
Kenan, Fana dan kedua orang tuanya pamin kepada Ayah Rendy untuk pulang, Shifa masih bergeming di tempatnya duduk. Ia merasa tertampar dengan ucapan pedas Kenan semalam. Sedangkan Fana hanya menganggap diamnya Shifa hanya karna masih belum pulih.
"Shifa, jaga dirimu baik-baik. Sayangi dirimu sendiri, kakak menyayangimu." Fana memeluk adiknya ia juga mencium rambut adiknya.
Shifa mengutuk dirinya sendiri, bagai mana bisa kemarin-kemarin niat jahat terpintas di benaknya. Kakaknya sangat tulus menyayangi dirinya sedangkan apa yang dia lakukan sungguh tercela, mengharapkan suami kakaknya. Jika saja itu sampai terjadi sungguh Shifa tak akan di buat menyesal. Semalaman ia sudah memikirkan semuanya, merenungi setiap perlakuannya yang seenaknya sendiri pada kakaknya. Padahal jauh di lubuk hatinya ia juga menyayangi Fana.
Kakaknya memang baik tak selayaknya ia membencinya. Kakaknya sangat tulus tak heran jika banyak orang yang menyukainya.
"Iya, kak. Kakak juga baik-baik di sana." Shifa menatap manik teduk kakaknya. Fana kembali menubruk tubuh adiknya ia terharu karna untuk pertama kalinya Shifa menghkhawatirkannya.
"Terimakasih, kakak akan jaga diri kakak." Begitulah Fana ia akan menangis dengan hal-hal kecil. "Jaga Ayah juga. Kabari Kakak jika ada sesuatu." Fana mengurai pelukannya dan berniat pergi, tapi tangannya di cekal adiknya.
"Maafin aku ya kak. Kakak selalu mengalah untukku. Sekarang adik kakak sudah tidak akan menyuruh kakak mengalah lagi." Shifa tersenyum di tengah matanya mengeluarkan air.
Rendy ikut berkaca-kaca menatap kedua putrinya yang terlihat saling menyayangi.
__ADS_1
Kenan sendiri hanya menatap istrinya dengan pandangan tak terbaca.
.
Saat sampai di rumah kediaman Moses, mereka di sambut dengan gadis muda, umurnya sekitar 23 atau 24 tahun. Gadis itu berlari dan memeluk Kenan dengan erat. Fana yang menyaksikan hal itu hanya membatu di tempatnya, tubuhnya yang kaku serta lidahnya yang kelu tak bisa berbuat banyak selain hanya bernafas.
Kenan tak kalah erat memeluk tubuh teman kecilnya sudah lebih dari enam tahun mereka tidak bertemu. Kenan merindukan temannya ini. Teman yang sudah ia anggap seperti adiknya sendiri. Namanya Dimi.
"Ayo masuk." Kenan mengajak Dimi untuk masuk tanpa memperdulikan Kenan, entah pria itu lupa atau sengaja tak ingin mengakui Fana di depan teman kecilnya.
"Kakak, aku ingin bekerja di kantor kakak." ucapnya manja.
"Apa pengalamanmu?"
"Aku pernah bekerja di perusahaan sebagai sekertaris. Maka jadikan aku sekertaris kakak ya. Aku dengar dari Arven sampai sekarang kakak tidak memiliki sekertaris." Dimi semakin bertingkah semenggemaskan mungkin agar kakak ketemu gedenya mau menerimanya.
__ADS_1
Dalam hati Fana membatin, Kenan memang bukan suami sefrekuensi untuknya, fisik karier dan kekuasaannya membuat pria itu di kelilingi wanita hebat, Fana merasa kecil jika di bandingkan dengan wanita-wanita yang mengejar duaminya dari mulai Fisik serta gayanya saja sudah berbeda. Apalah artinya Fana, ia merasa sangat kecil bahkan lebih kecil dari sebutir debu.
Jika sebelumnya Fana bisa menghadapi tiga wanita yang mengejar Kenan secara terang-terangan dan menghempas ketiga wanita itu karna Kenan tidak meresponnya. Bdrbeda kali ini, Fana merasa ragu bahkan gadis itu lebih dari segalanya. Juga gaya dan cara Kenan memperlakukannya dan Dimi benar-benar berbeda.
"Oh ya, kak siapa wanita berkaca mata itu?" Tanya Dimi.
"Dia."
"Apa dia pegawaimu?"
Fana memejamkan matanya, ia menebak kali ini juga pasti Kenan tak akan mengakuinnya sebagai istrinya.
Maka Fana akan mengatakan Iya saja atas pertanyaan Dimi.
"Aku ..."
__ADS_1