
Keduanya pulang bersama, meskipun di dalam mobil masih tercipta keheningan Fana enggan berbicara di karnakan suaminya selalu berkata pedas padanya.
Ya mengalah adalah jalan yang di pilih wanita itu.
"Fana. Kau ingin makan lagi?" Kenan berusaha menekan egonya agar sang istri tidak terus mendiamkannya. Kalian pikir di diamkan teman sekamar itu enak? Tentu saja tidak, kalian tidak tau saja tersiksanya pria itu saat Fana mendiamkannya.
Kenan menghembuskan nafasnya kasar saat
Fana tidak merespon dirinya.
"Fana, bisakah kau jangan marah terus menerus kepadaku. Aku minta maaf jika tadi tak sengaja menyakitimu, mulai saat ini aku akan berusaha menekan egoku agar kau tidak terus-terusan menderita saat bersamaku." Kenan menggenggam sebelah tangan istrinya di saat ia tengah mengemudi.
"Aku tidak menyukai mulutmu yang selalu berkata tajam Ken, aku malu." Fana menyampaikan kekesalannya.
"Ya, mulai sekarang aku akan coba diam di saat aku suaraku tak memiliki manfaat." Kenan sebelumnya belum pernah semengalah ini pada istrinya.
"Maaf." Sambungnya lagi.
__ADS_1
"Jangan sekali lagi mencoba menghinaku. Aku bukan Fana yang pemaaf, Fana di sampingmu ini adalah Fana yang selalu ingin membalas setiap rasa sakit yang ku dapatkan."
"Ya aku akan coba." Ucap Kenan sungguh-sungguh.
.
Semenjak saat itu Kenan benar-benar berhati-hati saat berbicara. Tapi anehnya tubuhnya semakin kemari semakin tak berselera makan ia tidah menyukai beberapa bau menyengat termasuk bau parfumnya sendiri. Dan satu lagi yang tidak Kenan sukai adalah aroma dari nasi matang. Sungguh perut Kenan terasa di aduk-aduk oleh aroma itu.
Hampir tiap pagi pula pria itu selalu mual, padahal tidak ada yang ia muntahkan sama sekali.
"Ken sepertinya kau harus kedokter. Sungguh aku tak tega melihatmu seperti ini." Fana mengusap rambut suaminya yang kini tengah berbaring di pangkuannya.
"Fana, aku ingin melakukan tes kembali pada bayi kita. Feelingku mengatakan jika bayi kita ada dua bukan hanya satu." Sudah berkali-kali Kenan berpikir seperti itu.
"Itu terlalu berharap Ken." Fana menjawil hidung suaminya ia gemas dengan Kenan yang bertingkah manis seperti ini.
"Fana aku sudah membangun rumah impian kita sendiri. Aku ingin memiliki banyak anak darimu." Kenan tersenyum membayangkan jika dia akan memiliki banyak anak dari istrinya. "Tapi aku ingin memiliki empat anak petempuan dan dua anak laki-laki."
__ADS_1
"Banyak sekali, lebih baik kau saja yang melahirkan." Fana mengerucutkan bibirnya.
Kenan bangun dari tidurnya, "Cepat bangun dan bersiap kita harus kedokter."
Kenan tersenyum lebar saat dokter mengatakan jika anak yang ada di perutnya memang kembar.
"Fana, kau lihat aku tidak pernah salah bukan?" Kenan tak dapat menahan dirinya dengan terus mengecupi wajah istrinya.
Kenan memboyong istrinya ke rumah baru mereka. Ia ingin anak-anaknya kelak tinggal di rumah ini.
Fana memanut dirinya di depan cermin ia memperhatikan bentuk tubuhnya yang bergelambir, karna nafsu makannya tidak pernah bisa ia kontrol.
Tiada lagi wajah tirus yang mulus. wajah itu kini semakin di tumbuhi banyak jerawat dan plek hitam. Ia menyentuh pipinya sendiri, "Aku semakin buruk rupa." ucapnya sedih.
"Tidak kata siapa? kau semakin cantik." Kenan menghampirinya menyodorkan segelas susu hamil juga beberapa potong kue.
"Tidak usah di manis-maniskan mulutmu tetap saja bau muntah." Fana mendekati suaminya ia yakin jika suaminya baru selesai muntah terbukti dengan matanya yang sayu juga dengan bibirnya yang basah.
__ADS_1
"Hm, aku muntah lagi membuat susu untukmu. Karna mencium nasi matang. Ternyata menjadi orang hamil itu sangat sulit, Tuhan sangat baik padaku. Memberikan rasa ini agar aku lebih menghargaimu. Terimakasih untuk kesempatan yang kau berikan meskipun aku mintanya dengan paksa darimu." Kenan mengecup bahu kiri istrinya