
Setelah beberapa hari di rumah sakit, Shifa, Fana dan Ayah Rendy pulang kerumah di antar Kenan sendiri.
Kenan yang mengetahui jika fase datang bulan istrinya telah selesai segera menyeret Fana ke kamar mereka. Pria itu sudah tidak tahan setelah berpuasa beberapa hari.
Kenan membawa istrinya memasuki kamar, pria itu meletakan Fana secara perlahan dan hati-hati di ranjang dan terus menciuminya.
Dilain pihak, Fanapun tak ingin melepaskan Kenan. Kedua kakinya merengkuh pinggang Kenan dengan posesif.
Wanita itu mengalungkan tangannya ke seluruh leher Kenan yang kuat.
Lidah pria itu bermain menelusuri seluruh relung mulut Fana, dan Fana menyukai hal itu.
Saat ciuman mereka terlepas, Kenan menelusuri leher wanitanya untuk menggoda istrinya itu dengan kecupan-kecupan yang dalam. Sehingga leher Fana yang putih mulai kemerahan akan kuatnya kecupan yang Kenan berikan. "Aku milikmu malam ini." Fana berbisik dan mengecup pelipis Kenan.
Tangan Kenan yang kuat serta urat nadi yang menyembul dan tulang yang brsar. Diselipkan masuk ke baju yang Fana kenakan. Sentuhan kuat dan penuh hasrat Kenan daratkan ke punggung kurus Shafana.
Shafana melengkung saat kesepuluh jemari Kenan mendarat di dadanya dan menekan kuat keduanya.
Kenanpun meloloskan pakaian istrinya ke atas, tanpa terkecuali.
"Saat kau tidak dalam keadaan haid jangan coba-coba mengenakan dalaman saat tengah bersamaku." ujar Kenan penuh penekanan.
Shafana menanggapi ucapan suaminya dengan tawa geli nan renyah, tak lama tawanya kembali berubah menjadi desahann. Saat Kenan mengerjai puncak dadanya.
Sampai berapa lama, entahlah Fana tak tau, ia terlalu terlena atas permainan sang pewaris tahta keluarga Moses. Yang ia rasakan hanya birahinya yang naik berkali-kali lipat. Sampai ia merasakan lidah Kenan menari di area kewaniitaannya, dan Fana tak kuasa menahan teriakannya saat Kenan memasukan lidahnya semakin dalam.
Jemarinya yang lentik dan rapuh meremass lemah rambut Kenan. Seiring dengan tubuhnya yang terbuka lebar.
"Ken."
"Ken." Desis Fana diantara nafas yang menderu. "Ken, bersatulah denganku." pintanya.
"Ehmh." hanya terdengar gunaman malas di bawah sana.
Fana yang sudah terbawa arus permainadn Kenan tidak memperdulikan apapun.
__ADS_1
"Ken. Kumohon." kembali Shafana berbisik.
Kenan menghentikan kesenangannya ia mengangkat mulutnya dari bawah sana. "Nanti dulu Sayangku ..." Fana tak memperdulikan apa yang Kenan katakan. Pria itu menjilatii bibirnya sendiri, Kenan telah selesai menikmati madu wangi manis istrinya, terasa lebih manis dari cairan apapun.
Dan matanya menatap penuh kilat Shafana di bawahnya.
Saat Fana melihat Kenan melucuti pakaiannya sendiri, Fana telah siap menerima kehadiran prianya, ia pikir mereka akan segeta menyatu.
Namun Kenan menghendaki hal lain.
Kenan mendekatkan bagian tubuhnya yang lain ke wajah Shafana.
Bagian tubuh yang bahkan lebih besar dari tangan Shafana.
Tangan Kenan meraih rahang Fana, pria itu menyuruh Fana membuka mulutnya lebar-lebar.
"Lidahmu diarea sini," Kenan menunjukan cara wanitanya untuk bermain.
Beberapa saat Fana merasa jengah dengan permainannya, ini adalah kali kedua melakukan itu terhadap pria yang sama.
Saat mengangkat wajahnya sedikit, Fana melihat kernyitan wajah suaminya di penuhi rasa nikmat. Dan ia sangat bahagia.
Jadi sebaik mungkin Fana melayani sang suami.
Kenannya.
Ia mengeluarkan lidahnya, menggoda menjilatii area ujung, batang depan dan sampai kearea dua bongkahannya.
Jemari tangannya juga mulai bergerak menggoda memainka kebanggaan suaminya.
Geraman dan desisan Kenan terdengar, ia mengangkat pinggulnya.
"Astaga,, Tanganmu mulai nakal. Stt" geraman rendah jelas terdengar, wajah Kenan sudah mendongak penuh nikmat.
Fana meremass lembut kantung benihnya sampai Kenan mendesis mengangkat kepalanya.
__ADS_1
Setelah merasa inilah saatnya. Fana mendorong suaminya sampai terlentang, ia naik ke pankuan suaminya.
Ia sudah benar benar basah.
Ia senang melihat pria perkasa di depannya tak berdaya.
Ia bahagia melihat Kenan menatapnya dengan penuh damba seperti ini.
"Erghhh ..." Desisak kesakitan penuh nikmat saat secara perlahan ia memasukan bagian tubuh lain Kenan jedalam dirinya. Perlahan, cairan tubuhnya membantu Fana melahap tubuh pria itu.
Suara eranggan berubah menjadi desaahan.
Pelan-pelan Fana menggerakan tubuhnya menguasai diri. Ini adalah hal baru untuknya.
"Kamu terlihat sangat cantik hari ini." Kenan mendongak menyingkirkan rambut Fana dari leher serta pundaknya.
Mereka bergerak beriringan dari tempo lambat ke tempo yang semakin cepat.
Setelah beberapa lama Kenan melihat tubuh mungil di atasnya kepayahan, Kenan sudah merasakan beberapa kali Fana menegang mencapai pelepasan. Kenan melepaskan tubuh istrinya ia akan mengambil alih permainan.
"Bersiaplah. Aku akan membuatmu terkejut."
"Apa maksudmu?" Fana memekik saat tiba-tiba Kenan membalik tubuhnya menghadap belakang. Kenan memposisikan Fana berlutut dengan siku yang menopang bobot tubuhnya.
Kenan memasuki tubuh wanitanya dari belakang dengat ritme yang tak terkendali membuat tubuh wanita itu terseok-seok tanpa arah pasti.
Fana meringis merasakan kedua lututnya yang perih.
Beberapa waktu berlalu sampai Kenan berteriak di belakangnya menyebutkan nama panjangnya.
"Shafana Moza ... Akhh aaa"
"Kau luar biasa."
Cairan hangat memenuhi rongga kewanittaannya bahkan sampai luber tumpah-tumpah keluar saking banyaknya.
__ADS_1