Terpaksa Menikahi Gadis Culun

Terpaksa Menikahi Gadis Culun
Tanpa alasan


__ADS_3

Fana membaringkan tubuhnya tanpa berniat melanjutkan pembicaraan lebih jauh, meninggalkan suaminya yang memandangnya dengan keadaan nanar. Ia pun tertidur dengan memeluk gulingnya.


.


Mama dan Papanya kembali keluar kota.


Dimi bekerja di tempat Kenan sudah lebih dari seminggu. Pekerjaannya memang baik dan rapi, akhir-akhir ini memang kantor lagi dalam keadaan sibuk-sibuknya mengingat karna akhir tahun, hingga Kenan hampir setiap hari pulang malam dan setiap hari pula Kenan berangkat dan pulang bersama Dimi.


Meskipun Fana tidak mengatakannya secara langsung tetap saja itu menimbulkan prasangka buruk untuknya.


Karna kesibukannya Kenan jarang meminta haknya karna kadang saat pulang ia sudah lelah dan setelah makan dan membersihkan diri Kenan lebih memilih terlelap. Meskipun Kenan sudah mengatakan alasannya tapi wanita tetaplah wanita yang suka berpikir seenaknya saja.


Saat kita sibuk dan tak memiliki waktu untuk libur alam membuat kita sakit agar kitamemiliki alasan untuk meliburkan diri.


Hari ini Kenan tidak pergi ke kantor sehingga Fanapun tak tega untuk meninggalkannya sendiri. Maka Fana memutuskan untuk libur hari ini mengurus suaminya.


Sebelum pergi ke kantor Dimi menjenguk Kenan kerumahnya sebentar.


Dan tanpa permisi Dimi memasuki kamar Kenan dan Fana, ia melupakan jika Kenan sudah menikah. Untung saja mereka tidak sedang membuat bayi di pagi hari.


"Astaga, Dimi, kenapa tidak ketuk pintu dulu? Itu tidak sopan, bagai mana jika aku tengah membuat bayi." Kenan mendengus tak suka atas kelancangan temannya.

__ADS_1


Kenan tak habis pikir makin ke sini tingkah Dimi semakin berani padanya.


"Maaf kak, aku lupa jika kakak sudak menikah. Lagian kakak sakit mana boleh membuat bayi." Dimi tersenyum kikuk menunjukan deretan giginya yang rapi.


"Aku titip berkas ini. Tolong berikan pada Arven." Kenan mengulurkan map berwarna hijau toska.


Fana sendiri tengah menyuapi kenan dengan bubur di tangannya.


"Apa itu yang hijau-hijau?" Dimi bertanya.


"Daun bawang." ucap Fana acuh, ia tak menyukai gadis itu.


"Astaga, kau itu kenapa buburnya pake daun bawang?"


"Kak Kenan sangat tidak menyukainya." jelas Dimi.


Fana terdiam sesaat, ia berpikir kenapa Kenan tidak bilang. Kenan justru memakannya setiap suapan yang ia berikan.


Kenan memang tak menyukai daun bawang, tapi karna Fana sudah repot-repot membuatnya ia tak tega untuk menolaknya akhirnya ia memakannya meskipun ia sedikit mual. Sampai bubur itu hampir habis ia telan.


"Aku sudah menyukai daun bawang, semenjak menikah." ujar Kenan ia tak ingin istrinya terlihat tak tau apa-apa tentangnya.

__ADS_1


"Oh, yasudah aku pergi dulu. Cepat sembuh kak." meskipun heran tapi Dimi enggan membahas lebih jauh, lebih baik ia berangkat takut terkena macet.


"Baiklah hati-hati."


Selepas kepergian Dimi, Fana menyorot tajam suaminya.


"Apa? Kau seakan mau membunuhku dengan mata tajammu."


"Kenapa tidak bilang kau tidak menyukai daun bawang?"


"Sudahlah Fana jangan di bahas, daun bawang tak akan membuatku mati. Aku lagi sakit tolong jangan mendebatku."


"Biarkan aku membuat bubur baru." Fana hendak beranjak tapi di tahan oleh Kenan.


"Tidak usah aku sudah kenyang."


"Sebentar aku ingin mengambil obat untukmu."


"Aku butuh obat yang lain." Kenan meraih tangan kanan istrinya dan memegangkannya pada miliknya yang sudah mengacung dengan tegak. Bukti gairahnya telah berdiri.


Hasratnya terasa naik ke ubun-ubun pria itu tanpa alasan.

__ADS_1


.


__ADS_2