Terpaksa Menikahi Gadis Culun

Terpaksa Menikahi Gadis Culun
Kau sableng


__ADS_3

"Lalu untuk apa kau merahasiahkan pernikahan kalian?" Eldy bertanya penuh selidik.


"Itu karna aku memiliki alasan."


"Alasan?"


"Ya, dan tolong kalian juga merahasiahkan ini. Aku berkata jujur pada kalian, karna kalian sahabatku, aku mempercayai kalian."


"Bukan karna takut Istrimu di lamar Eldy?" Azka sangat jujur


"Itu juga salah satunya. Jadi sekali lagi tolong rahasiahkan pernikahan aku dan Moza sampai aku sendiri yang membukanya." ucap Kenan tegas.


"Terimakasih sudah mempercayai kami." Lanjut Zidan.


"Tapi aku melihat Ziano menyukai Moza juga." Azka mengatakan pendapatnya.


"Memang iya, bahkan tadi pagi saat di rumah sakit dokter cupu itu memberi sarapan pada istriku sebelum aku kembali dan aku juga membelikan bubur yang sama, aku tau Moza sudah makan tapi aku tetap menyuruhnya makan sampai ia terlihat kekenyangan dan mual." Kenan ternyata pura-pura tidak melihat Fana makan ia ingin memberi pelajaran pada istrinya.

__ADS_1


"Astaga kau kejam sekali Ken."


"Sudah aku katakan jika kau tidak menginginkan Moza, lebih baik kau berikan Moza padaku jangan menyiksanya. Ya Tuhan Mozaku yang malang." Sepertinya Eldy benar-benar menyukai Fana.


"Aku tidak menyiksanya, aku sedang mengajarinya menghargai suami." Kenan tak ingin di salahkan.


"Kau ingin di hargai sebagai suami, tapi apa kau menghargainya sebagai istri?" Arven yang sejak tadi diam, sekarang ikut bersuara.


Kenan merubah rautnya, ia memikirkan perkataan asistennya, ia membenarkan jika ia juga sering bersikap semaunya.


"Aku kasihan padanya, dia orang yang tulus." Arven masih bergunam.


"Kalian tahu? Waktu aku masih menjadi anak jalanan beberapa tahun silam, aku di tipu orang dan tak memiliki uang, Caffe Nona Moza tak sebesar sekarang, dulu hanya warung angkringan kopi biasa dengan kursi pelastik. Aku di tipu orang saat bekerja sebagai buruh panggul ternyata upah yang di berikan padaku adalah uang palsu. Aku belum menyadarinya jadi aku makan sesukaku di warung Nona Moza, sampai saat dimana aku membayar, pegawai Nona Moza mengatakan jika uang yang ku miliki adalah uang palsu aku mengatakan yang sebenarnya dari mana asal uang itu, aku terus berkata tidak mungkin uangku uang palsu, meskipun ku sadari uangku memang berbeda saat di bandingkan dengan uang asli. Aku nyaris menangis saat itu karna tak memiliki uang itu tapi ..." Arven menjeda ucapanya ia menghembuskan nafasnya.


"Tapi ..." Empat sekawan sudah tak sabar untuk mendengar kelanjutannya.


"Nona Moza menghampiri kami yang tengah berdebat, gadis baik hati itu meminta untuk melihat uangku dan mengatakan jika uang yang ku miliki uang asli dan dia rela menukar uangnya dengan uang yang ku miliki."

__ADS_1


'Uangnya asli, hanya sedikit lusuh saja, jika tidak percaya biar ku tukar uangmu.' begitulah kata Nona Moza.


"Dia juga mengingatkan untuk memberikan aku kembalian pada pegawainya. Katakan apa untungnya Nona Moza melakukan itu? Padahal hati kecilku mengaku jika uangku memang uang palsu. Mungkin Nona Moza melupakan kejadian itu tapi aku tak bisa melupakannya." Arven tersenyum.


"Tuh, kan aku tidak salah memilih calon istri." Eldy menepuk dadanya sendiri.


"Ya, salahnya kau memilih istri orang." Azka menoyor kepala temannya.


"Eh, ngomong-ngomong siapa yang masuk rumah sakit?" Eldy mengalihkan pembicaraan.


"Shifa." Jawab Kenan.


"Sakit apa?"


"Keguguran."


"Ya Tuhan kau sableng Ken, kau menikahi kakaknya dan menghamili adiknya." Astaga Azka memang senyablak itu jika berkata.

__ADS_1


"Mulutmu yang sableng. Aku tak berminat memiliki scandal dengan Shifa, dia ..." Kenan sadar sudah membuka aib keluarga Fana yang secara tidak langsung keluarganya juga. " Lupakan ... Aku permisi pulang." Kenan melangkahlan kakinya keluar apartemen Arven.


Kenan tidak memperdulikan semua orang yang memanggilnya.


__ADS_2