Terpaksa Menikahi Gadis Culun

Terpaksa Menikahi Gadis Culun
Dia hamil


__ADS_3

Sepertinya Shafana memang kelelah as n sampai semalamanpun ia tidak terbangun untuk makan malam. Saat ia pertama kali membuka mata ia terkejut setengah mati saat tubuhnya berada di pelukan Kenan bahkan ia mengerjapkan matanya berkali-kali dan tetap saja yang memenuhi pandanganya tetap wajah tampan Kenan. Hampir saja ia berteriak saat Kenan menggerakan tubuhnya, Fana pura-pura masih terlelap agar terhindar dari amukan pria itu.


Di luar dugaan Kenan tidak mengamuk sama sekali, justru Fana merasa Kenan menggeser tubuhnya secara perlahan memindahan kepala Fana yang berada di dadanya dengan hati-hati.


"Ya Tuhan pegal sekali." Kenan meregangkan otot-ototnya yang kaku, sepertinya tidurnya sangat nyenyak sampai ia tidak berpindah posisi.


"Si culun ini tidur apa mati, apa dia tidak merasa lapar sejak kemarin sore ia tidak makan."


Shafana pura-pura terusik dari tidurnya, menggeliat serta membuka mata secara perlahan.


"Mandilah lebih dulu aku akan meminta Arven untuk mengantarkan pakaiammu serta sarapan, kau harus banyak makan agar selalu mempunyai energi untuk mengimbangiku." Arven adalah asisten Kenan yang membantunya di kantor dan di manapun suka-suka Kenan.


"Jin apa yang sedang bersemayam di otaknya pagi ini, kenapa ia jadi sedikit baik padaku, dimana tingkah setannya pergi." benaknya bertanya-tanya. Shafana menyipitkan mata penuh selidik.


"Kenapa kau menatapku seperti itu, mau ku geletakan bola matamu di piring untuk ku jadikan sarapan." Sentak Kenan sengit.


"Syukurlah tingkah setannya tidak jadi lenyap. "


"Apa kau?"


"Tidak-tidak."


Shafana membersihkan tubuhnya lebih dulu, sedangkan Kenan membersihkan tubuh di kamar sebelah.


Ting.. ting..


"Ken, ada tamu, Apa sandinya?, kenapa kau selalu mengunci pintunya?"


"Supaya kau tidak melarikan diri. Masuklah kamar sebelum mengenakan pakaianmu dengan benar jangan pernah keluar dari kamar baik itu di rumah ayau di sini."


"Kenapa, itu hakku lagi pula aku pakai kimono."


"Tubuhmu jelek, aku tidak ingin ada yang menghina tubuhmu selain aku." Kali ini Kenan berdusta, sebenarnya yang ia katakan adalah kebalikannya.


Sesuai perintah Arven mengantarkan pakaian untuk nona mudanya, yang langsung di pesan oleh Kenan sendiri, serta sarapan yang beragam sesuai permintaan atasannya, setelah tugasnya usai Arven pamit undur diri.


Setelah keduanya sarapan dan bersiap untuk ke kantor, tiba-tiba deringan ponsel terdengar, Papa Luki menelponnya dan menyuruhnya untuk pulang, dari nada bicaranya sepertinya Luki sedang marah pada putra tunggalnya.

__ADS_1


Kenanpun mengajak istri culunnya untuk pulang lebih dulu, ia akan memastikan sendiri apa yang terjadi.


.


Saat tiba di rumah yang pertama memenuhi pandangan Kenan adalah tangisan Mamanya. Kenan paling tidak bisa melihat wanita kesayangan yang berjasa melahirkannya itu menangis apa lagi karna ulahnya, sunguh untuk yang saru ini Kenan bersedia mengucapkan kata maaf ribuan kali hanya demi meredakan tangis Mamanya.


"Ada apa? mengapa Mama menangis?" Kenan bertanya panik takutnya ia malah semakin melukai Mamanya, ya sesayang itu ia pada sang Mama.


Plakkk...


Satu tamparan keras di layangkan Papanya pada pipi Kenan, ini bukan kali pertama Papa Luki menamparnya ini adalah yang kesekian kalinya tamparan yang didapatkan Kenan dari sang ayah.


Shafana terkejut dengan apa yang ia saksikan. Amarah terlihat jelas di matanya mertuanya.


