
Kenan pikir saat ia menyuruh Shafana turun dari mobil di tempat sepi wanita itu akan memohon padanya dan ia akan mengajukan syarat yang menguntungkannya, tapi tanpa di duga gadis itu beneran turun, sebenarnya ada rasa iba tapi ia tidak ingin terlalu baik pada si culun itu.
"Salahnya sendiri kenapa tidak memohon padaku." Kenan melanjutkan mobilnya kembali tanpa memperdulikan istrinya yang berjalan kaki.
"Dasar tega, sombong dan pemarah, entah waktu hamil Mama ngidam apa bisa-bisanya mama melahirkan manusia jelmaan Fir'aun." Berbagai umpatan ia layangkan untuk Kenan.
Lelah Fana berjalan, mendadak perempatan itu serasa sangat jauh kemarin ia melewatinya tapi tidak sejauh ini.
Kikik.... Kikik....
Klakson mobil berbunyi dan setelahnya berhenti.
Nampak keluar seorang pria mengenakan jas putih, jas yang Fana yakini kebanggan setiap dokter.
"Moza, kau Moza kan?" Tunjuk pria itu.
"Kau... " Fana mencoba menggali ingatan nya tentang pria pria di hadapannya.
"Ziano, kau Ziano?"
"Ya, aku Ziano, kamu dari mana mau kemana?" Tanyanya.
"Aku dari rumah mau bekerja. Kau apa kabar?"
"Aku baik, kau pindah? Karna seingatku rumahmu bukan di daerah sini."
"Ya aku pindah, kau dari mana?"
"Aku dari rumah pasienku. Ayo masuk biar ku antar sekalian." Zi sudah membuka pintu penumpang di samping kemudi.
__ADS_1
"Tidak usah Zi. Biar aku jalan sampai depan untuk naik taksi. "
"Masuklah masih lumayan jauh untuk berjalan ke depan, jika di sini sangat sulit mendapatkan taksi."
Setelah Fana pikir-pikir benar juga yang di katakan Ziano, sudah sejak tadi Shafana berjalan tapi tidak ada taksi, bahkan jarang juga di lalui kendaraan. Akhirnya dengan penuh pertimbangan Shafana ikut menumpang pada teman sekolahnya dulu.
Dilain sisi, Kenan tak sampai hati jika harus benar-benar meninggalkan istrianya.
"Jika terjadi sesuatu pada Shafanya bisa-bisa aku di bunuh oleh Mama, lebih baik aku putar balik saja dari pada nyawaku terancam."
Saat ia masih di jalan menuju tempat tadi ia meninggalkan Fana, dari kejauhan ia melihat bahwa Fana masuk kedalam sebuah mobil dan entah mobil siapa, yang jelas ada seorang pria berjas putih yang mengemudikannya. Dan ternyata si culum pria, Ziano dan Moza pasangan culun yang serasi.
"Sia-sia saja aku buang bahan bakar menuju kesini, sedangkan si culun itu malah menaiki mobil orang lain." Ia tidak menyadari sejak kapan dirinya menjadi itung-itungan seperti ini.
Kenan melanjutkan kembali mobilnya, hampir saja ia lupa jika pagi ini ada meeting penting.
.
"Di Caffe tengah kota, aku pemilik Caffe Moza yang tersebar disini." Ucapnya berlaga sombong, karna hanya Ziano yang menganggapnya teman, disaat semua teman satu sekolah merundung dirinya, bahkan Shifapun tidak mau mengakui bahwa dirinya adalah kakaknya, memang seburuk itu takdir hidupnya.
"Selamat Moza kau sukses, kau bisa membuktikan kualitas dirim yang sesungguhnya."
"Terimakasih pak dokter."
"Kau tau sekarang aku sudah menjadi dokter spesialis bedah loh."
"Benarkah? Selamat untukmu." Ucapnya tulus.
Tit... Titt..
__ADS_1
Suara ponsel, pesan masuk ke ponsel Fana.
"Jangan bilang pada siapapun jika kita sudah menikah, termasuk pada si culun pria kekasihmu, jangan mencoba mempermalukanku. Atau kau akan mati di tanganku." Pesan itu di kirimkan oleh suami kejamnya.
'Cih siapa juga yang ingin mempermalukan diri sendiri dengan mengakui pria tak beradab sebagai suamiku." hatinya masih kesal dengan tindakan suaminya yang di luar nalar. Lebih kejam dari pada ibu tiri.
"Aku sangat jelek rupanya." Fana menatap layar ponselnya.
"Jangan berkata seperti itu, kau sangat cantik sekarang pasti mereka akan terheran heran melihatmu."
Ziano orang ketiga yang mengatakan dirinya cantik.
"Jangan membual Zi.. Aku tidak mempunyai recehan. "
"Aku tidak butuh receh, cukup satu menu di Caffemu sebagai bayaran kau menumpang mobilku."
"Kau itu perhitungan sekali."
"Tentu saja aku seorang dokter, aku pintar jadi aku tak ingin rugi." Suara tawa saling bersahuatan di mobil itu. Tanpa terasa keduanya sudah sampai di halaman Caffe.
"Ayo temani aku makan Moza, tadi pagi aku tidak sempat sarapan."
Disaat Shafana tengan menemani Ziano sarapan di ruangan terbuka vvip yang letaknya di lantai paling atas bangunan yang menyuguhkan pemandangan yang sangat indah, datanglah Kenan dan dua rekan serta satu sekertas prianya. Mereka justru duduk di meja sebelahnya.
Ziano mengenali Kenan namun urung menyapanya, mengingat Kenan dari dulu sangat tidak menyukai ia dan Moza, sampai sekarang Kenan masih memanggilnya Culun meskipun Zianu sudah lama menanggaljan kacamatanya.
Sebenarnya sudah tidak ada jejak-jejak culun pada diri Ziano tapi sepertinya Kenan enggan merubah panggilannya. Kenan sendiri terlalu malas untuk bertegur sapa.
.
__ADS_1