Terpaksa Menikahi Gadis Culun

Terpaksa Menikahi Gadis Culun
porsi kuli panggul


__ADS_3

"Arven masuklah, jaga istriku. Jangan sampai sikancil betina itu melarikan diri." Ujar Kenan tegas.


"Memangnya Tuan mau kenana?" Pria muda yang tengah memainkan ponselnya itu berdiri dari duduknya dan memasukan ponsel pintarnya kedalam saku celana.


"Fana menginginkan makanan dan buah, jadi aku harus mencarinya."


"Biar saya saja yang mencarinya Tuan."


"Tidak usah, nanti malah kau yang Fana jadikan Ayah dari bayiku." Kenan menatap Arven tajam.


Pria muda itu mengerutkan kening bertepanan dengan menelan ludahnya, jujur saja Arven tak mengarti dengan apa yang di ucapkan bosnya itu. "Maksud Tuan bagai mana?" tanyanya tak mengerti.


"Kau itu bodoh atau idiot sih? Kenapa tidak mengeeti maksud dari ucapanku. Fana kini tengah hamil dan dia ingin aku mencarikannya makanan karna aku Ayah dari bayinya." terang Kenan.


Meskipun tidak begitu mengerti dengan ucapan Bosnya Arven hanya mengangguk patuh. "Baik Tuan, saya masuk ke ruangan Nona sekarang." Menghindari berdebat dengan Kenan adalah jalan terbaiknya saat ini pikir Arven.


Kedua orang tua Kenan dan Ayah Rendy benar-benar datang ke rumah sakit. Mereka sangat bahagia mendengar kabar yang di sampaikan Asisten Arven.

__ADS_1


Mereka mengucapkan selamat pada anak mereka, bahkan Mama Lily sampai menangis haru karna ia akan memiliki cucu pertamanya.


"Selamat sayang. Semoga kalian selalu sehat dan bahagia."


Ketiga orang tua serta satu wanita hamil asyik berbincang ringan membicarakan seputar kehamilan sedangkan Arven sudah keluar sedari tadi semenjak para tetua datang.


"Cepat makan selagi makanannya hangat." Kenan segera menghampiri istrinya dengan dua kantung makanan satu kantong masakan padang dan satu lagi buah pear yang berjumlam empat buah, juga sebotol besar air mineral berisi 1,5 liter di tangannya.


Kenan menyiapkan nasi padang itu di hadapan istrinya pria tampan itu juga mencuci tangannya sendiri dan ya kejutan Kenan menyuapi istrinya menggunakan tangannya sendiri.


"Buka mulutmu!" perintah Kenan lembut. Di kelima jari tangannya sudah terdapat nasi lengkap dengan lauknya.


Fana menatap heran suaminya. "Ken aku bisa makan sendiri. Kau tak perlu menyuapiku." Fana merasa tak enak, sebenarnya ia masih mampu untuk makan sendiri, bukan seperti pesakitan yang harus di suapi seperti ini.


Kenan mengira apa yang di ucapkan Fana adalah suatu pemolakan. "Jangan terlalu percaya diri aku bukan menyuapimu. Aku hanya menyuapi bayiku." sambar Kenan lagi membuat Fana mau tak mau membuka mulutnya.


Sumpah demi apapun Fana malu sekaligus terharu seumur-umur ia tidak ingat apakah ia pernah makan di suapi atau tidak. Sekalipun dengan kedua orang tuanya. Apakah mungkin makanannya datang begitu saja pafa mulutnya saat ia bayi dulu.

__ADS_1


Fana terus melahap setiap makanan yang diberikan oleh suaminya sampai makanan itu tandas tak tersisa. Fana juga meneguk air mineral itu langsung dari botolnya sampai hanya tersisa setengahnya. Benar-benar rakus.


Mama Lily menyodorkan buah pear segar dalam piring yang sebelumnya sudah di cuci dan di kupas lebih dulu.


Seperti seorang yang kesurupan Fana menghabiskan seluruh makanannya kecuali satu butir pear yang di makan Papa Luki.


"Ken, kapan aku boleh pulang? Aku sudah merasa sehat." ujar Fana.


"Ya, kau memang sehat. Jika tidak sehat mana mungkin kau menghabiskan makanan seperti seorang kuli panggul." cibir Kenan.


"Kenan." tegur semua orang serempak.


Fana mengerucutkan bibirnya.


"Wanita hamil memang seperti itu, Fana butuh nutrisi untuk bayi kalian." mendengar kata bayi Fana tersenyum dan meraba perut ratanya.


"Biarkan saja makanku di sebut porsi kuli panggul."

__ADS_1


__ADS_2