Terpaksa Menikahi Gadis Culun

Terpaksa Menikahi Gadis Culun
Pulanglah bersamaku


__ADS_3

"Tuan cek saja CCTV. Dan lihat bibir Tuan juga berdarah, Asisten Arven yang memukul Tuan." ucap pelayan itu ketakutan.


Entah kemana pusing yang menyerangknya. Ia segera menecek CCTV dan menjambak rambutnya dengan frustasi.


"Dasar bodoh. Aku benar-benar bodoh." Kenan menangisi kebodohannya. "Fanaku benar-benar pergi." Ia meninju tembok yang ia gunakan untuk bersandar sampai buku tangannya mengeluarkan darah.


"Arven harusnya kau memotong lidahku, saat aku mengatakan hal tak berguna itu." Kenan memukuli wajahnya sendiri. "Aku bahkan menoyor kepalanya beberapa kali." Kenan bangun tujuannya adalah rumah Ayah mertuanya.


"Fana ... Fana ..."


"Ayah dimana Fana?"


"Ada apa? Kenapa kau berteriak di rumahku? Ini rumah Kenan bukan hutan." Rendy masih bingung karna putrinya tidak mengatakan apapun.


"Fana di mana?" Kenan mencari di kamarnya tapi tidah di temukan.


"Dia di kamar tamu Ken."

__ADS_1


"Fana."


Kenan menendang pintu kamar itu sampai tumbang.


"Fana ayo pulang!" Kenan meraih tangan Fana yang terduduk tenang di ranjang.


"Ini rumahku. Aku tak akan ke mana-mana." Ucap Fana tenang.


Rendy semakin tak mengerti tapi ia lebih memilih pergi untuk memberikan ruang untuk keduanya.


"Ya aku tau, dan kata sebagian orang perkataan orang mabuk itu kejujuran dalam hatinya. Dan jujur saja aku terkejut atas pengakuanmu." Fana semakin tenang mengatakan itu, ia menyuruh hatinya untuk kuat bukankah dulu Kenan sering melakukan hal yang sama, anggap saja ia sedang nostalgia dengan kenangan masa lalunya.


"Fana tidak semua orang seperti itu."


"Sudahlah Ken, kau pernah bilang tak akan ada apapun yang mengambil alih pikiramu meskipun alkohol, berarti apa yang kau lakukan semalam adalah murni karna dirimu. Memang tak menginginkan aku. Pulanglah bagiku hubungan kita sudah berakhir!"


Jeder.

__ADS_1


Apa katanya berakhir, siapapun tolong bangunkan Kenan dari mimpi buruk ini, sadarkan Kenan jika ini tidak benar-benar nyata. Ia harap ini hanya igauan atau fatamorgana saat ia tertidur di sore hari. Kenan tak sanggup jika harus berjalan sendiri.


"Tidak, Fana Tidak. Jangan berbicara hal itu, kita tidak boleh berakhir aku tak bisa berpisah darimu, kita, kita akan memiliki anak jangan sekejam ini padaku, ku mohon Fana." Kenan berlutut juga dengan air mata yang membasahi wajahnya yang memar oleh ulahnya sendiri.


"Kau seperti ketakutan kita akan berpisah." Fana tersenyum sinis dengan hati yang luka.


"Ya Fana, aku takut aku sangat takut untuk berpisah denganmu." Kenan mengakui ketakutannya.


"Kau, tidak usah khawatir aku tidak akan meminta sepeserpun harta darimu. Aku masih bisa untuk berdiri di kakiku sendiri." Fana tak gentar sama sekali, sedikitpun ia tak terpengaruh dengan air mata pria itu.


"Aku bukan takut karna harta ataupun uang Fana."


"Lalu, kau takut orang tuamu akan marah padamu dan membuang mu sebagai anak. Kau bodoh Ken, orang tuamu hanya mengancammu dia tidak benar-benar akan membuangmu. Tapi baiklah agar kau tenang aku akan mengatakan pada orang tuamu jika kita bercerai karna murni keinginanku, aku juga akan mengatakan supaya orangtuamu tidak memarahimu. Kau jangan takut lagi." Fana menahan hatinya yang ikut terluka karna Kenan memohon dan menghiba dengan cara menyesakan dadanya.


"Ku mohon Fana jangan lakukan itu. Aku sudah memecat Dimi, aku sudah melakukan maumu ku mohon jangan pergi dariku. Aku berjanji tidak akan mabuk lagi aku berjanji tidak akan memiliki teman wanita lagi. Aku berjanji. Tapi tolong maafkan aku. Pulanglah bersamaku." Kenan menciumi lutut Fana persis seperti anak yang memohon pada ibunya.


"Pulanglah bersamaku."

__ADS_1


__ADS_2