
"Pulanglah bersamaku."
"Pulanglah lebih dulu nanti aku akan menyusul." ucap Fana.
"Benarkah?" Mata Kenan berbinar. "Kau berjanji akan pulan kerumah." Kenan kira Fana sudah memaafkannya. Ia segera bangkit dang mengusap air matanya, ia tersenyum.
"Ya. Nanti aku akan pulang, untuk mengambil barang-barangku."
Bruk.
Kenan kembali kehilanhan kekiatannya ia kembali melemas di hadapan wanitanya. Apa sebegitu besar kesalahannya hingga ia tak termaafkan.
"Fana, kau kejam sekali tidak memaafkan. Aku tau aku keterlakuan. Hukum aku Fana, kau boleh meremukan tengkorakku. Kau boleh memotong lidahku, tapi tolong maafkan aku. Aku tak ingin bercerai." Kenan menatap Fana dengan sayu. Kenan ingin Fana mengasihaninya kali ini saja.
"Sudahlah. Jangan menangis lagi. Aku sudah memaafkanmu, tapi kita tetap tak bisa untuk bersama. Takdir kita sudah selesai."
Kenan bisa menebak jika Fana akan mengatakan itu.
__ADS_1
"Berhenti. Kuralat perkataanku tadi, aku akan melakukan hal apapun asal kau mau bersamaku. Tak masalah jika kau tidak memaafkan aku."
"Hey kau itu kenapa?"
"Aku yakin meskipun kau tak memaafkan aku selama kau bersamaku maka aku akan baik-baik saja. Jadi kasihani aku dan Moci."
"Moci? Siapa dia?"
"Calon anak kita." ucap Kenan pongah.
"Tidak Ken aku tetap pada keputusanku. Kita memang harus berpisah. Jika Takdir masih menginginkan kita bersama pasti akan ada jalannya. Kau tidak perlu repot-repot mengurus apapun. Aku akan berpikir sendiri dan akan memutuskan jika aku sudah tenang, aku bisa mengambil sikap untuk kembali padamu atau mengurus surat perceraian kita. Jangan menawar lagi." putus Fana cepat ia sudah melihat Kenan akan protes.
"Pulanglah mandi, makan dan jagalah penampilan dan hartamu. Agar jika aku berubah pikiran aku tak perlu mempertimbangkanmu."
"Baiklah aku akan pulang, tapi setiap hari aku akan kemari."
"Untuk apa?"
__ADS_1
"menanam benih." Kenan berusaha tersenyum meski sulit.
"Kau ini."
"Aku, membiarakanmu di sini untuk menenangkan diri. Bukan untuk memulangkanmu. Sekali lagi aku minta maaf tolong jangan memasukan ucapanku waktu itu dalam hati. Aku juga akan menemui Dimi untuk memberhentikannya."
"Kau bilang sudah." Fana mendelik.
"Memang sudah tapi melalui pesan singkat saja. Aku harus membawa Arven juga."
"Untuk apa? Kau sudah memecatnya karna meninjumu." Fana kesal mengingat hal semalam. Jika saja Kenan tak datang hari ini. Mungkin saat ini Fana tengah di pengadilan, dan sepertinya Fana kini berubah pikiran, karna Kenan terlihat bersungguh-sungguh. Dasar wanita selalu plin plan dalam mengambil keputusan, karna pada dasarnya hati wanita yang lembut dan gampang luluh ia mudah memafkan dan terbawa suasana. Apa lagi jika mengingat ia sudah terlambat datang bulan, ada kemungkinan ia tengah mengandung si Moci.
Astaga Fana ikut-ikutan halu ternyata.
"Bahkan aku, ingin meminta maaf padanya. Juga menyalahkannya, harusnya saat aku mengatakan hal buruk tentangmu Arven langsung menjahit mulutku. Aku menyesal sungguh." Kenan menatap mata Fana.
Seberapa Kenan memintanya untuk kembali, banyak janji dan keinginan Kenan untuk terus bersamanya tapi tetap Fana merasa ada yang kurang. Kenan tidak mengatakan jika pria itu mencintainya. Bagi seorang wanita itu penting untuk di ungkapkan, ataukah Kenan hanya ingin bersamanya karena komitmen saja bukan karna pria itu mencintainya.
__ADS_1
Ingin rasanya Fana menanyakan dengan lantang tentang bagai mana perasaan pria itu, apakah ada cinta di hati Kenan untuknya, ia perlu pengakuan. Tapi ia sudah terlanjur sakit hati akan perlakuan Kenan padanya.