
Kenan memasuki kamarnya, ia mengeleng-gelengkan kepala menatap tuhuh polos yan tidak tertutup apapun. Selimut yang ia balutkan kini sudah terjuntai bebas ke lantai. Dasar penggoda sedang tidurpun kau sempat-sempatnya menggodaku.
Kenan tak langsung menghampiri istrinya, ia justru melihat ke arah selatan. Ish tidak tau diri sekali miliknya, baru beberapa jam sekarang udan on fire kembali.
"Lebih baik aku tidur, kasihan sekali Fana. Pasti beberapa hari ini tidurnya tak nyaman karna harus tidur di rumah sakit." Kenan mengambil selimut yang terongok di lantai dan menyelimuti tubuh istrinya. Ia juga mengecup kepala istrinya.
Kenan berusaha memejamkan matanya agar gairahnya teredam. Sudah satu jam lebih ia terbaring tapi kantuknya tak kunjung datang, bagian tubuhnya yang berdiri memaksa matanya agar tetap terbuka.
Dan celaka untuknya saat istrinya justru menghadap ke arahnya dengan buah yang menempel tepat di bisepnya. Ya Tuhan terkutuklah ia yang justru malah terbangun dan melucuti pakaiannya sendiri.
Ia harus membangunkan istrinya agar ia juga dapat tertidur. Tangannya sudah berpetualang menjelajah bagian-bagian yang ia kehendaki. Indra perasanya mencicipi setiap hidangan yang tampak segar untuk ia kehendaki
Kenan memposisikan kepalanya di antara dua kelembutan Fana, jemarinya membelai dan mempermaikan area favoritenya yang mulai basah kembali.
"Kau seperti putri tidur." Bisik Kenan tepat si telinganya, mulut itu bahkan dengan sopan menguluum daun telinganya.
Sesekali bibir mungil istrinya mendesis dan melenguhh tapi kelopak matanya tak kunjung terbuka.
Fana mengira apa yang ia rasakan adalah hanya mimpi belaka sampai Kenan meremass kencang bukitnya ia terpekik, antara sakit dan nikmat yang bercampur. Matanya seketika terbuka.
"Ka-kau sedang apa?" Tanya Fana, matanya mengerjap lucu.
"Kau bilang, kau milikku malam ini." serak Kenan di depan bibirnya.
__ADS_1
"I know, lalu?"
"Ini masih malam, dan kau masih milikku." Kenan melanjutkan aksinya sampai ia menemui kepuasan yang ia kehendaki.
.
"Fana bangun, ayo kita sarapan. Semua orang sudah menunggu." Kenan kembali meremassi dadanya bergantian.
Fana menggeliat dari tidurnya. Matanya perlahan mengerjap dan terbuka secara perlahan. "Ken seluruh badanku pegal." keluhnya.
"Mau ku pijat?" tawar Kenan menyeringai, sungguh Kenan rela jika ia harus terlambat sarapan hanya karna memakan hal lain.
"Cukup Ken. Aku lelah." Fana segera berlari ke kamar mandi tanpa busana.
Kenan tak menutup rapat pintu kamarnya sehingga Mamanya dapat masuk di saat Kenan tengah memunguti bajunya dan Fana yang tergeletak di lantai.
"Sepertinya calon cucu Mama sedang OTW." ledek Mama Lily,
"Doakan saja Ma."
"Kau sudah siap untuk jadi seorang ayah Ken?"
"Tentu saja. Aku ingin menggendong bayi yang berasal dari benihku sendiri."
__ADS_1
"Semoga secepatnya ya." ujar Mama Lily, ia membungkuk untuk membantu putranya memunguti tissue.
"Jangan Ma. Mama duduk saja biar aku yang bereskan."
"Kenapa?"
"Tidak sopanlah, masa Mama membersihkan bekas bercintaku."
Astagha yang lebih tidak sopan adalah mulut putranya sendiri. Seenaknya dan tanpa beban mengatakan hal se intim itu. Tapi Mama Lily akui Kenan jauh bertingkah dewasa akhir-akhir ini.
"Fana dimana?" Mama Lily tidak mendengar gemercik air di kamar mandi.
"Mungkin Fana tengah berendam, aku tadi sudah menyiapkan air hangat. Agar tubuhnya tidak terlalu lelah." Kenan tengah mengganti seprai, kegiatan yang tidak pernah lakukan selama ini, Kenan sendiri yang menggulung seprai serta sarung bantal dan memasukannya kedalam keranjang cucian kotor.
"Kau terlihat cekatan sekali membereskan kamarmu."
"Tentu, calon ayah harus rajin." sahut Kenan.
"Ken, Dimi kembali kerumahnya." ucapan Mama kali ini dukses membuat Kenan menghentikan kegiatannya.
Ia bahagia, Dimi teman wanitanya sedari kecil, sekaligus tetangga rumahnya, adik kecilnya telah kembali ke kota ini, sungguh Kenan bahagia mendengarnya.
"Tapi, Mama harap kau jangan terlalu dekat padanya. Ingat statusmu sekarang telah berbeda. Tidak ada teman dekat seorang pria yang sudah menikah selain istrinya sendiri." Mama Lily mengingatkan putranya. Ia khawatir Kenan masih dekat dengan anak tetangganya seperti dulu, bukan tidak mungkin jika kedekatan keduanya, menggangu rumah tangga putranya.
__ADS_1
"Mama jangan khawatir, Dimi adik kecilku. Aku akan membuat Fana mengerti karna kami memang dekat." Kenan tersenyum dan melanjutkan kegiatannya. Kenan tak habis pikir kenapa Mamanya berbicara seperti itu seakan tak percaya padanya.
"Perasaan wanita sangat rumit Ken, wanita manpu mencintai dan menahannya agar tetap diam selama bertahun-tahun. Tapi wanita tidak akan bisa menahan rasa cemburunya meskipun hanya sesaat. Mama harap kamu mengerti maksud Mama." Mama Lili menepuk pundaknya sebelum pergi.