Terpaksa Menikahi Gadis Culun

Terpaksa Menikahi Gadis Culun
Mengumpulkan hukuman


__ADS_3

"Ken!"


"Kenan. Kau sedih?" Fana beranya ragu-ragu.


"Tentu saja, jika saja aku masih memiliki kesempatan aku ingin meminta maaf karna sudah bertindak semauku, aku terlalu kejam pada Arven." Baik Fana maupun Shifa melihat kesungguhan di raut wajah itu, kesedihan jelas terlihat di wajahnya yang sayu penuh penyesalan.


"Sepertinya aku harus pergi Fana, aku akan mengurus kepulangan serta pemakaman Arven sebagai bentuk baktiku sebagai atasannya. Aku tak ingin di hantui perasaan bersalah." Kenan yang ingin pergi di cegat oleh Fana, lutut Fana sudah gemetar kakinya seakan tak kuat menopang tubuhnya sendiri, ia sangat takut jika Kenan akan murka padanya. Dan cara satu-satunya di sini adalah berusaha bermain kata sebaik mungkin. Jangan sampai Fana salah lagi dalam berbicara, bisa-bisa ia pindah alam hari ini. Kan tidak lucu adiknya yang sakit ia harus menyusul ikannya ke alam baka.


"Sabar dulu Ken."


"Apa lagi Fana?" Hidung Kenan memerah karna berusaha menahan tangisnya matanya madih di lapisi kaca-kaca yang siap tumpah.


"Setiap hal pasti ada hikmahnya kan? Dari kejadian ini kau jadi menyadari kesalahanmu dan kau ingin meminta maaf, serta menyesal kan. Ingat ini yah! Jika seseorang melakukan kesalahan lalu kemudian orang itu meminta maaf, maafkan lah ia biar hidupmu tenang. Kau mengerti maksudku kan?" Fana bicara sangat hati-hati, ibarat kata dirinya sedang melintasi jembatan rapuh di atas jurang Fana harus memperhitungkan langkahnya jika tidak ia akan terjerumus ke dasar jurang itu.


"Ya, lalu apa hubungannya?"


"Jika aku melakukan kesalahan tanpa ku sengaja kau akan memaafkankukan." Fana sudah meremat kesepuluh jemarinya bergantian, telapak tangannya terasa dingin tapi juga berkeringat ia takut jika Kenan akan memotong lidahnya karna secara tidak langsung ia yang membuat Kenan menangis.


"Asal bukan penghianatan aku bisa memaafkannya." Kenan berkata tegas, tak ada keraguan di dalam katanya.

__ADS_1


Fana sedikit bernafas lega setidaknya ia tidak terlalu jauh berpikir, tapi Fana juga butuh jaminan. "Kau janjikan akan memaafkan kesalahanku?"


"Ya aku janji. Tapi aku harus pergi sekarang." Kenan sudah melangkah tapi Fana buru-buru berlari dan menghadang langkah kenan.


"Ken tunggu!"


"Apa lagi?" Kenan mulai kesal nada bicaranya sudah berbeda, bahkan Kenan mengusap wajahnya kasar beberapa kali. "Jangan bercanda kali ini Fana." Kenan berharap Fana mengerti, tapi hatinya juga bertanya sejak kapan Fana berhenti menangis?


"Ken, aku mau membuat pengakuan." cicit Fana pelan.


"Pengakuan?" Perasaan Kenan sudah mulai tak enak, apa Fana mengerjai dirinya atau ia akan mrnceraikannya karna wanita itu sudah menyadari perasaannya.


"Se-se-sebenarnya, a-a-aku."


Fana berusaha menguatkan diri ia mensugesti dirinya sendiri jika semua akan baik-baik saja.


"Arven yang mati adalah ikan peliharaanku selama tiga tahun bukan Arven asistenmu." Fana menundukan kepala, tak berani menatap suaminya.


"Katakan sekali lagi!" Saking marahnya Keban berucap tanpa membuka mulutnya, kalimat itu lolos begitu saja diantara gertakan giginya.

__ADS_1


"Arven yang mati adalah ikan peliharaan selama tiga tahun bukan Arven asistenmu." Fana kembali mengulang kalimatnya, kali ini ia memberanikan diri mengangkat wajahnya menatap raut suaminya yang tak bersahabat.


"Jadi yang mati Arven lain? Bukan Arven asistenku?"


"Iya. Ken" Suara Fana bergetar.


Ada perasaan lega pada relung hati Kenan, ada juga perasaan yang bersalahnya yang sekarang telah menguar entah kemana. Kenan mengepalkan tangan, lubang hidungnya mengembang seiring tatapannya yang menghunus tajam.


"Kau tadi salah paham Ken."


"Jangan marah kau berjanji akan memaafkanku." Fana memperingatkan.


"FANAAA ..."


Teriakan yang menggelegar seakan petir yang menyambar.


Shifa juga menelan ludahnya alot, ia yang mendengar percakapan antara keduanya menjadi ngeri sendiri melihat amarah yang terkumpul di tubuh pria itu. Kenan mengepalkan kedua tangannya sampai buku-buku tangannya memutih pucat.


Shifa juga sedikit khawatir takut-takut Kenan memukul kakaknya, bisa-bisa Fana tak sadarkan duri dengan sekali pukulan, tapi ia juga tidak memiliki keberanian untuk menengahi.

__ADS_1


Kenan dapat melihat wajah ketakutan di hadapannya, ia juga menahan malu luar biasa karna meneteskan air matanya dihadapan Shifa dan Fana, Kenan menyimpulkan pasti kedua kakak beradik itu me nganggapnya lemah, padahal tidak sama sekali.


"Tunggu saja. Aku sedang mengumpulkan hukuman untukmu." Kenan mengetatkan rahangnya. Kenan memilih keluar untuk meredakan emosi di dadanya, ia juga tak ingin kehilangan kendali dan malah melukai orang lain saat tengah marah.


__ADS_2