Terpaksa Menikahi Gadis Culun

Terpaksa Menikahi Gadis Culun
Tak ingin rugi


__ADS_3

"Dok katakan sekali lagi." Perintah Kenan,tatapannya sudah menerawang jauh.


"Kalimat mana yang harus saya ulangi." dokter itu mengernyitkan kening dengan alis menyatu.


"Benarkah istriku hamil dok?" Kenan ragu-ragu dalam bertanya, ia juga harap-harap cemas takut apa yang di dengarnya barusan adalah kekeliruan.


"Ya, Tuan istri anda memang hamil."


"Kau yakin?"


"Saya yakin Tuan."


"Jangan sampai kau kehilangan fropesimu karna ini." Ancam Kenan lagi.


"Saya jamin ini asli." dokter dengan Syal di kepalanya mengeluarkan sebuah potret hitam putih yang tidak kenan ketahui itu foto apa.


"Ini foto bayi anda Tuan." dokter itu menunjukan kehadapan Kenan.


"Mana bayinya?" sentak Kenan, dokter itu hanya menggelengkan kepalanya.


"Titik putih itu ini adalah kantung bayi anda, sangat kecil tapi ia akan terus berkembang seiring berjalannya waktu." Dokter itu menjelaskan apa saja yang akan di lalui orang hamil.


Kenan keluar dengan rasa bangga dan bahagia.


"Arven, Aku akan menjadi seorang Ayah." ucapnya senang.

__ADS_1


"Selamat Tuan, semoga Nona dan bayinya sehat sampai melahirkan."


"Terimakasih." Kenan menepuk pundak Asistennya. "Tolong kabari orang tua serta mertuaku. Arven."


"Baik, Tuan."


"Aku harus menemui Fana." Setelah mengatakan kabar bahagianya Kenan melenggang memasuki ruangan istrinya.


"Fana ..."


Kenan menghampiri istrinya.


"Kenapa kau ada di sini?" Fana membuang pandang.


Fana mengerjapkan matanya beberapa kali. "Bumil? Anak? Apa maksudmu?" Fana masih bertanya-tanya.


"Kau hamil, Fana kita akan menjadi orang tua." Kenan menangis. "Di sini," Kenan menyentuh perut rata istrinya. "Ada Moci kita yang sedang tumbuh." Kenan tak kuasa menahan haru di jiwanya. Ia ambil kedua tangan istrinya ia kecupi berkali-kali.


"Aku hamil, Ken?" Fana masih belum percaya.


"Fana kau akan menjadi seorang ibu, jadi sudahi bodohmu." Kenan frustasi.


Fana memeluk perutnya sendiri, dadanya terasa menghangat,


"Di perutku ada bayi." Fana meneteskan air matanya. "Terimakasih Tuhan, Terimakasih kau telah menitipkannya padaku." gunam Fana bahagia.

__ADS_1


"Ken rahasiahkan kehamilanku ya!" Fana mengalihkan tatapan padasuaminya.


"Kenapa? Ini kabar bahagia, semua orang pasti senang." Kenan tidak habis pikir kenapa istrinya berbicara seperti itu.


"Kita akan bercerai. Prosesnya akan lama jika aku hamil, bisa-bisa pemohonanku di tolak." Fana mengigit kukunya. "Bagai mana ini? harusnya kau menampakan diri saat aku dan Ayahmu bercerai sayang." Fana bergunam tapi masih terdengar oleh Kenan.


Kenan meyoroti dengan wajah terluka, bisa-bisanya Fana masih memikirkan perceraian di saat ia akan menjadi orang tua. Sebesar itukah kesalahannya, Kenan tak ingin anaknya terlahir dengan keadaan rumah tangganya yang berada dalam kehancuran.


"Fana, tidak bisakah kau mengalah setidaknya untuk kali ini saja. Kau boleh memperlakukan aku seperi yang kau mau, Kau boleh mengaturku tapi jangan membuat anakku tak mengenal aku sebagai ayahnya." Kenan menggenggam erat tangan istrinya.


Tadinya ia berpikir, setelah Fana hamil maka Fana akan membatalkan percerainnya tapi ternyata Fana masih ingin melanjutkan niatnya.


Fana menarik nafasnya panjang dan mengeluarkannya lewan hidung.


"Mau buat kesepakatan denganku?" tawar Fana. Baiklah ia mengalah tapi jangan sampai ia rugi pikirnya.


Kenan mengangguk cepat, "Apapun itu."


"Aku mencintaimu Fana."


"Bagai mana jika kau mengakuiku sebagai istrimu besok malam di depan semua teman-temanmu di pesta resepsi pernikahan Miranda. Aku juga ingin aset dan saham di kantormu sebesar lima puluh persen." Ucap Fana lantang terserah Kenan setuju atau tidak, yang jelas ia tak ingin rugi, setidaknya ia akan mempunyai harta untuk anaknya.


Selama ini semua orang menganggapnya bodoh, tapi tidak kali ini, si Culun ini berubah menjadi wanita yang tegas.


"Baik Fana, aku akan mengurusnya. Jadi akhiri marahmu dan pulanglah kerumah kita."

__ADS_1


__ADS_2