
"Kau ini kenapa? Aneh sekali." Fana mencibir suaminya.
"Kau jangan berpikir jika aku ada sangkut pautnya dengan kehamilan Shifa." Kenan tidak ingin jika Fana yang polos itu memikirkan ia dan adik iparnya memiliki scandal.
"Ck, kau ini. Tenang saja aku tidak berpikir ke arah sana, aku sedang memikirkan hal lain." Fana menyaut, wanita itu terlihat sedang berpikir keras sampai dahinya ikut mengkerut dalam.
Kenan di buat cemas sekaligus penasaran dengan isi otak istrinya, biasanya Fana selalu mengatakan hal yang tak derduga dengan isi kepalanya. Terus terang saja Kenan kadang terhibur dengan tingkah konyol Fana, pemikiran gadis itu terlalu sederhana.
"Ken?"
"Ada apa?" Kenan melirik malas istrinya, yang kini tengah meremat kesepuluh jemarinya secara bergantian, telapak tangan wanita itu juga berkeringat. Kenan yakin Fana tengah merasa cemas.
"Ken. Bagai mana jika Shifa memintamu untuk menikahinya." Fana menggigit bibir bawahnya, ia tak siap jika Kenan melepasnya sekarang. Wanita memalingkan wajahnya merasa was-was jika jawaban suaminya akan membuatnya terluka.
Kan benar yang Kenan katakan istrinya selalu berpikir terlalu jauh.
__ADS_1
"Jangan hanya diam! Jawab pertanyaanku." Fana menatap suaminya, ia mendelikan matanya agar suaminya bersuara.
"Aku tidak ingin kau tersinggung, jadi aku tidak ingin menjawab." ucap Kenan acuh.
"Kau, ingin menceraikankukan? Kemudian menikahi Shifa." Fana mengusap sebulir air mata yang membasahi pipinya, ia tidak tau bahwa ia secengeng ini di hadapan orang lain, etah ia terluka karna ucapannya sendiri atau karna Kenan tidask menjawab pertanyaannya.
"Hey jangan menangis."
"Tidak, aku hanya kelilipan." bohong Fana mengusap kasar matanya.
Kenan tau istrinya berbohong jelas-jelas Kenan melihat sendiri air mata Fana terjatuh tadi.
"Aku tau kau menyukai Fana dari dulu."
Kenan membenarkan dalam hati.
__ADS_1
"Jika, kau menikah dengan Fana kau tidak usah cape-cape membuat anak, karna Fana kini tengah hamil. Bukannya kau ingin seorang bayi?" sekuat mungkin Fana menahan perih ia tak ingin terlihat menyedihkan di mata Kenan.
Munafik sekali Fana, dari dulu berkata siap di cerai Kenan kapan saja, nyatanya ia tidak sekuat itu. Meskipun tidak mencintai suaminya tapi ia ngeri sendiri membayangkan setatusnya yang janda di usia muda.
"Aku tidak akan menikahinya, kau tenang saja."
"Aku memang menginginkan seorang bayi." Ucap Kenan. "Tapi aku menginginkan bayi dari benihku sendiri." Kenan jujur dalam mengatakan itu.
"Lagi pula membuat bayi bagiku hal itu adalah pekerjaan yang paling menyenangkan." mata Kenan menggerling nakal. Yang sontak mendapat hadiah tinjuan dari istrinya tepat di bisep kekarnya. Kenan langsung tertawa dengan kencang di tengah fokusnya mengemudi.
Sedangkan wajah Fana sudah merah merona layaknya tomat yang siap panen. Kenan menyukai istrinya yang tengah tersipu seperti itu terlihat sangat menggemaskan di hadapannya meskipun ia selalu menyangkalnya.
"Kau benar-benar tidak akan menikahi Shifa kan?" Fana kembali bertanya, bukan ia tidak mendengar, hanya saja ia tak ingin salah paham dengan presepsinya sendiri.
"Kau itu tuli ya? Atau jangan-jangan kau bertanya begitu ingin menjadi janda agar kau bisa bebas mengunjungi kekasih arwahmu itu. Jangan harap itu terjadi! mimpi saja kau." Tiba-tiba Kenan membentak ia marah jika benar kenyataannya seperti itu.
__ADS_1
Tuh kan Kenan ngereog lagi, pasti jin iprit yang sering membuat Kenan marah merasukinya lagi pikir Fana, "Sabar, Fana suamimu bisa jadi titisan, aing maung." ucap Fana dalam hati.