
"Kenan, siapa Moza?" Miranda bergetar saat bertanya itu pada teman sekolahnya.
Kenan tidak lansung menjawab, ia memilih meminta mic terlebih dahulu di sana.
"James, aku meminta waktumu sebentar." ujar Kenan.
"Silahkan Tuan." James mempersilahkan tuannya untuk berbicara.
"Selamat malam, dan selamat berbahagia. Aku Kenan Moses dengan bangga mengakui jika aku sudah menikahi Shafana Moses beberapa bulan yang lalu. Puji Tuhan istriku kini tengah mengandung anak pertama kami. Sekian dan terimakasih." Singkat padat dan jelas. Awak media juga segera merekam apa yang di sampaikan oleh pewaris keluarga Moses.
Semua orang tidak percaya atas pengakuan Kenan mereka menerka-nerka apa yang sebenarnya terjadi di antara Moza dan Kenan.
Miranda bahkan menunduk malu. Dan meminta maaf.
Ketiga sahabat Kenan mengucapkan selamat kepada Kenan dan Shafana.
Di ujung ruangan ada seorang pria menginjak dengan penuh amarah bunga yang ia bawa sedari tadi. Dia adalah Ziano, Ziano pikir ia masih memiliki peluang untuk memiliki Moza untuk dirinya sendiri meskipun sudah menikah dengan Kenan, Ziano beranggapan jika Fana akan segera bercerai dengan Kenan tapi ternyata pandangannya salah. Kenan malah mengumumkan pernikahan mereka di hadapan publik.
"Kau tidak tau betapa lama aku mencintaimu Moza, aku terlalu banyak berkorban untukmu. Tapi kau malah menerima orang lain sebagai suamimu. Kau melukaiku Moza." Ziano meneteskan air matanya, bagai mana tidak terluka, sejak lama Ziano menyembunyikan perasaannya dan di saat ia merasa dirinya pantas untuk memiliki wanita itu Fana justru sudah di miliki pria lain.
setelah pengumuman pernikahan antara Fana dan Kenan tak ada satupun dari mereka yang berani mendekat kearah pasangan itu. Hanya Arven sang asisten yang berada di sana.
__ADS_1
"Ken, aku menginginkan kue pengantin." Fana meneguk salivanya berulang kali sambil menatap kearah kue yang berada di tengah ruangan itu.
"Fana, jangan bertingkah. Aku tau kau tidak menyukai Miranda, tapi jangan mengacaukan pernikahannya seperti ini, tolong jangan mempermalukan aku kali ini." Kenan berbisik menatap tajam istrinya.
Ternyata Kenan tak ingin di permalukan ternyata pikir Fana, ya Fana sadar dirilah Kenan mengakuimu sebagai istrinya tidak lebih sebagai bentuk dari janji juga sebagai pengakuan pada bayinya bukan untuk dirimu Fana. Fana terus membatin. Sungguh jika boleh memilih ia lebih ingin menikah dengan pria biasa saja, ia tak ingin tertekan dan merasa terbebani dengan status orang hebat seperti Kenan.
Kenan tak ingin menghancurkan pernikahan pegawai serta temannya. "Nanti akan ku belikan kue lain untukmu,"
"Ya sudah jika tidak boleh. Aku tidak memaksa." Fana mencoba mengalihkan tatapannya dari kue itu.
"Tunggu sebentar di sini dengan Arven, aku akan mengambil kudapan terlebih dahulu." Kenan memerintahkan asistennya untuk menemani istrinya.
"Tidak, Arven aku tidak menginginkamnya." bohong Fana, ia tidak berani mengatakan keinginannya pada orang lain selain suaminya.
"Tunggu sebentar jangan kemanapun Nona, jangan membuat aku kehilangat pekerjaanku." Ucap Arven tegas.
Fana memperhatikan Arven yang menaiki pelaminan dan berbisik di pengantin pria sampai James menganggukan kepalanya.
"Kau sedang melihat apa? Jangan katakan jika kau menginginkan menjadi pengantin." tiba-tiba Kenan kembali dengan beberapa potong kue di tangannya.
"Tidak, aku tidak ingin menjadi pengantin. Apalagi pengantin dari pria sepertimu." ucap Fana pelan. Tapi masih terdengar jelas di telinga Kenan.
__ADS_1
"Kau."
"Sudahlah makanlah, aku tau kau lapar." Kenan menyerahkan kue yang ia bawa dan di sambut malas oleh Fana.
Wanita hamil itu mengigit dengan tidak bersemangat kue yang di bawa suaminya.
"Nona." Arven kembali dengan membawa sepotong besar kue pengantin di piringnya.
"Arven apa kue itu untuku?" Fana segera berdiri dan meletakan kue yang Kenan bawa dan segera meraih kue di tangan Arven dengan mata berbinar.
"Arven aku boleh memakannya? Sengguh." Arven mengangguk.
"Tentu saja, aku sudah meminta ijin pada pemilik." Arven segera memilih undur diri.
"Terimakasih Om Arven." Fana menirukan suara anak kecil, wanita hamil itu tak dapat menyembunyikan kebahagiaannya dengan hal kecil itu.
"Semoga kau memiliki jodoh yang mencintaimu Arven." Fana berucap tulus.
Kenan merasa dirinya tidak berguna. Kenapa dia bodoh sekali harusnya ia yang mendapatkan kue itu bukan asistennya. "Kenapa aku merasa tak berguna seperti ini." pikir Kenan.
Fana melahap kue pengantin itu tanpa memerdulikan tatapan Kenan padanya.
__ADS_1