Terpaksa Menikahi Gadis Culun

Terpaksa Menikahi Gadis Culun
wanita durhaka


__ADS_3

"Ken, sebenarnya mantra apa yang kau miliki? Baru beberapa minggu menikah sudah ada dua wanita yang meminta kau nikahi?" Fana masih memberontak dalam dekapan suaminya.


Kenan hanya diam, tidak sedikitpun ia merasa tertohok, terpojok, tertekan atau terpengaruh dengan ucapan istrinya ia masi setenang itu memeluk tubuh sintal istrinya.


"Ken, kita perlu bicara?"


"Ya memang kita perlu bicara. Tapi jangan di kamarku keluarlah. Kita bicara di ruang depan." Kenan menyuruh Olivia berjalan lebih dulu.


"Jangan berkata macam-macam kau cukup diam jika tidak ingin ku jahit bibir mungilmu." Kenan menyeret tubuh istrinya menuju keluar kamar.


Olivia sudah duduk lebih dulu di atas sofa. Disusul Kenan yang memaksa memangku tubuh Fana, kedua tangannya melingkar di perut ramping istrinya.


"Ken, lepas aku bisa duduk sendiri."


"Diam kau, jika tidak ingin ku perkosah di sini." Shafana langsung mengatupkan bibirnya karna takut suaminya berbuat nekad.


"Olivia, hubungan kita sudah berakhir, tepat saat kau lebih memilih kariermu dari pada menikah denganku. Aku sudah mengatakan padamu jika aku adalah anak tunggal dan harus segera menikah tapi kau malah meninggalkanku, dan mengatakan jika kau pergi maka kau akan kehilangan diriku. Dan kau sudah menentukan pilihanmu." Kenan berkata tegas.


"Ken, aku hanya mencoba memantaskan diriku untuk bersanding denganmu. Aku tidak ingin membuat orang tuamu malu mengetahu bahwa kekasih putranya adalah seorang pelayan toko di salah satu pusat perbelanjaan." Olivia mulai menahan sesak di jiwanya. Ia kira Kenan hanya bermain-main saat mengatakan akan mengakhiri hubungan tapi ternyata Kenan berkata bersungguh-sungguh.


"Aku sudah mengatakan padamu jika kedua orang tuaku bukan penggila kasta, tapi kau masoh saja pergi ke negri itu untuk menjadi seorang model bukan? Hubungan kita sudah berakhir. Dan aku minta tolong padamu agar merahasiakan pernikahanku untuk sementara waktu." Kenan melembutkan suaranya, seiring dengan melemahnya pelukannya pada Fana.

__ADS_1


"Kenapa kau merahasiahkan pernikahanmu? Apa kau malu memiliki istri sepertinya? Takut jika teman-temanmu membandingkan istrimu dengan mantan kekasih pertamamu Cathi dan Shifa wanita incaranmu sedari dulu." Olive terkekeh sinis.


Fana berpindah dari pangkuan suaminya. Sepertinya Shifa memang selalu ada di setiap pembahasan wanita tentang Kenan.


"Darimana kau mengetahui tentang mantan kekasihku Chati dan Shifa?" tanya Kenan penuh selidik.


"Aku mengetahui dari ketiga teman nongkrongmu, juga Arven asitenmu. Aku selalu di bandingkan dengan Cathi dan Shifa, aku begitu muak saat itu. Kau pikir ini inginku untuk pergi jauh darimu? Semua ku lakukan agar aku tidak selalu di perbandingkan dengan orang lain, aku ingin berdiri di kakiku sendiri. Bahkan aku tidak yakin jika dia mampu bertahan denganmu saat orang-orang di sekitarmu membandingkannya." Olivia menujuk wajah Fana.


"Aku tau Kenan memang mengagumkan, Olivia. Aku juga sering kali melihat wanita dari berbagai generasi menatap suamiku dengan pandangan memuja. Tapi aku tidak ingin mengambil pusing akan hal itu, mereka memiliki hak penuh atas diri mereka untuk bersikap seperti apa kemauan mereka. Begitupun dengan aku, aku memiliki hak untuk tidak perduli. Otakku terlalu sederhana untuk memikirkan tentang hal yang tidak penting aku enggan melakukannya." Entahlah Fana merasa merasa kalimatnya barusan sangat berbelit-belit. Harusnya ia mengatakan jika ia tidak perduli, itu saja.