Jika sebelumnya Kenan hanya akan diam dan menundukan pandangan itu ia lakukan jika ia melakukan kesalahan, beda kasusnya kali ini setelah beberapa tahun ia tidak dapat sapaan menyakitkan dari tangan papanya karna ia merasa tidak melakukan kesalahan. kali ini ia mengangkat wajahnya dan bertanya tanpa takut sedikitpun.


"Ada apa? Kenapa kau menamparku? apa kau tidak bisa bertanya dengan benar sebelum menghakimiku?" Kenan berkata dingin dengan tatapan yang membejukan sekitar.


"Jangan berlagak bodoh di hadapanku Kenan. " Luki berteriak.


"Ken tenangkan dirimu, minumlah dulu." Shafana menyodorkan segelas air, yang entah sejak kapan ia ambil. Bisa-bisanya Shafana menyuruhnya minum di saat ia tengah marah.


"Siapa Niken?" Kali ini Mamanya yang bertanya, tapi matanya menemui Shafana.


"Niken?" Kenan membeo.


"Ya Niken, kau terkejut atau sedang mencari alasan."


Kenan mengerutkan kening mencoba mencari jawaban pada otaknya dengan pertanyaan siapa Niken, otaknya tengah bekerja keras tapi ia tidak mendapan jawabannya, ia berpikir ada apa dengan nama Niken apakah nama itu adalah musunya yang menyakiti Mamanya, atau temannya, atau siapapun yang jelas ia buntu tidak mendapat jawaban. Ada yang aneh dengan nama Niken kenapa tiba-tiba ibunya menanyakan nama itu.


"Niken, aku tidak mengenalnya sama sekali." saat mengatakan itu mata Kenan juga menemui Shafana yang juga nampak bingung.


"Jangan membohongi kami, kau tinggal mengatakan siapa wanita itu."


"Apa yang harus aku katakan jika aku sungguh tak mengenalnya."


"Dia hamil."

__ADS_1


Deg..


Shafana mundur beberapa langkah ia tidak ingin mendengarkan lagi perdebatan itu.


"Fana ke kamar dulu." Ia lebih baik pamit undur diri dari sana, dari pada terlibat lebih jauh perdebatan antara suaminya dan mertuanya.


"Lalu apa masalahnya?"


"Jelas salah Kenan, dia hamil disaat kau sudah menikahi Shafana."


"Pa, si Niken itu juga punya kehidupannya sendiri dia berhak hamil." Kenan semakin tidak mengerti dengan pola pikir papanya.


"Lalu bagai mana caranya kau bertanggung jawab pada wanita itu, Ken? sedangkan kau sudah menikah." Kali ini mama Lily yang mencecarnya.


"Mengapa aku yang harus tanggung jawab?" Kenan madih bodoh dengan situasi.


"Tadi Niken ke sini untuk meminta pertanggung jawabanmu."


Kali ini Kenan menyadari keadaan tentang ia dan orang tuanya telah salah paham.


"Ma, Pa, Kenan tidak mengenal siapa itu Niken dan tidak pernah menghamili wanita manapun, Kenan bersumpah untuk itu." Kenan berkata sungguh-sungguh.


"Kau serius, Ken, Niken bukan mantan pacar acau mantan kencan satu malammu."


"Bukan Ma, Kenan bisa menjamin itu." Mama Lily segera mengusap air matanya.


"Lalu siapa dia?"


"Aku tidak tahu, yang jelas aku akan buat perhitungan padanya, enak saja membuat nama baikku tercoreng."


"Kau tidak sedang membohongi kami kan?"


"Ma, Kenan tidak pernah memiliki mantan pacar, atau teman bernama Niken, Kenan juga bukan pria murahan yang bisa tidur dengan siapapu."


"Bisa saja saat kau mabuk Ken, kau menghabiskan one night stand." Papa masih menodong Kenan.


"Tidak mungkin Pa, Kenan tidak pernah membiarkan alkohol mengambil kendali diri Kenan, terakhir kali sebelum Kenan menikah, Kenan melakukan hubungan badan dengan Olive mantan kekasih Kenan, dan bisa Kenan pastikan dia tidak akan hamil anakku, aku selalu melakukannya dengan pengaman berkualitas dan terjamin, aku pun tidak akan lupa atau keliru karna aku melakukan dalam keadaan sadar. Jadi katakan apa yang wanita itu katakan pada kalian sampai kalian murka seperti ini."

__ADS_1


__ADS_2