan menjulurkan lidahnya.
"Ha-hallo." ucap Fana gugup tapi ia segera menyalakan loud speker ponselnya.
"Ya, Moza ada apa? Apa ada yang tertinggal." Ziano bertanya dengan sangat lembut.
"Maaf karna barusan aku harus menepikan mobil terlebih dahulu. Tidak baik melakukan panggilan saat tengah mengemudi" suara seksih itu mampu membungkam mulut Kenan.
"Mozaa."
Masih hening.
Padahal yang terjadi sebenarnya Fana tengah melotot dengan lidah yang menjulur.
"Mozaa, kau baik-baik saja?" Nada bicara Ziano terdengar sangat panik.
"Ya, aku baik-baik saja."
"Apa perlu aku kembali ke rumahmu."
"Ti-tidak usah."
"Kau yakin baik-baik saja?"
"Ya, aku hanya lupa mengatakan padamu, kau harus hati-hati." mendadak wajah Fana terasa panas sampai refleks Fana mengibaskan tangannya ke depan wajahnya.
Kenan merasa muak melihat itu semua tanpa berpikir dua tiga kali pria itu merebut ponsel istrinya secara sepihak dan menutup teleponnya. Sampai beberapa kali ponsel itu kembali berderingpun Kenan selalu menolak pangilannya.
"Kau sudah berani rupanya. Bersiaplah akan di hukum karna kebenaran mulutmu." Kenan menyeringai.
__ADS_1