"Siapa yang menyuruhmu pindah ke kursi?" Kenan baru menyadari Fana tidak berada di pangkuannya.


"Aku tidak memerlukan ijinmu untuk kenyamanku."


"Hmm."


"Oh ya, jika kau sudah mengakhiri hubungan lalu mengapa mantanmu bisa masuk ke tempat ini bahkan memergoki kita yang sedang ..." Fana tidak melanjutkan ucapannya justru ia mengadukan jemarinya yang berbentuk kerucut.


"Memangnya tadi kita sedang apa?" Kenan menggoda, ia sangat menyukai saat Fana tersipu seperti ini.


"Ishh, kau ini aku malu mengatakannya." Fana melirik Olive yang nampak memperhatikan suaminya dengan lekat.

__ADS_1


"Tidak perlu malu, kita sama-sama sudah dewasa, tadi kita melakukan apa?" pancing Kenan.


"Tentu saja sedang Cipookan apa lagi?" Baik Kenan maupun Olive membulatkan matanya mendengar kalimat fulgar dari Fana. Bukan tanpa alasan Fana mengatakan ini ia kesal pada Olive yang menatap penuh puja suaminya, sangat aneh beberapa waktu lalu Fana mengatakan ia tidak peduli pada setiap wanita yang menatap suaminya dengan pandangan penuh puja, tapi sekarang ia merasa kesal.


"Fana masuklah lebih dulu kekamar, aku perlu waktu lima menit untuk berbicara." perintah Kenan.


"Beraninya kau! Lihat saja apa yang akan aku lakukan karna telah mengusirku." batin Fana.


"Kau tidak usah pergi Nona jika meragukan suamimu, aku tidak menjamin suami bisa lolos dari pesonaku." Olive tersenyum sinis.


"Aku mempercayai suamiku, maka aku akan pergi." meskipun berkata seperti itu Fana tidak benar-benar pergi, ia berdiam diri bersembunyi di balik tembok terdekat. Dan kenan mengetahui tindakan konyol istrinya, dari pantulan lemari kaca di sana, mulut dan tingkah Fana tidak bisa bekerja sama pikir Kenan, ia tersenyum sangat manis mengetahui kekonyolan istrinya.


Sedangkan Olivia merasa Kenan masih ingin menjalin hubungan dengannya di belakang wanita yang Kenan katakan sebagai istrinya, terbukti saat Fana pergi Kenan tersenyum manis padanya pikirnya dalam hati.


"Olive, aku tidak pernah main-main dengan ucapanku. Apapun yang terjadi di masa lalu, aku tak ingin meminta maaf. Kau sudah memutuskan untuk pergi dariku. Dan disaat kau melangkan kau sudah kehilangan ku. Carilah pria lain, jangan mengusik rumah tanggaku dengan Fana. Dan mengenai sandi apartemen ini yang belum ku rubah itu karna aku sibuk, lagi pula sandinya adalah tanggal lahirku. Secepatnya aku akan mengganti sandinya. Pulanglah ini sudah malam, aku tidak akan menerima tamu untuk menginap. Kau tidak berniat menonton aku dan istriku membuat bayi bukan?" Fana terkikik geli di balik tembok, ia tak sadar jika dari tadi Kenan mengetahui keberadaannya.


Olivia pergi dengan membanting pintu apartemen ia tidak terima dengan kekalahannya. "Lihat saja aku akan mengambil milikku kembali."


"Fana keluar kau, aku mengetahui kau bersembunyi di balik tembok sana."


"Sial, penyakit cenayang pria itu kambuh lagi." Fana mengerucutkan bibirnya.

__ADS_1


Fana masih kesal karna pengusiran yang di lakukan Kenan. Ia juga menganggap apa yang di katakan Kenan tadi adalah sebagai bentuk pencitraan karna telah mengetahui keberadaannya bisa saja kan pria itu kembali menemui Olivia di belakangnya, mengingat kandasnya hubungan mereka karna tekanan dari sekitar.


Ah pusing sekali ia memikirkan hubungannya dengan Kenan, dan dengan getaran hati yang ia rasa pada Ziano. "Mungkinkah Ziko mengutukku karna aku tidak berjiarah ke makamnya meminta doa restunya? sekarang ada tiga nama ptia dalam hidupku, satu pelik hatiku, Ziano sangat baik dan perhatian, dan Kenan sang pemilik tubuhku. Sepertinya aku wanita durhaka." Fana meremat kasar rambutnya


__ADS_2