Terpaksa Menikahi Gadis Culun

Terpaksa Menikahi Gadis Culun
Panjang dan besar


__ADS_3

Shafana hanya mengatupkan mulutnya saat melihat Kenan merebahkan tubuhnya di atas sopa, ia juga tak berani menegur Kenan, takuk pria itu malah mengamuk padanya karna kejadian barusan. Akhirnya Fanapun hanya memandangi tubuh suaminya yang terbaring dengan kedua tangannya sebagai bantalan.


Kenan yang merasa di perhatikan kembali membuka matanya, ia tak nyaman dengan pandangan sang istri, juga teringat kembali dengan si culun itu yang tadi telah cosplay menjadi dirinya, Kenan kemudian terbangun lagi dan berdiri dan mendekatkan tubuhnya di hadapan wanita yang tengah menyorotinya dengan tajam.


Kenan membawa tangannya untuk meraih kepala wanita itu, san menyelinapkan jemarinya di antara helaian rambutnya, kemudian mendekat kepala Fana pada wajahnya. "Jika kau ingin selamat selama tinggal di rumahku jaga sikap dan mulutmu, jangan terlalu lancang saat berbicara padaku, atau aku akan membanting tubuh kurusmu di atas ranjangku, sampai kau berteriak memohon ampunan aku tak akan melepaskanmu." Tangan Kenan yang satunya merai leher gadis itu, hingga telapak tangan Kenan dapat merasakan kehangatan pada kulit leher itu, Kenan semakin menarik rambut Shafana hingga wanita itu mendongak tapi tidak membuat Fana kesakitan. "Berhati-hatilah denganku Nona Mozza!" Peringatan itu terdengar seperti nasihat di telinga gadis itu. Shafana selalu bereaksi saat Kenan menyebutnya dengan sebutan Mozaa, ia layaknya mentega yang terkena panas, selalu meleleh di saat pria itu berbicara.


"Jangan banyak tingkah, kau harus ingat jika aku menikahimu karna terpaksa, kau hanya di jadikan tumbal oleh adikmu sebagai pengantin pengganti, aku bisa saja melenyapkammu tanpa jejak jika kau berani macam macam padaku." Bulu kuduk Fana berdiri semua, ia merasa horor dengan ucapan pria itu yang dengan jelas tengah mengancamnya.


"Kau mengerti?"


Fana menganggukkan kepalanya ragu-ragu, ia takut jika kali ini melawan.


"Tidurlah, kau perlu tenaga untuk menghadapi penderitaanmu esok hari." Kenan melepaskan kembali istrinya dan kembali merebahkan badanya di atas sopa.


Begitu juga dengan Shafana, gadis itu menaiki ranjang dan menutup tubuhnya dengan selimut memikirkan kalimat pedas yang selalu di lontarkan suaminya. Untuk pertama kalinya ia membandingkan dirinya dan adiknya, bagai mana cara ayah dan ibunya memperlakukan Shifa dengan dirinya, ia selalu di suruh mengalah terus menerus dan selalu tersisihkan jika orang tuanya memiliki satu barang pasti akan di berikan kepada Shifa apapun itu, boneka atau hanya sekedar sebuah jepitan rambut pasti Shifalah yang memilikinya lebih dulu, jika Ayah sepulan bekerja dan uangnya hanya tersisa untuk membeli bando atau aksesoris pasti Shifalah yang jadi pemiliknya, begitupun jika keesokan harinya ayahnya berniat membelikan untuk Fana, tetap Shifa yang akan mendapatkan barang baru itu sedangkan Fana hanya di beri barang bekasnya saja itupun kadang-kadang di minta kembali, Fana selalu saja di suruh mengalah dengan alasan Shifa masih kecil, dan sampai sekarangpun Fana masih terus di suruh mengalah.

__ADS_1


Shafana masih mengingat saat ayahnya masih bekerja serabutan dan hanya membawa satu buah ayam goreng, ibunya memberikan ayam itu pada Shifa sedangkan ia hanya makan dengan lauk seadanya. Begitupun keesokannya saat ayahnya pulang membawa sebutir buah apel lagi-lagi Shifa yang memakannya, tidak bisakan ayah dan ibunya menyuruh atau merayu Shifa agar mau membaginya walau sedikit, atau ayahnya memakan sendiri makanan sedikit itu jangan membuatnya terluka di masa kecilnya, Fana memejamkan matanya dengan air mata yang mulas berjatuhan.


