
*Seminggu telah berlalu
Pagi-pagi Kenan terbangun lebih dulu, tepat dihadapannya terpampang nyata wajah Shafana yang masih terlelap dengan tenang, wanita itu terlihat sangatlah cantik, dengan rambut yang terurai secara acak serta bulu mata yang lentik tapi perhatian Kenan terarah ke tempat lain, tepat dimana bibir wanita itu berada bibirnya sedikit terbuka dengan warna semerah Cherry.
Terlihat sangat menggoda di mata Kenan, ingin rasanya kenan mencicipi bibir manis itu, apalagi dengan jarak yang sangat dekat, hanya sekitar sepuluh senti dari wajahnya bibir itu berada.
"Sadarlah Kenan, pasti wanita itu sedang menggodamu, sabarlah sedikit lagi Ken, kau pasti bisa membuktikan jika wanita itu sangat jahat dan berlakon seperti malaikat." Kenan kemudian beranjank ke kamar mandi.
.
Seminggu telah berlalu tapi hubungan keduanga tidak membaik, mereka akan bersandiwara jika di hadapan orangtua mereka atau di hadapan orang lain, tapi jika keduanya tengah berdua maka waktu yang di habiskan adalah berdebat atau bertengkar, apalagi dengan Kenan yang mulutnya tidak bisa di kondisikan sama sekali, hampir setiap pagi mereka berangkat bersama tapi jika sudah di tengah jalan Kenan selalu menurunkan istrinya dan tak perduli istrinya akan berangkat menggunakan apa.
.
"Ma, nanti malam aku ada acara dengan teman Smaku." Kenan memberi tahu Mamanya di sela ia menikmati sarapannya.
"Kau mengajak istrimu?" Mamanya menanggapi ucapan putranya dengan pertanyaan.
"Tidak, aku akan pergi sendiri Ma, lagi pula Moza tidak pernah ikut reuni."
__ADS_1
"Justru itu kau harus mengajaknya, lagi pula kau dan Fana sekolah di sekolah yang sama." Mama tetap kekeh agar putranya mengajak menantunya pergi.
"Aku tidak bisa Ma, aku harus pergi sendiri. "
"Jika kau tidak mengajak Fana, lebih baik kau juga tidak usah pergi."
"Aku itu panitia acara Ma, aku tetap harus hadir dan aku tidak mau mengajak Moza, jangan selalu mencampuri urusanku, aku bukan anak kecil lagi jadi berhenti mengatur jalan hidupku." Nada tinggi itu keluar dari mulut Kenan, sampai mata Mamanya berkaca-kaca mendapat bentakan dari putranya sendiri.
"Jaga Nada bicaramu saat sedang berbicara pada orang tua, jangan sampai Papa kembali melukaimu karna sikapmu itu." Papa yang sejak tadi diam akhirnya turut berbicara.
Kenanpun menyesal karna telah meninggikan suara pada Mamanya, ia menghembuskan nafas lelah.
"Ma, Fana tidak ikut, ada banyak pekerjaan yang harus Fana selesaikan, biarkan Kenan pergi sendiri." Fana memotong cepat, ia tidak ingin hubungan orang tua dan anak itu kembali menegang.
"Tidak bisa sayang, jika kau tidak ikut maka Kenanpun tidak akan pergi." Tukas Mama cepat.
"Terserah." Kenan meninggalkan meja makan meskipun sarapannya belum sempat ia habiskan, bahkan kenan tidak minum saking kesalnya.
Shafana mengekori langkah suaminya dan ikut masuk dalam kamar.
__ADS_1
"Ken, kau bisa pergi sendiri nanti malam, biarkan berbicara pada Mama menjadi urusanku."
"Kau ingin melihat Mama semakin memarahiku begitu, sungguh kau benar-benar wanita paling munafik yang pernah ku temui."
Kenan justru semakin meledak-ledak menjengar ucapan istrinya, bagi Kenan Shafana sengaja ingin memperburuk keadaan dengan mengatakan jika dia tidak bisa ikut, maka Mamanya akan bertambah menyalahkannya.
Shafana mematung mendedengar kalimat yang Kenan ucapkan.
"Kau itu wanita munafik Moza, lihat saja aku akan membongkar topengmu di hadapan semua orang." Kenan menunjuk-nunjuk wajah Shafana menggunakan jari telunjuknya.
Shafana hanya diam untuk beberapa saat.
"Ayo kita berpisah."
"Kau pikir hanya dirimu yang terpaksa menjalankan pernikahan ini, aku juga sama terpaksanya, kau sangka aku sangat bahagia menjadi istrimu tidak sama sekali Kenan. Kau mengatakan aku adalah wanita paling munafik, ya aku mengakuinya aku adalah wanita paling munafik kau pikir aku tidak lelah, harus berpura-pura bahagia menjadi istrimu, aku harus di paksa menampilkan senyuman palsu ku di hadapan semua orang, jadi mari kita akhiri semuanya."
"Aku akan bicara pada Mama sekarang juga. Tidak ada yang harus di pertahankan dari pernikahan buruk dan penuh sandiwara ini."
Kali ini Kenan yang membatu, ia masih linglung saat Shafana meneriakinya dengan lantang.
__ADS_1
"Jangan berani bicara macam-macam pada Mamaku atau aku akan menghabisimu menggunakan tanganku sendiri."
"Habisi saja, aku tidak takut dengan atau tidaknya kita berpisah kau akan membunuhku secara perlahan dengan tingkahmu itu."