Terpaksa Menikahi Gadis Culun

Terpaksa Menikahi Gadis Culun
matilah


__ADS_3

Pagi-pagi sekali Shafana sudah bangun. Dengan perlahan ia meletakan tangan kekar yang melingkar di perutnya sejak semalam.


"Ish... Sejak menikah denganmu tidurku sering pegal, pungsi guling sudah berpindah kepadaku. Ya Tuhan, aku harus menahan diri agar tidak mencekitnya." Fana terus menggerutu.


Setelah membersihkan diri, Fana sudah memesan sarapan ke pihak apartemen, Fana juga sudah menyiapkan baju kerja suaminya diatas tempar tidur di samping suaminya terbaring. Tidak lupa pula ia sudah menaruh secarik kertas dengan tulisan. 'Aku pergi lebih dulu, ada urusan yang harus ku kerjakan. Semua kebutuhanmu sudah aku siapkan.'


Tujuan utamanya adalah pemakaman, ya Shafana berniat mengunjungi makam ibunya serta makam Ziko yang kebetulan pemakaman keduanya berada di pemakaman yang sama.


"Bu, putrimu datang." Fana maletakan bunga Lily putih sebagai tanda keabadian cinta dan kasihnya, meskipun ia tidak sempat berbakti pada ibunya, tapi ia selalu mendoakannya. Sedangkan buket mawar putih, masih ia genggam.


"Bu, kau tau bukan aku sudah menikah? Meskipun aku tidak mencintai suamiku tapi aku tidak berniat untuk melukai hatinya, dia adalah pria menyebalkan yang pernah aku temui seumur hidupku, dia adalah orang yang sama yang selalu menyakitiku di masa lalu. Meskipun demikian aku tidak bisa mengakhiri pernikahanku, aku tidak di berikan pilihan, Bu." Fana terisak. Tapi tiba-tiba ia tersadar harusnya ia tidak berniat mengadukan hal ini pada ibunya, ia tak ingin ibunya merasa khawatir di alam sana.


.


"Kemana Fana pergi?" Kenan marah-marah saat ia tak medapati istrinya di Caffe pusat.


"Ponsel." Kenan segera meraih ponselnya ia mengecek keberadaan istrinya, melalu GPS yang terhubung di ponselnya dan Fana.


Kenan mengerutkan keningnya saat menyadari bahwa lokasi yang di tunjuk oleh ponsel pintarnya adalah tempat pemakaman umum. "Sedang apa dia di sana? Apa mengunjungi ibunya? Tapi kenapa tidak mengajakku."


Kenan melajukan mobilnya menuju tempat pemakan itu, setelah sampai ia memarkinkan mobilnya di lahan parkir yang sudah tersedia. Kenan melangkahkan kakinya ke tempat di mana makam ibu mertuanya berada. Karna memang ia sudah mengetahui makam ibu mertuanya.

__ADS_1


"Bu, aku Kenan, menantumu." Kenan menyapa. "Maaf aku tidak sempat membawa bunga. Sepertinya putrimu sangat mencintaimu Bu, dia sudah membawa bunga yang cantik untukmu. Aku pamit ya, lain kali aku akan membawa bunga untukmu." Kenan berdiri dari jongkoknya.


"Kemana Fana pergi?" Kenan mengedarkan pandangan matanya mengcari keberadaan istrinya, ia juga kembali melihat ponselnya dan benar saja Shafana masih berada di tempat itu. "Lalu di mana dia?" Kenan melangkahkan kakinya menvoba mencari keberadaan Shafana.


Dari kejauhan Kenan dapat melihat keberadaan seorang wanita, lengkap dengan sebuah seledang berwarna hitam yang menutup kepalanya. Di wajahnya terdap kaca mata, Kenan yakin jika itu istrinya. Tapi yang jadi pertanyaannya sedang apa Fana di makam itu. makam siapa yang Fana kunjungi? bahkan Kenan melihat Fana meletakan bunga mawar putuh yang ia bawa sedari tadi.


Kenan mendekati Fana, dengan pelan-pelan jangan sampai ia menimbulkan bunyi sama sekali.


Kenan masih memperhatikan istrinya yang mulai mengusap batu nisan di makam itu.


"Zi, aku datang. Bagai mana kabarmu?" Fana terkekeh sebentar.


"Kau sahabatku satu-satunya kan? Jadi dengarlah ini. Tapi sebelumnya kenapa kau tidak bilang jika memiliki saudara kembar? Ziano. Pria baik itu menemuiku akhir-akhir ini, aku merasa sedik berdebar saat bersamanya. Apa kau cemburu?" Fana bertanya dan memberenggut secara bersamaan.


"Aku merindukanmu Zi, harus sampai kapan terbelenggu dengan cinta yang tidak dapat ku miliki. Kau tidak kasihan kepadaku sehingga menyiksaku separah ini. Ku mohon tolong merdekakan aku, biarkan aku mencintai pria lain selain dirimu." Fana mulai menangis di atas pusaran sahabatnya.


Kenan masih mematung di tempatnya.


"Hanya karna dirimu semua pria yang ku temui terlihat blur Zi. Sudah delapan tahun berlalu tapi kau masih menawanku dengan rasa itu. Tujuanku kemari aku ingin meminta restu untuk membuka hatiku untuk pria lain." di atas makam Ziko terdapat buket bunga yang dudah mulai mengering tampaknya Ziano mendapat kunjungan dari orang lain selain dirinya.


"Siapa yang berkunjung ke tempatmu Zi? Kau tau aku cemburu hanya karnya seikat bunga yang mengering di tempatmu. haruskah aku memasang tulisan agar yang berkunjung padamu tidak memberimu bunga yang sama denganku." Fana tertawa, yang justru tawanya terdengar menyedihkan.

__ADS_1


"Sial, saingan terberatku ternyata orang mati." tanpa sadar Kenan mengucapkan hal yang mustahil. Ia masih mendengarkan curahan hati istrinya yang terdirat akan kerinduan.


"Aku masih marah pada ayahku, meskipun aku tetap tersenyum padanya dengan wajah yang munafik ini."


"Aku sudah menikah. Maaf!" ucapnya lirih, kepalanya tertunduk dalam ia mengatakan itu penuh rasa bersalah.


"Aku masih mencintaimu, tapi aku mendaratkan diriku di pelukan pria lain, pria yang sangat menyebalkan. Suamiku selalu menekanku, memaki, menghina, mengancam dan sering marah-marah padaku sehingga aku kerap kali menahan diri agar tidak menaburkan sianida diatas makanan dan minuman yang aku hidangkan untuknya." Fana terkekeh geli dengan ucapannya sendiri.


"Bahkan aku ingin mencrkiknya tadi pagi."


Kenan yang sedari tadi merasa kasihan pada istrinya berbalik rasa menjadi kesal dan marah, ternyata ada seorang istri yang berencana melenyapkan suaminya.


"Khemmm..."


Kenan berdehem, Fana yang terkejut langsung membulatkan matanya. Ia menoleh ke belakang tubuhnya.


"Se-sejak kapan kau di sa-sana." Fana tergagap.


"Sejak kau mengatakan ingin meracuniku."


Matilah kau Fana malaikat maut telah tiba.

__ADS_1


__ADS_2