Di saat ibu dan ayahnya membelikan sepeda motor untuk mereka pergi kesekolah, Shifa selalu menurunkannya di tengah jalan karna adiknya bilang malu memiliki kakak sepertinya, begitupun disaat Shifa melakukan krsalahan maka ia yang akan menggantikannya untuk menerima hukuman.


Ya Kenan benar dirinya selalu menjadi tumbal dalam segala hal, Fana tau jika ayahnya menyayanginya hanya saja ayahnya tidak pernah menanyakan pendapaynya atau kenyamanannya, ayahnya selalu bertindak apapun yang menurutnya benar tanpa bertanya lebih dulu padanya, sangat berbeda dengan Shifa dia selalu bisa mengemukaan pendapatnya dan selalu di dengarkan, sungguh Fana merasa kasihan atas dirinya sendiri.


"Eghhw" Kenan melenguhh dalam tidurnya. "Sssshhh" Sesekali pria itu berdesis.


Fana yang belum terlelap segera membuka selimutnya dan melangkah menuju sopa ia menatap pria yang tengah tertidur miring.


"Lukanya tidak terlalu dalam, hanya mengoyak kulitnya saja tapi tetap saja ini akan terasa sakit jika tidak di obati dengan benar." Fana beranjak meraih kotak obat, ia mengambil kain kasa, alkohol serta betadin kemudian ia kembali berlutut di bawah peria itu.


Shafana sudah membasahi kapas dengan alkohol dan sudah terulur unyuk menyentuh luka itu, tapi tiba-tiba tangannya di cekal oleh pria itu, matanya menyipit dengan tatapan sayu yang terlihat masih linglung.


"Aku hanya ingin mengobati lukamu saja, setelahnya kau bisa memotong tanganku atau bahkan membunuhku aku tak perduli, tapi luka ini harus di obati, jangan sampai luka ini membusuk karna infeksi." Dengan berani Fana mengatakan itu, perlahan Kenanelepaskan cekalannya membiarkan Fana mengobati lukanya.

__ADS_1


Fana mengobati luka itu dengan hati-hati sampai selesai dan rapi.


"Aku hanya, mengobati saja sebagai manusia aku ini peduli padanya hanya karna rasa empatiku yang tinggi, bahkan aku akan mengobati seekor anjing jika anjing itu terluka." Gunamnya mensugesti dirinya sendiri, sedangkan Kenan sudah terlelap kembali.


Saat Fana akan menutup kembali luka itu dengan bathdrobe tanpa sengaja ia menyentuh bathdrobe di bagian pangkal pahanya dan terlihat serta tergesek jelas dengan tangannya sebuah benda yang terlentang. Tegang, besar dan berurat meskipun dengan keadaan terlentang tapi Fana yakin benda itu tengah hidup. Ada rasa kaget serta takjub tapi segera ia berlari kearah ranjang dengan perasaan panas dingin. Tanpa menup kembali benda itu, bahkan sesekali ia mencuri-curi pandang ke arah sana.


"Panjang dan besar sekali, aneh orangnya tertidur tapi itunya hidup, bahkan tadi sempat ngangguk-ngangguk saat tersenggol oleh tanganku Tuhan maafkan aku, maafkan aku." Ayolah Fana wanita dewasa dan normal, wajar jika ia memikirkan inikan, Kemudian ia pun ikuy terlelap.


.


Pagi-pagi Kenan bangun terlebih dahulu dan melihat Fana madih tertidur di atas ranjang.


"Semalam aku mimpi banyak sekali, dan aneh-abeh, bahkan aku bermimpi dia mengobati lukaku." Kenan melihat lukanya dan sudah terbalut dengan rapi tentu saja sudah di obati. "Apa semalam dia benar-benar mengobati lukaku?"


Kenan menyadari saat ini bathdrobe yang kini ia kenskan terbuka dan memamerkan pusakanya. "Apa dia juga melihatnya, atau sudah menyentuhnya sedikit saat aku tertidur?" Ia masih bertanya pada dirinya sendiri.

__ADS_1


.


__ADS_2