Terpaksa Menikahi Gadis Culun

Terpaksa Menikahi Gadis Culun
Apa dia habis berperang


__ADS_3

"Kenan, kau terluka?"


Shafana langsung beringsut dari ranjang meneliti luka yang ada di pinggang suaminya.


"Apa yang terjadi? Menapa kau bisa terluka?"


Shafana mencoba mendekatkan dirinya tapi kenan segera menyentaknya.


"Diamlah di tempatmu! Jangan coba-coba menyentuhku jika kau masih menyayangi kedua tanganmu."


Kenan melangkah menjauhi istrinya, memperbaiki letak handuk yang ia kenakan, ia menurunkannya sedikit ke bawah agar bisa mengobati lukanya.


"Sssshhh."


Suara desisan rasa sakit itu berulang-ulang keliar dari mulut Kenan, meskipun Fana tidak dapat melihat lukanya tapi ia nampak ngilu mendengar desisan itu.


Pria itu masih memunggungi Shafana yang tampak bergeming di tempatnya, bahkan ia tak berani untuk sekedar mendekat. Lalu ia memutuskan untuk masuk ke kamar mandi karna melihat Kenan tidak leluasa mengobati lukanya.


Saat memasuki kamar mandi Shafana terkesiap melihat tempat sampah yang di penuhi tisu serta kapas yang berlumuran darah padahai Shafana sangat yakin jika tadi kamar mandi dam keadaan bersih.


"Apa Kenan dari tadi lama di kamar mandi karna ini?" Sumpah ia tidak tau bertanya pada siapa, tapi hanya kalimat itu yang muncul di otaknya itu.


"Harusnya aku senang melihatnya terluka tapi mengapa aku merasa tak tega seperti saat mengingat raut dan suara kesakitannya tadi."


Shafana membuka pintu secara perlahan ia ingin melihat apa yang di lakukan pria itu, dari celah pintu yang sedikit terbuka Fana meloloskan pandangannya ia melihat tubuh itu sedang membelit pinggangnya dengan kain yang Fana yakini kain itu berasal dari robekan kaos kenan tidak ketinggalan desisan yang mencoba Kenan redam di tenggorokannya semakin jelas terdengar.


"Kenapa Kenan hanya membalutnya dengan kain? Harusnya ia pergi kerumah sakit untuk mengobati lukanya, bagaimana jika terjadi infeksi di bekas lukanya?" Shafana terus bertanya tanya dalam benaknya sendiri.


"Apa yang terjadi? Kenan pergi dengan Arven Asistennya tapi kenapa pulang dengan membawa luka? Bukankah dia bilang akan menyelesaikan pekerjaan bukan untuk berperang?" Di balik pintu itu Fana masih mengamati, sebenarnya ia tak tega membiarkan Kenan mengobati lukanya sendiri, tapi jika dia membantu Kenan pasti tidak akan mau menerimanya, maka yang bisa ia lakukan hanya diam.


Ekor mata Kenan menangkap jika Shafana dari tadi sedang memperhatikannya di balik celah pintu.


"Jangan memandangiku ataupun mengintipku.!" Kenan berteriak seakan memecahkan barang barak di sana. Apa dia pikir Fana tuli sampai Kenan berteriak sekeras itu.

__ADS_1


Blam..


Shafana menutup panik pintu kamar mandi, ia segera memegangi jantungnya yang hampir saja melompat dari rongga dadanya saking terkejut dengan terikan Kenan.


"Ya Tuhan pria itu benar-benar langka, tidak bisakah sehari saja pria itu tidak marah padaku." Fana menggerutu.


"Keluar! Apa yang kau lakukan di dalam kamar mandi?" Lagi-lagi Kenan berteriak, apa pria itu sangat hobi membuat dirinya hampir mengalami serangan jantung.


Fana keluar dengan langkah gontai menelisik Pria yang masih berdiri di membelakangnya, Fana kemudian mengambil sisa robekan kaos yang Kenan kenakan untuk membalut lukanya, lalu kemudian ia masukan ke dalam tempat sampah. Mata Fana enggan untuk mengalihkan pandangan dari tubuh itu, sudah tidak terdengarlagi desisan kesakitan pada Kenan.


