
"Sedang mandi." Ayah mertuanya yang menjawab, sedangkan Shifa hanya membuang pandang. Kekesalan masih tercipta di wajah pucat itu. Terserah sungguh Kenan tak perduli jika Shifa marah.
"Kau menginap di sini juga Ken?"
"Tentu saja, istriku berada di sini tidak mungkin aku tidur denganmu di rumah." ucapnya menusuk. Sungguh Kenan cerminan dari menantu tak tau diri.
"Aku hanya bertanya."
"Aku tau."
"Jika kau lapar makanlah lebih dulu." Rendy mengira Kenan berkata acuh padanya karna menantunya itu lapar, bukannya seseorang jika sedang lapar akan berbicara tanpa saringan, begitulah kira-kira pemikiran Rendy terhadap menantunya.
"Aku bisa menunggu istriku."
Dokter Ziano kembali datang mebuat mood Kenan semakin buruk.
Ziano memeriksa kondisi Shifa, dengan alat yang ia bawa.
"Semuanya sudah stabil. Tinggal menunggu kau pulih, kau bisa pulang." Ziano menjelaskan.
__ADS_1
Tiba-tiba ada seseorang membawa beberapa kue dan cemilan yang seketika membuat Shifa berbinar. Tapi dalam sekejap berubah jadi muram.
"Jangan memakan cemilah pedas itu. Belum baik untukmu, aku membelikan itu untuk Moza." Ziano seakan paham pikiran Shifa. " Kau dan ayahmu boleh memakan kue-kuenya." lanjut Ziano kemudian.
"Om, tolong katakan pada Moza aku menunggunya di ruanganku satu jam lagi." Ucap Ziano sopan sebelum mengundurkan diri.
Rendy sendiri mengangguk." Baiklah nanti akan ku sampaikan." tapi natanya terus menatap kearah menatinya yang kini hanya membisu.
"Ah, dokter Zi sangat santun dan perhatian, seandainya saja dia menantuku." Rendy sengaja mengatakan itu di hadapan Kenan, secara tidak langsung Rendy menyindir menantunya. Sedangkan Kenan sendiri merasa kini ia tengah di banding-bandingkan.
"Jika kau ingin membuat Ziano jadi menantumu, kau nikahkan saja putri bungsumu pada dokter sok iyeh itu." Gerutu Kenan kesal tapi di dengar jelas oleh Rendy.
"Ayah itu apa-apaan sih, aku yakin Ziano tak menyukaiku. Sejak dulu Ziano hanya menyukai kakak." Shifa mengerucutkan bibirnya. Kesal sekali ia pada ayahnya setiap pria di tawarkan padanya memangnya dia tidak laku apa? Di luar sana banyak pria yang mengantri untuk menjadi kekasihnya.
"Kenapa kau tidak bilang sejak awal." Rendy bertanya tapi matanya masih menatap menantu kurang ajarnya, sepertinya Kenan musuh baru untuknya.
"Memangnya kau mau apa jika tau sejak awal dokter cupu itu menyukai Fana?" Kenan menantang mertuanya.
"Tentu saja aku punya kandidat suami lain untuk putriku." ucap mertuanya tenang.
__ADS_1
"Sial." Seandainya pak tua itu tau jika ada Eldy juga yang mengincar putrinya, maka pak tua itu akan semakin gencar nembandingkannya." gerutu Kenan dalam hati.
"Percuma Yah, sebanyak apapun calon yang kau tawarkan pada kakak, kakak pasti menolak, jiwanya masih terbelenggu sosok Ziko, jika saja aku tidak melarikan diri hari itu Kakak pasti akan tetap memilih sendiri." ucapan Shifa kembali menyentil Kenan jika wanita memang seistimewa itu, mencintai seorang diri tanpa lelah dengan kurun waktu yang tidaklah sebentar. Hey adakah yang setulus Fana Kenan ingin empat untuk para sahabatnya dan asistennya.
Ceklek. (pintu kamar mandi terbuka)
"Ken, tolong ambilkan pembalut serta baju gantiku. Aku melupakannya di atas sofa." Fana hanya menyembulkan kepalanya dari celah pintu.
Kenan menyeringai penuh maksud. Ayah mertuanya yang menyadari senyuman yang tersungging di bibir menantunya menghembuskan nafas lelah. Luki, Kenan benar-benar dirimu sewaktu muda. Desahh Rendy dalam hati.
Kenan mengambil pakaian serta pembalut yang di maksud istrinya. Fana sudah menyudorkan tangannya untuk mengambil pakaian, tapi Kenan kendorong pintu kamar mandi hingga tubuh Fana mundur beberapa langkah. Kenan langsung masuk dan menutup pintunya kasar.
"Kau mau apa?"
"Kau lama sekali, aku lapar." Tanpa menunggu lama Kenan menyapukan bibirnya di bibir wanitanya, untuk beberapa saat dan setelah itu Kenan segera keluar kembali meninggalkan Fana yang masih mematung karna masih terkejud.
"Apa yang kau lakukan?" Rendy bertanya saat menyadari raut Kenan yang bersahaja.
"menyenangkan diri."
__ADS_1
.