Terpaksa Menikahi Gadis Culun

Terpaksa Menikahi Gadis Culun
Diam, sebelum ku santet


__ADS_3

Fana mencuci tangan serta mulutnya ia juga berkumur untuk membersihkan sisa-sisa cairan pria itu.


"Ya Tuhan. Pria itu menyebalkan, bisa-bisanya mulutku di jadikan sebagai gantinya menyenangkan si sadis itu. Seandainya tidak mengingat tentang Mas Joko yang jajan di luar, aku tidak akan mau melakukannya. Anggap saja ini sebagai baktiku sebagai istri." Fana terus menggerutu di depan cermin kamar mandi.


Saat keluar dari kamar mandi Fana melirik suaminya yang tengah bersandar di atas ranjang, Kenan tersenyum ceria karna keinginannya terpenuhi.


"Terimakasih." Kenan terdengar tulus saat mengatakannya.


Apakah Fana salah dengar atau Kenan salah mengatakan. Sepertinya Kenan mulai berubah pria itu mulai terbiasa mengatakan hal itu.


"Kau itu kenapa? Dari tadi perhatikan menekan rahangmu terus." Kenan menhampiri istrinya.


"Rahangku kebas karna ulahmu. Mulutku terlalu lama terbuka." Fana mendelikan kedua matanya kesal.


Kenan hanya nyengir tanpa dosa. Sumpah wajah Kenan kali ini benar-benar terlihat seperti orang dungu. Lihatlah senyumannya itu, seperti keledai ya seperti keledai hewan terbodoh di bumi ini.


"Kau terlihat seperti keledai Ken." Mendengar ucapan tiba-tiba dari istrinya membuat Kenan tergelak kencang.


"Aku anggap itu sebagai pujian. Kau tau keledai adalah hewan perkasa?" Semakin ke sini Kenan semakin gemar menggoda istrinya.


"Terserah kau saja."


"Fana kenapa kau terlihat murung? kau menyesal ya sudah menyenangkan aku?" Kenan memincingkan matanya, awas saja jika Fana mengatakan Iya, maka takan ia beri ampun saat datang bulannya selesai nanti.


"Bukan begitu Ken. Perut bawahku sangat sakit."


"Sa-sakit, jangan bilang kau keracunan susu kental manisku." Kenan semakin mendekat ia takut sekaligus cemas takut-takut lava hangat yang ia keluarkan di mulut istrinya itu menjadi penyakit saat tiba di lambung Fana, kan seharusnya benihnya ia tanam di rahim istrinya bukan di lambung.


"Kau tadi tidak memuntahkannya ya?" Kenan memberikan segelas air putih pada istrinya dan langsung Fana teguk, sampai air itu tersisa separuhnya.


Fana menggeleng lemah. "Kau mengeluarkannya di kerongkonganku dan langsung tertelan. Bagai mana aku bisa memuntahkannya saat kau menekan kepalaku terlalu dalam."


"Ayo kita kedokter! aku tak ingin kau benar-benar keracunan karna ulahku."


Keringat di kening istrinya sudah mengembun.


"Tidak usah Ken, aku tidak papa ini sudah biasa bukan karna menelan cairan itu." Wajah Fana yang tadi merah kini semakin merah saat teringat hal mesum yang ia perankan tadi.

__ADS_1


"Kau berkeringat, badanmu mu juga hangat Fana. Ayo kita kerumah sakit."


"Kalau kita ke rumah sakit dan dokter bertanya apa penyebabnya kau akan menjawab apa?"


"Tentu saja aku akan menjawab jujur agar kau mendapatkan penangan yang tepat."


"Kau ingin semua orang menertawakan tindakan kita yang konyol, meskipun aku katarak dalam hal sexxual tapi aku juga tidak buta Ken, sedikit banyak aku tau fakta-faktanya." Fana kini membaringkan tubuhnya ia masih memegangi perutnya yang sakit.


"Biasanya kau meminum obat apa agar sakitnya berkurang." Kenan menyingkap pakaian istrinya, tangan kanannya ia ulurkan untuk mengelus perut bagian bawah istrinya. Hangat dan nyaman itulah yang Fana rasa, meskipun Kenan sableng dalam hal apapun tapi Fana membenarkan jika Kenan adalah pria yang penuh kasih.


"Tidurlah lebih dulu aku pergi sebentar."


"Jangan lama."


