
Kau sedang apa?" Shafana merasa tak nyaman saat suaminya memeluk dirinya erat dengan hidung yang mendusel dan mebgendus-ngendus tubuhnya.
"Aku sedang membauimu, aku sangat menyukai aroma tubuhmu." akunya jujur.
"kau merasakan sesuatu."
"Tidak." kenyataannya ia merasakan sesuatu yang keras menyentuh pinggulnya.
Kenan membalik tubuh istrinya menjadi terlentang. "Hidungmu memanjang." dengan refleks Fana segera menyentuh hidungnya, membuat Kenan mengulum senyum dengan tingkah wanita di bawahnya.
"Aku bukan phinokio."
"Tentu saja kau lebih menggemaskan dari boneka kayu itu."
Shafana berpikir sejak kapan suaminya berubah jadi semanis ini.
"Tadi ayah mengirimku pesan bertanya tentang keadaan Shifa, apa aku harus mendawab jujur Ken,?" tanya Fana serius.
"Tidak usah betbicara macam-macam, kasian nanti ayahmu khawatir. Dia terlalu tua untuk terus menghawatirkan hal tidak penting, lebih baik kau menghawatirkan aku saja." Kenan mengemukakan pendapatnya.
"Kau juga terlalu tua untuk ku khawatirkan."
""Tubuhmu sangat wangi, aku menyukainya."
"Kau menyukaiku?"
"Hmmm"
"Seingatku aku bukan tipemu." sarkas Fana.
"Mulai saat ini kau tipeku."
__ADS_1
"Tidurlah masih ada waktu dua jam untuk beristirahat." Fana tang ingin menanggapi ucapan Kenan.
"Aku mau sarapan sekarang." setelahnya Kenan mendaratkan ciuman lebut di bibir sensual istrinya.
Keduanya masih terjaga dengan nafas terengah, usai menyelesaikan kegiatan panas mereka.
"Kau pernah menyukai seseorang." tiba-tiba Kenan bertanya, ia sangat penasaran dengan kisah cinta istrinya di masa lalu.
"Hmm. Bukan hanya menyukai tapi aku juga pernah mencintai seseorang." ungkap Fana jujur.
"Lalu, apa kau berpacaran dengannya.?"
"Tidak sama sekali." Fana tersenyum miris saat mengatakan itu.
"Kau bilang kau menyukainya."
"Menyukai saja tidak cukup untuk memulai suatu hubungan, mungkin kami di takdirkan tidak untuk bersama."
"Aku tak memiliki keberanian sebesar itu. Karna aku sadar diri."
"Lalu dimana orang itu sekarang?" Kenan makin di buat penasaran, sikaf ingin tahunya menghantarkan dirinya pada rasa penasaran dan cemburu secara bersamaan tanpa ia sadari.
"Dia sudah berada di keabadian, tanpa pernah menoleh kearahku." Fana menunduk sendu mengingat bagai mana sosok pria yang ia sukai di masa lalu, di masa itu ada cinta pertama sekaligus kasih tak sampainya.
"Apa dia tampan?"
"Ya, dia sangat tampan dengan rambutnya ia sisir rapi," tanpa sadar Fana menyentuh pipinya yang terasa memanas. "Dia semakin tampan dengan saat ia tersenyum, aku selalu menikmati senyuman itu dari kejauhan karna tak dapat menunjukan perasaanku yang sesungguhnya. Sampai ia tiada di dunia ini aku tidak pernah mengungkapkan perasaanku sekalipun di atas nisannya" melihat itu sumpah demi apapun Kenan ingin melayangkan tinjunya untuk mengungkapkan rasa kesal yang tercokol di ulu hatinya entah apa penyebabnya Kenan merasa tidak suka saat istrinya mengagumi pria lain padahal ia sendiri yang bertanya, Kenan ini benar-benar cari menyakit.
"Kau masih mencintainya?" hanya keheningan yang tercipta di sana. "Sebaiknya kau lupakan cintamu itu dia telah tak ada di dunia ini." lanjut Kenan kemudian.
"Itu lah istimewanya kami sebagai wanita Ken, kami mampu mencintai tanpa alasan, tanpa di ungkapkan dan tanpa balasan sekalipun. Cinta kami masih tetap hidup meskipun orang yang kami cintai telah mati."
__ADS_1
Sialan! Untuk pertama kalinya Kenan merasa cemburu pada sosok yang sudah mati dan tertimbun tanah.
"Dia adalah sosok pria yang rendah hati, pintar dan penyayang, dia juga sangat baik, tidak sekalipun dia menolakku saat semua orang menolak kehadiranku, dialah temanku satu-satunya. Aku sangat menyukai aroma tubuhnya, sangat enak dan menenangkan."
"Kalian pernah berkencan.?"
"Tidak."
"Lalu dari mana kau tau jika aromanya enak."
"Kami sering pulang sekolah bersama dan menaiki bis yang sama, aku selalu dapat menghirup aroma tubuhnya saat bis yang kami tumpangi penuh dengan penumpang, kadang sesekali dia membayar ongkosku." Fana selalu berbinar saat mengungkapkan semua itu.
Sialann! Sialann! Kenan terus mengumpat dalam hati saat ia menyesal telah bertanya pada istrinya, gemuruh di dadanya benar-benar membuatnya emosi sampai pria itu mengepalkan tangannya erat.
"Kau benar-benar mencintainya jika begitu." Kenan menahan sesak di dadanya.
"Ya aku mencintainya meskipun tak pernah memilikinya tapi setidaknya aku merasa lebih hidup saat merasakan setiap sakit dan getaran dalam hati ini."
"Merasa lebih hidup? Bukannya sebaliknya ingin mati?"
"Mati adalah akhir dari semuanya Tuan Moses, dan aku belum berniat mengakhiri perjalanan cintaku, dia hanya pernah mengisi sebagian hati ini, aku masih memiliki ruang lain untuk cinta yang baru. Tapi seandainya bisa aku mengulang waktu, aku akan mengatakan perasaanku dengan lantang di hadapannya." sebisa mungkin Fana menahan air matanya agar tidak tumpah.
"Jangan menahannya. Kau boleh menangis atau apapun, aku hanya akan diam dan mendengarkanmu." Kenan membenamkan wajah Fana pada dada telanjangnya.
Tumpah sudah pertahana wanita itu, Fana memeluk merat tubuh kekar itu dengan rasa perih.
"Seandainya kau bertemu lagi dengannya apa yang akan kau katakan?"
"Jangan membelenggu hatiku, biarkan aku menemukan cinta lain yang layak kumiliki."
Deggg ...
__ADS_1