Terpaksa Menikahi Gadis Culun

Terpaksa Menikahi Gadis Culun
butuh pelukan


__ADS_3

Kenan yang terlanjur kesal tidak berbicara lagi.


BRAKK ...


Sekali tendangan pintu kokoh itu terbuka.


Jika ada yang berkata mengapa Kenan sekuat itu. Itu karna pria itu tengah emosi karna tidurnya terganggu. Jelas saja jam masih menunjukan pukul lima pagi wajar saja jika pria itu marah. Bukankan tenaga orang yang tengah emosi berkali-kali lipat lebih kuat, maka itulah yang terjadi.


Jika saja tidak mengingat pria tua itu adalah ayah mertuanya. ingingin sekali Kenan menendang tulang kering pria yang mulai sedikit renta.


"Shifa. Shifa." Ayah mertua Kenan masuk lebih dulu mencari keberadaan putri bungsunya.


Sedangkan Kenan masih menggosok kasar wajahnya untuk melenyapkan kantuk yang masih menyergapnya. "Ken." Fana menepuk bahu suaminya.


Kenan terkesiap, pria itu sampai terlonjak kaget. "kau mengagetkanku Fana."


"Kenan. Kenan." Ayah mertuanya kembali memanggil.


Kenan mengayunkan kakinya malas, memasuki kamar adik iparnya yang terlihat sepi tak berpenghuni.


"Dobrak lagi Ken. Tubuh renta Ayah tak kuat melalukannya." Sadar pula pak tua itu sudah mulai renta tapi masih saja menyebalkan.


Terdengar samar-samar gemericik air dari dalam kamar mandi.

__ADS_1


"Ayah tidak sopan mendobrak kamar mandi sedangkan seorang wanita ada di dalamnya." Kenan tidak habis pikir kenapa orang tua itu seceroboh ini, bagai mana jika Shifa tengah mandi di dalam sana.


"Dobrak saja Ken, Ayah yang bertanggung jawab." Perintah Rendy karna memang pria tua itu sudah menggedor sedari tadi tapi tidak mendapat sahutan dari dalam kamar mandi.


Lagi-lagi Kenan membayangkan pintu itu ayah mertuanya.


BRAKK ...


Kenan kembali menendang pintu kamar mandi dan kembali terbuka. Pria tua itu masuk lebih dulu untuk mencari keberadaan putrinya.


"SHIFAAA ..." Ayah mertua Kenan berteriak.


Shifa tergeletak di dekat kucuran air shower, terdapat noda darang yang terkumpul dan menggenang sebagiannya juga sudah tercampur air shower.


Fana segera menghampiri tubuh adiknya yang terkulai lemas dengan kepala di pangku ayahnya. Fana berniat meraih tubuh yang terasa dingin itu.


"Jangan menyentuh Shifa, ini juga karna ulah mulutmu yang berbicara kasar padanya kemarin." Sang ayah menepis kasar tangan Fana. Benarkah ayahnya kembali menyalahkannya saat sesuatu hal buruk menimpa Shifa.


Meskipun Kenan panik tapi ia memperhatikan bagai mana ayah mertuanya memperlakukan istrinya. "Ayo kita pergi biarkan Ayahmu mengurus anaknya sendiri, dia tidak membutuhkan bantuanmu." Kenan meraih tangan istrinya dan berniat menariknya untuk pergi dari sana.


"Ken kau mau kemana? Bantu Ayah membawa adikmu kerumah sakit." Rendy. sudah menangis dan panik luar biasa dengan keadaan putri bungsunya ia takut terjadi sesuatu pada putrinya yang malang.


"Dia bukan adiku. Dia hanya orang asing yang kebetulan adik dari istriku, jika kau sebagai Ayah istriku menepis kehadiran Fana lalu untuk apa aku membantu puntrimu."

__ADS_1


Rendy diam, benar apa yang di ucapkan menantunya. Sebenarnya Rendy tidak berniat melakukan itu pada putrinya, ia hanya replek saking paniknya.


"Ayah minta maaf, Ayah tidak bermaksud menyalahkan Fana." Ayah Rendy meminta maaf.


"Ken, cepatlah. Ayo kita membawa Shifa kerumah sakit." Fana menggoncang tangan kekar suaminya.


Kenanpun membawa adik iparnya kerumah sakit.


Kebetulan dokter yang tengah berjaga adalah Ziano. Pria berjas putih itu tidak langsung bertindak, justru malah mengalihkan tatapan pada Fana yang di penuhi air mata.


"Moza."


"Zi, tolong selamatkan adikku Zi, dia pendarahan hebat."


"Adik?"


Ziano bingung tapi segera melakukan pertolongan pada teman sekolahnya dulu.


"Ini salahku Ken, harusnya aku tidak berbicara kasar padanya."


"Stt ... Jangan berbicara seperti itu, sepertinya hormon datang bulanmu mempengaruhimu menjadi lebih cengeng. Tenanglah ada aku. ayo peluk aku." Kenan memeluk tubuh rapuh istrinya. Tubuh itu tenggelam dalam kehangatan pelukan Kenan.


"Ya, aku memang butuh pelukan Ken."

__ADS_1


__ADS_2