Terpaksa Menikahi Gadis Culun

Terpaksa Menikahi Gadis Culun
Mobil hilang


__ADS_3

Kenan menyadari saat ini bathdrobe yang kini ia kenskan terbuka dan memamerkan pusakanya. "Apa dia juga melihatnya, atau sudah menyentuhnya sedikit saat aku tertidur?" Ia masih bertanya pada dirinya sendiri.


Kenan sudah membersihkan tubuhnya terlebih dahulu, tapi ia masih berada di dalam kamarnya menunggu Fana dengan tidak sabar. "Sebenarnya dia tidur atau mati sih?" Karna semakin kesal Kenan menunggu akhirnya ia membangunkan istrinya. "Bangun! Semua orang sudah menunggu di meja makan." Kenan menepuk-nepuk pelan pipi istrinya.


Fana menggeliat dalam tidurnya matanya terasa sangat lengket, mungkin karna semalam ia tertidur sangat larut malam di karnakan masih terngiang-ngiang sesuatu yang berada di pangkal paha suaminya.


Fana mengeritkan kening merasa aneh karna Kenan tak mengenakan pakaian kerjanya, "Kau tidak ke kantor?" Pertanyaan Fana mendadak terdengar seksih di telinga Kenan, suara serak khas bangun tidurnya mampu menggelitik kesadaran Kenan.


"Aku lelah, jadi hari ini aku tidak kekantor mungkin kita bisa jalan-jalan ke pusat perbelanjan."


"Katanya kau lelah, tapi kenapa malah mau jalan-jalan?" Fana tidak habis pikir dengan isi kepala suaminya.


Kenan gelagapan untuk menjawab, tadinya ia hanya ingin berjalan-jalan dengan Fana saja tapi ia lupa jika tikus culun ini selalu bdrtanya-tanya tentang semua hal, "Mama yang mengajak kita." Terpaksa Kenan menjadikan Maanya sebagai kambing hitam.


"Mama sudah kembali? Aku kangen." Fana beranjak dari tempat tidur, tapi langkahnya terhenti saat kenan menarik kerah bajunya seperti anak kucing.


"Kau mau kemana? Ilermu belepotan, mandilah lebih dulu."


Bengan reflek Fana mengusut muhutnya menggunakan punggung tangannya. Kenan sampai tertawa di buatnya.


"Ishh, tidak ada iler sama sekali, apa mulutmu terasa pegal saat tidak mengerjaiku?"

__ADS_1


"Ya anggap saja begitu."


.


"Ma, kita mau ke mall mana?" Fana membuka suara di tengah kunyahannya.


"Mall? Maksudnya?"


"Kata Kenan Mama ngajak aku dan Kenan untuk pergi jalan-jalan." Mama melitik putra tunggalnya yang kini sudah memincingkan mata untuk meminta bantuan.


"Ya, i-iya, Mama mengajak kalian, tapi sepertinya kalian harus pergi berdua saja ya?Mama sangat lelah," Ucapnya.


.


"Sialann!" Kenan terus memaki, "Apa gunanya kalian? Aku menggaji kalian sangat besar bisa-bisanya kalian menghilangkan mobilku." Kenan memarahi semua anak buahnya yang berjumlah enam orang.


"Ada apa Ken? Kenapa marah-marah?"


"Mereka sudah menghilangkan mobil kesayanganku. Jika sampai kalian tidak menemukan mobilku hari ini juga, lihat saja kalian akan menjadi pengangguran." Kenan mencengkram kerah salah satu anak buahnya, tidak gentar sama sekali diri Kenan saat mengatakan itu, padahal tubuh para pegawainya lebih besar darinya.


"Ken tenangkan dirimu."

__ADS_1


"Bagai mana aku bisa tenang saat benda ke sayanganku hilang, dan bahkan orang-orang bodoh ini tidak mengetahuinya sama sekali." Kenan terus memaki.


"Ken. Ku mohon, tutup mulutmu jangan berbicara yang tidak pantas pada orang lain. Setiap orang memiliki perasaan yang berbeda bisa saja mereka sakit hati padamu." Shafana mendekat dan berbicara lembut mengusap pundak seaminya bertujuan agar amarah pria itu bisa sedikit teredam.


"Aku tidak peduli mereka memang bodoh."


"Kalian, kembalilah bekerja, tolong jangan di ambil hati ucapan suamiku. Bubarlah!"


"Baik Nona!" semua pegawai membubarkan diri.


"Hei aku yang menggaji kalian, kembali!" Kenan kembali memaki. "Bereksek."


"Tenanglah, Ken dinginkan kepalamu. Ayo, lebih baik kita pergi dengan mobil lain."


Kali ini Kenan diam, meskipun hatinya masih kesal tapi sebisa mungkin pria itu menahannya karna tidak ingin harinya malah semakin berantakan.


"Padahal semalam aku masih menghunakan mobilku." Ucapnya.


"Jangan sedih, mungkin Tuhan akan menggantinya dengan yang lebih baik, atau Tuhan mempunyai rencana lain untukmu." Shafana mengusap bisep suaminya.


"Hmm."

__ADS_1


__ADS_2