"Berhenti memandang kasihan kearahku, atau aku akan mencongkel kedua bola matamu, aku paling tidak suka di kasihani." Ucapannya terdengar dingin tapi tegas dan kental akan ancaman.


"Ck. Siapa yang mengasihanimu? Justru aku merasa sangat bahagia saat melihatmu terluka. Kau tau itu adalah sebagian karma atau semacam hukuman tuhan pada seorang pendosa sepertimu." Fana berdecih sinis dengan nada mengejek.


Kenan hanya mengatupkan mulutnya rapat, karna ia terluka jadi ia tidak memiliki tenaga lebih untuk mendebat istrinya.


"Tumben, dia tidak membalas kata-kataku," Shafana kembali memandang pria yang hanya bagian pinggung saja yang dapat ia lihat nampak berkilat oleh cahaya lampu, bagai baja tibuh itu terlihat kokoh dan keras.


Pria itu malas berdebat dengan dengan istri culunnya yang selalu di luar nalar saat berbicara, mengtakan dirinya tidak tampan, bahkan dengan berani Fana menghina keadaan fisiknya, sebelumnya tak ada seorang wanita yang berani melawannya tapi si Culun itu berkali-kali menginjak-injak harga dirinya. Tangannya kini sudah sampai di pintu sebelum pertanyaan Fana menghentikan langkahnya.


"Kau mau kemana?"


"Kemana saja asal tidak melihat wajahmu yang memuakan!" Lalu ia meninggalkan Shafana sendiri.


Saat ia sampai di luar kamar bertepatan dengan adanya kepala pelayan di sana Kenan segera memanggilnya.


"Dora kemana perginya Mama dan Papaku?"


"Kata nyonya, nyonya sedang menemani Tuan mengunjungi kantor cabang dan malam ini akan kembali." Ungkap kepala pelayan dengan sopan.


"Ya dudah, pergilah, selesaikan pekerjaanmu."


Sial tadinya Kenan akan akan menginap di kamar lain, ia khawatir jika tidur bersama Shafana, wanita itu akan menyenggol lukanya mengingat jika tertidur Shafana selalu memeluknya.

__ADS_1


Tapi jika ia nekad tidur di kamar tamu pasti Mamanya akan ceramah dua hari dua malam, dan dia cukup pusing dengan masalahnya saat ini.


Pada akhirnya Kenan kembali memasuki kamarnya, dan kembali di kejutkan dengan tingkah istri culunnya.


"Kemanapun asal tidak melihat wajahmu yang memuakan."


"Jangan memandangku, atau ku congkel kedua bola matamu!"


"Kau gadis paling buruk rupa yang pernah ku temui. Aneh sudah tau aku jelek tapi kemarin dia melah menciumku dengan brutal, ingin rasanya aku memberikan mulut pedasnya dengan cabai merah asli, dasar Pria gila." Fana masih melanjutkan kekesalannya.


"Beraninya kau!" Kenan mengepal dengan gigi yang mengetat. "Kau lagi cosplay menjadi diriku?" Kenan bertanya tapi dengan pandangan menakutkan.


"Ka-kau, sejak kapan kau di sana?"


"Sejak kau, menirukan gaya bicaraku."


"Hehe, maaf!" lirihnya


"Apa ini pekerjaanmu di belakangku?"


"Tidak-tidak ini untuk yang pertama Ken."


"Apa kau habis berperang?"


"Apa kau pikir wajahku mirip penjajah."


Sebenarnya Kenan marah dengan tindakan gadis itu hanya saja ia sangat lelah, untuk kali ini ia kembali mengalah, ia segera menidurkan dirinya di atas sopa di kamar itu, tak mungkin jika ia tidur di atas ranjang bisa-bisa kaki gadis itu menendang lukanya saat tertidur.


Shafana hanya mengatupkan mulutnya saat melihat Kenan merebahkan tubuhnya di atas sopa, ia juga tak berani menegur Kenan, takuk pria itu malah mengamuk padanya karna kejadian barusan. Akhirnya Fanapun hanya memandangi tubuh suaminya yang terbaring dengan kedua tangannya sebagai bantalan.


.


.

__ADS_1


__ADS_2