Terpaksa Menikahi Gadis Culun

Terpaksa Menikahi Gadis Culun
Aku mau sarapan


__ADS_3

Shafana memandangi tubuh Kenan yang tengah terlelap, tubuh kekar itu telah berhasil memanjakannya juga menyentuhnya dengan sangat menuntuk.


Fana masih bergeming menatap Kenan yang tenang di buai alam mimpi, ya begitulah pria dewasa jika kebutuhan biologisnya sudah terpenuhi. Pria itu akan tertidur dengan sangat pulas. Ya Tuhan Fana tidak menyangka jika dirinya akan menjadi istri dari seorang pria yang sedari dulu membencinya. Pria yang di kenal dengan sebutan si pahit lidah itu.


Fana terbangun, dari rebahannya ia mengecek gelas yang ada di atas nakas, yang ternyata sudah kosong. Ia lupa ternyata tadi setelah bergumul ia sudah meminum airnya hingga tandas.


Hari madih lumayan malam, jika menunggu ssmpai esok pagi maka tenggorokannya akan semakin kering. Itu sebabnya ia memilih bangun dan mengenakan pakaiannya untuk pergi mengambil minum.


Fana berjalan menuruni anak tangga dan langsung menuju lemari pendingin untuk menuntaskan rasa dahaganya.


"Fana, tolong ambilkan aku minum." pria itu berbisik dengan suara seraknya tepat di telinga Shafana.


"Kau ambil sendiri." Shafana berbalik dan hendak melarikan diri dari sana tapi pergelangan tangannya di cekal Noval dengan sangat erat.


"Kau jangan terlalu galak terhadapku. Bagai manapun aku calon iparmu." lagi dan lagi Noval berbisik padanya dan kali ini pria itu menghembuskan nafas hangatnya di perpotongan leher kakak iparnya.


"Jangan kurang ajar."


Noval selalu saja menghalangi langkah yang hendak di ambil Fana.


"Apa yang kau lakukan berengsekk!" suara Kenan menggelegar di tengah malam.


"Aku hanya meminta tolong pada kakak iparku untuk mengambilkanku minum, tapi dia menolaknya." ucap Noval seraya melepas cekalan tangannya.

__ADS_1


"Fana, masuk kamar." titah Kenan tegas tanpa ingin di bantah.


Fana hanya menganggukan kepala dan berlalu dari sana.


Kenan memincingkan matanya seakan memberi tanda jika Noval jangan bertingkah macam-macam.


"Ini rumahku, jadi jaga adabmu jangan sampai aku mengusirmu dengan tidak hormat."


"Jangan mengulangi kesalahan yang sama Noval, segera nikahi Shifa. Jangan sampai kau melakukan kesalahan yang sama." ucap Kenan datar.


"Kau khawatir, khawatir jika wanita yang kau sukai mati bunuh diri karna ulahku seperti adik mantan kekasihmu."


Kenan mencengkram kerah baju Noval. "Terserah kau mau melakukan apa, Aku tidak perduli akan kekasihmu,"


"Kau sedang apa?" Shafana merasa tak nyaman saat suaminya memeluk dirinya erat dengan hidung yang mendusel dan mebgendus-ngendus tubuhnya.


"Aku sedang membauimu, aku sangat menyukai aroma tubuhmu." akunya jujur.


"kau merasakan sesuatu."


"Tidak." kenyataannya ia merasakan sesuatu yang keras menyentuh pinggulnya.


Kenan membalik tubuh istrinya menjadi terlentang. "Hidungmu memanjang." dengan refleks Fana segera menyentuh hidungnya, membuat Kenan mengulum senyum dengan tingkah wanita di bawahnya.

__ADS_1


"Aku bukan phinokio."


"Tentu saja kau lebih menggemaskan dari boneka kayu itu."


Shafana berpikir sejak kapan suaminya berubah jadi semanis ini.


"Tadi ayah mengirimku pesan bertanya tentang keadaan Shifa, apa aku harus mendawab jujur Ken,?" tanya Fana serius.


"Tidak usah betbicara macam-macam, kasian nanti ayahmu khawatir. Dia terlalu tua untuk terus menghawatirkan hal tidak penting, lebih baik kau menghawatirkan aku saja." Kenan mengemukakan pendapatnya.


"Kau juga terlalu tua untuk ku khawatirkan."


""Tubuhmu sangat wangi, aku menyukainya."


"Kau menyukaiku?"


"Hmmm"


"Seingatku aku bukan tipemu." sarkas Fana.


"Mulai saat ini kau tipeku."


"Tidurlah masih ada waktu dua jam untuk beristirahat." Fana tang ingin menanggapi ucapan Kenan.

__ADS_1


"Aku mau sarapan sekarang." setelahnya Kenan mendaratkan ciuman lebut di bibir sensual istrinya.


__ADS_2