"Tidak, hanya sebentar aku janji."


Senja sudah menyapa, langit berwarna jingga memamerkan cahayanya di balik jendela kamar Fana indah


.


Kenan sudah kembali dengan kantong obat di dalamnya, ya pria itu baru saja tiba di rumah mertuanya setelah sebelumnya ia membeli obat dan kompresan yang bisa di tempel di area perut yang sakit pereda nyeri datang bulan di apotik. Bentuknya hampir menyerupai kompresan penurun demam pada bayi, tentu saja dengan dosis dan anjuran pakai yang sudah di sesuaikan.


Zayyan masih terlihat di ruang tamu, bahkan kali ini juga ada orang tua dari kekasih adik iparnya. Kenan tak berniat menyapa atau sekedar berbasa-basi, bersikap ramah bukanlah tipenya jika tidak menguntungkan.


Kenan benar-benar tidak bersuara jika ayah mertuanya jika bertanya, dan mau tak mau Kenan harus menjawab sebagai adabnya seorang menantu terhadap mertuanya.


"Apa yang kau bawa Ken?" Ayah Rendy masih duduk di tempatnya, kini semua orang memandang kearahnya dengan tatapan berbeda.


Kenan membawa nampan.


"Obat dan makanan."


"Fana sakit?" Tanya ayah mertuanya, entah Rendy sekedar berbasa-basi atau memang mencemaskan putri sulungnya sungguh Kenan tidak tau.


"Hanya sakit saat datang bulan saja." Ucap Kenan sopan.


"Oh, sedang datang bulan pantas saja tadi kakak berkata kasar." Shifa mengangguk mengerti.

__ADS_1


"Jangan memberinya sembarangan obat, lebih baik kau membuat teh rempah saja." Zayyan memberikan saran.


"Sepertinya kau sangat mengerti tentang wanita." Kenan mencibir.


"Tentu saja, aku sangat mengerti. Aku sudah pernah menikah jika kau lupa." Kenan selalu di buat tersudut saat berbicara dengan pria dewasa di sebrang sana.


"Aku tidak pikun pak tua." Kenan segera pergi dari sana.


Sepertinya keluarga Hillatop itu tidak berniat pergi dalam waktu dekat.


.


"Fana bangun dulu. Makan dulu dan minum obat." Beberapa kali Kenan menepuk pipi istrinya sampai bulu mata yang lentik itu perlahan mrngerjap dan terbuka penuh.


"Sakit Ken."


"Ayo maka. Dan minum obatnya."


Obat? Fana curiga ia takut jika suminya berniat ingin melenyapkannya, apa yang harus ia lakukan. Apa karna ia terlalu menyebalkan makanya Kenan berniat meracuninya.


Bisa jadi kan Kenan berubah pikiran dan akan menikahi adiknya, dan berniat melenyaknya juga. Merinding dudah bulu kuduk Fana, wanita itu terlalu sering menonton film bergenre horor dan mafia sehingga otaknya tak jauh-jauh dari hal sadis. Ya Fana seringkali menghabiskan waktu untuk menonton sendiri di kamar menggunakan laptopnya, karna ia tidak memiliki banyak teman. Bahkan kenalannya bisa di itung menggunakan jari saja saking terbatasnya pergaulan Fana dengan dunia luar.


"Ken? Kau tidak berencana untuk melenyapkan aku kan?" Fana menatap suaminya penuh selidik. Buyar sudah, wajah teduh Kenan kini berganti dengan mata yang tajam.


"Dasar, istri durhaka! Apa di otak bodohmu hanya terdapat pikiran picik saja? Jika aku ingin membunuhmu aku bisa mencekik atau membekap mulutmu saat kau tertidur. Tapi buktinya aju tidak melakukan hal itu, aku tak ingin mengotori tanganku. Dosaku sudah banyak tak perlu ku tambah daptar dosa dengan cara membunuhmu." Meskipun mengruru Kenan tetap memasangkan kompresnya di perut Fana.


"Pakailah."


"Tapi,"


"Diam, sebelum ku santet"


Setelah mau di tumbalkan Kenan mau menyantetnya pula, jangan katakan jika setelah ini pria itu akan mengatakan untuk memutilasi tubuhnya.


Fana memperhatikan suaminya dalam keheningan.


Lengan kekar terulur, jemari panjang itu mengusap perutnya beberapa kali.

__ADS_1


.


__ADS_2