
"Aku menginginkanmu."
Tanpa menunggu jawaban Kenan membungkam mulut istrinya, bibir dan lidahnya begitu terampil saat bermain.
Tercium aroma alkohol memenuhi hidung Fana, wanita itu sangat yakin jika suaminya habis minum.
"Ken, sadarlah. Aku ini Shafana."
"Aku sadar, kau pikir aku tidak sadar." Kenan memdengus di sela aktifitasnya.
"Kau bilang, aku bukan tipemu."
"Diamlah, meskipun kau bukan tipeku aku tetaplah seorang pria dewasa yang mempunyai hormon testosteron yang butuh untuk di salurkan."
"Lepas, Ken sudah berapa kali kau menciumku? Jika aku bulan tipemu kau tidak usah melakukan ini, Aku tau kau tidak menginginkan aku."
"Aku mencimmu karna aku menginginkanmu, bahkan lebih dari sekedar ini." Kenan melanjutkan aktifitasnya, Shafana tidak bisa diam, wanita itu yerus memberontak mencoba melepaskan diri dari kuasa pria di atasnya.
"Lepas, Ken!"
"Untuk apa kau melakukan ini?"
__ADS_1
"Kau diamlah, jangan merusak moodku, aku tau kau juga menginginkan ini."
"Tidak, aku tidak mengi-"
"Ahhh." ******* itu lolos dari mulut mungilnya saat Kenan secara sengaja meremas bukit kembarnya.
"Ya Tuhan, Sintal, sekal dan kenyal, baru kali ini aku menyentuh barang yang sangat indah." batin Kenan terus menikmati.
Secepat kilat Kenan membuka seluruh pakaiannya. Hal itu justru di manfaatkan Shafana untuk berlari ke arah pintu, beberapa kali Fana menggerakan handel pintu tapi tidak terbuka sama sekali, sungguh sial sepertinya Kenan sudah menguncinya.
"Berserah dirilah padaku Mozaa, atau aku akan merudapaksa dirimu."
Shafana semakin gemetar mendengar kalimat Kenan apa lagi saat ini pria itu dalam keadaan polos, tongkat saktinya tegak menantang dengan kepala nya yang mirip topi tentara dengan warna kemerahan.
Dengan meletakan tubuh intrinya dengan sedikit sedikit kasar, Kenan kini melucuti istrinya dengan terampil, setelah semuanya terlucuti, Pria itu mencumbuu istrinya dengan begitu menggebu tiada tempat yang terlewat sama sekali semuanya bermandikan liur pria itu. Dari mulai dada, perut hingga pangkal pahanya tak lolos dari jelajahan bibirnya.
"Kau sudah basah."
"Jangan Ken!"
Fana beringsut mundur saat Kenan mendekatkan wajahnya ke area bawah, tapi dengan cepat Kenan segera menahan pahanya.
__ADS_1
"Ken!"
Fana tidak dapat menahan suaranya saat Kenan menenggelamkan bibirnya di pangkal pahanya, lidahnya meliuk-liuk menari di area itu dengan sangat lincah, satu jarinya kenan pergunakan untuk menyenangkan istrinya. Hingga beberapa menit berlalu, Fana membusungkan dadanya ia bergelinjang dan bergetar, tangannya sibuk meremass rambut duaminya.
"Kenannn." Teriakan lega itu mengiringi pelepasannya, dengan nafas yang masih terengah Fana memejamkan matanya mencoba mengatur rasanya.
"Sekarang giliranku." Kenan menempatkan dirinya di pusat inti istrinya.
Shafana hanya diam karna masih lemas dengan keadaan, Kenan menepukan miliknya beberapa kali pada milik istrinya.
"Bersiaplah aku akan masuk sekarang," Kenan berbisik serak dan mengigit telinga istrinya sampai wanita di bawahnya memekik.
Kenan mulai mendorong dengan perlahan miliknya.
"Akhh, Sakit aku tidak mau." Fana menjerit karna memang tubuhnya serasa terbelah.
"Ken lepaskan, ini sakit sekali." Fana masih mrncoba meloloskan diri dengan sisa tenaganya.
"Diam, Mozaa, aku melakukannya dengan perlahan, jangan mengujiku akau aku akan benar-benar menyakitimu."
"Akhhh." Keduanya berteriak bersamaan, jika Fana berterik karna kesakitan, sedangkan Kenan berteriak karna tidak kuasa menahan nikmatnya.
__ADS_1
Kenan menegakan tubuh dan tersenyum saat melirik ke arah bawah, tampak cairan kemerahan merembes dari penyatuan merekan. "Kau milikku." Fana masih menangis karna masih merasakan sakit.
Pria itu melai bergerak dengan tempo teratur dan di menit selanjutnya ia kehilangan kendali atas dirinya sendiri, Kenan tidak memerdulikan teriakan demi teriakan istrinya, ia tetap menikmati permainannya sampai pagi menjelang.