
Zidan dan Azka membangunkan Eldy yang tergeletak di atas lantai. Cassanova itu begitu terkejut akan perkataan sahabatnya bagai mana bisa Kenan mengatakan jika pria nyaris sempurna itu sudah menikah dengan wanita yang selalu Kenan rundung. Sebenarnya tidak masalah sih dengan pernikahan mereka lagi pula Fana sekarang sudah bertransmasi menjadi wanita mempesona dengan sejuta pesona yang terbalut pakaian kuno serta kacamata tebalnya, gaunya panjangnya juga sekarang sedikit demi sedikit wanita itu ganti Fana juga mulai menyukai make up.
"Eldy ... Eldy ... Bangun." Zidan menepuk beberapa kali pipi sahabatnya.
Arven langsung sigap mengambil minyak angin sebagai pertolongan pertama jika ada orang yang pingsan di sekitarnya. Dan langsung Arven gosok ke kepala sahabat bosnya, serta menaruh botol minyak angin itu tepat di bawah hidung Eldy bertujuan agar Eldy cepat segera siuman.
"Ken, kau benar-benar sudah menikah dengan Moza?" Azka masih di buat tak percaya meskipun tidak ia pungkiri jika Moza kekarang ini sangat cantik dan tubuh ramping yang mulus itu, astaga Azka jadi ikut membayangkan penampilan Moza waktu kemarin tenggelam. Pasti Kenan sudah menjamah tubuh indah itu.
"Kau pikir aku bercanda? Moza memang istriku" Kenan mendengus kesal.
"Arven apa benar begitu?" Azka tak percaya sehingga ia bertanya pada asisten sahabatnya.
"Ya, Tuan Azka. Tuan saya memang sudah menikah dengan Nona Moza." Arven membenarkan. Zidan masih berusaha membangunkan Eldy yang tak kunjung sadar dari pingsannya.
"Astaga, sepertinya Eldy mati." Zidan mengoyang-goyangkan pria berambut coklat itu.
Setelah beberapa saat Eldy mengerjapkan mata dan terbangun, sang Cassanova itu terduduk dengan kepala yang masih berdenyut.
"Astaga, aku bermimpi Kenan mengatakan sudah menikahi Moza." ucap Eldy pada akhirnya, pria itu masih memijat pelipisnya.
"Itu bukan mimpi Eldy, Kenan memang sudah menikahi calon istrimu." Zidan menyauti, "Jangan pingsan lagi jika tidak ku bunuh kau." Zidan masih kesal karna Eldy melongo dengan tampang pongahnya.
"Jadi itu nyata?"
"Ya."
Kenan menunjukan beberapa foto pernikahannya di ponsel Arven, untung saja asistennya itu masih waras dan memotret bosnya saat menikah dengan ponselnya. Karna Kenan tak mempunyai satu fotopun pernikahan mereka, bahkan Kenan lupa hari apa ia menikah.
" Kenapa kau tega sekali menikahi calon ibu anak-anakku." Eldy menunduk sedih, nyaris saja ia menangis. Hey padahal Eldy belum pernah seperti ini sebelumnya. Kamarin-kemarin wanita adalah mainannya tapi sepertinya kali ini akan tobat.
__ADS_1
"Jika kau sudah menikahi Moza, aku akan kembali menjadi Cassanova." Kirain Eldy benar-benar mau tobat ternyata tidak pemirsah.
"Ingat Ken, jika kau ingin mencampakkannya hubungi aku lebih dulu ya. Aku siap jadi suami untuk Moza, tak peduli jika dia janda sahabatku." Eldy terlihat bersungguh-sungguh mengatakan itu.
"Dalam mimpimu saja."
"Lagi pula, Moza tak sebaik yang kau kira, dia menyebalkan, keras kepala juga bodoh dalam hal menyenangkan pria." Astaga Kenan kelepasan berbicara pria itu sampai melipat bibirnya sendiri di saat semua mata menatapnya penuh tanya dan muka penasaran.
"Em, maksudku menyenangkan hal lain." lanjut Kenan kikuk.
"Aku yakin saat kau ninabobo dia masih ori kan?" Seperti biasa Azkalah yang berkata tanpa aling-aling.
"Tentu saja. Dan kau tau rasanya perawan? Ah sulit untuk ku jelaskan." Kenan mengulum senyumnya. Dan semua sahabatnya kompak menoyor kepala Kenan kecuali Arven, Arven tidak seberani itu, ia adalah pria yang sopan.
"Wah, apakah enak?" Azka paling antusias.
"Bangetlah." ucap Kenan. "Udah Ah, nanti kalian pengen repot." lanjut Kenan kemudian.
"Sudahlah, Eldy. Moza bukan jodohmu." Zidan menepuk bahu Eldy beberapa kali.
"Pantas saja Ken, Moza belum pengalaman."
"Nasib, nasib."
"Eh gimana ceritanya kau bisa menikahi Moza Ken?" Eldy mulai bawel kembali. "Apa saat reuni waktu itu kalian sudah menikah." Eldy dibuat penasaran.
"Ya kami sudah menikah."
"Pantas saja." Zidan mengangguk.
__ADS_1
"Kenapa?"
"Kau mau repot-repot menolongnya. Seingatku kau pria paling kebal oleh sekitar." Lanjut Zidan lagi.
"Tadinya Aku melamar Shifa, dan memaksanya untuk menikah denganku meskipun dia menolakku. Dan puncaknya dia kabur dimana pernikahanku beberapa menit lagi akan di lakukan."
"Shifa gadis incaranmu?"
"Hm,"
"Dan karna frustasi kau menikahi Moza?" tanya Eldy.
"Hampir benar, karna aku sudah kadung malu di tolak Shifa, aku akhirnya menyeret Moza kakaknya Shifa untuk kunikahi."
"Moza kakaknya Shifa?" Ketiganya serempak bertanya.
"Ya."
"Astaga aku baru tau."
"Aku juga."
"Aku juga sama."
"Pasti Moza langsung menerima lamaran pria yang nyaris sempurna sepertimu." Zidan menebak namun tebakannya salah.
"Tidak semudah itu, si Culun itu menolakku mentah-mentah." Kenan kesal saat mengingat Fana menolaknya juga. "sore hari setelah pernikahan kemudian ada duda muda yang kaya raya melamar Moza. Nah di sana aku merasa tertantang masa kalah sama duda. Padahal aku dan duda itu masih tampan aku." Kenan menceritakan awal mula pernikahannya terjadi.
"Lalu untuk apa kau merahasiahkan pernikahan kalian?" Eldy bertanya penuh selidik.
__ADS_1
"Itu karna aku memiliki alasan."