
"Apa kau serius? aku pikir di dunia ini yg kejam hanya ayah ku, ternyata masih ada yg lebih kejam lagi dari ayahku..."Ujar Rita kaget setelah mendengar cerita Diana..
"Di, aku juga ingin bicara hal yg penting denganmu..
" Hal penting Apa? "Jawab Diana..
"Di. aku akan menikah bulan depan, " Ujar Rita memberi tahu tentang pernikahannya..
"Apa, menikah? siapa pria ingin menikahi mu,?
"Ntah lah..dia pilihan ayahku.."Jawab Rita tak bersemangat..
"Apa kau kalah oleh ayah mu? hey waktu itu kau begitu sombong mengatakan bahwa kau tak akan bisa di tindas lagi olehnya, kenapa sekarang kau mau menikah dengan pria pilihan ayah mu? apa ayah mu menjualmu lagi? "Ujar Diana di sertai beberapa pertanyaan..
"Aku lelah Di..aku lelah mengikuti semua permainan ayah ku, aku ikuti aku lelah, tidak aku ikuti, aku akan mati di tangannya.."Ujarnya muram..
"Rit..kamu yg sabar ya, batalkan pernikahan itu, aku akan meminta tolong pada Davin, untuk mengurus ayah mu, ayah mu harus di beri pelajaraan sedikit, agar dia tidak selalu semena-mena terhadap mu...
"Sudah lah..aku malas membahasnya, mungkin dengan aku menikah, ayahku akan berhenti memeras dan menyiksa ku, "ujar Rita pasrah.
"Ritaa...."Diana memeluk Rita di susul oleh Rina ikut serta memeluknya memberi semangat dan ketenangan pada sahabatnya..
"Apa kamu yakin, akan menikahi pria yg tidak kamu sukai? lantas bagaimana dengan Bobby? bukankah kau sangat menyukai Bobby? "Tanya Diana..
"Aku sudah melupakannya, "jawab Rita, namun reflek memegang bibirnya mengingat kembali kejadian beberapa saat tadi bagaimana tadi Bobby menjambah bibirnya..
"Bagaimana mungkin aku bisa melupakannya. Dia baru saja menjambah bibir ku..Dia juga membalas cinta ku, namun itu semua percuma, karena semuanya telah terlambat.."Gumam Rita sedih..
.
.
Setelah berbincang. dan bercerita satu sama lain, Rita dan Rina pun berpamitan karena kini sudah menunjukan pukul delapan malam,
"Aku pulang ya Di, lekas sembuh, setelah kau sembuh, kita akan pergi ke kampung halaman ku, kita piknik dan berkemah seperti dulu ya, Tuan Davin terima kasih telah mengizinkan kami menemui Diana "Ujar Rina berpamitan..
"Aku setuju, aku akan segera pulih dan kita akan pergi piknik, "jawab Diana antusias..
"Ya sudah byeee. kita pamitt..."Ujar Rita dan Rina berbarengan..
"Byeee..
"Apa kau senang bisa berkumpul dengan sahabat-sahabatmu? "Tanya Davin setelah kepergian Rina dan Rita..
"Tentu saja, terimakasih , kamu selalu mengerti ke inginanku..Apa pekerjaan mu sudah selesai?
"Sudah, ada apa? apa kau ingin sesuatu? atau kau merindukan ku? "Tanya Davin dengan nada menggoda..
"Aku selalu merindukanmu, kapan pun dimana pun, "Jawab Diana malu-malu..
"Benarkah? apa sekarang kau sudah pintar menggodaku.."Ujar Davin lalu mendekatkan tubuhnya menjadi lebih dekat lagi, hingga tak menyisakan jarak sedikit pun.,
"Dav, apa yg kau lakukan?
"Menuntaskan kerinduanmu, "Bisiknya dengan nada sensual..
Davin mendaratkan ciuman tepat di bibir ranun Diana, hal itu membuat gairahnya menjadi berkobar, "Apa tubuhmu, masih sakit? aku merindukan mu, "bisiknya
"Eum, itu...
"Maafkan aku, istirahatlah, aku akan berganti pakaian terlebih dulu, setelah itu menyusulmu untuk tidur, "Davin mencium kening Diana hendak pergi.Namun Diana menarik pergelangan tangan Davin...
"Aku sudah sembuh, aku juga merindukanmu "Ujar Diana pelan, Namun terdengar jelas di gendang telinga Davin,
Davin kembali mendekatkan diri, Davin menjamah tubuh Diana dengan penuh kehati-hatian, ini yg selalu membuat Davin tak bisa meghindar dari Diana, Bagi Davin tubuh Diana adalah candu untuknya,
.
.
.
Setelah penyatuan keduanya, Davin menghentikan pergulatannya, melihat istrinya kelelahan Davin pun mengakhirinya, walau pun rasa puas belum sepenuhnya dia dapatkan, namun Davin juga tak ingin egois,
Davin mencium pucuk kepala Diana setelah penyatuan berakhir, "Terimakasih telah bertahan dan berjuang untuk kembali kesisiuku ..Kedepannya aku tidak akan membiarkan orang lain menyakitimu, aku akan selalu melindungi mu, "Ujarnya lalu memeluk tubuh polos Diana penuh kasih sayang..
__ADS_1
.
.
.
.
.
.
.
.
Pagi harinya sang surya menyorot ke sela-sela jendela, Dan itu membuat Diana terbangun, "Eum Sudah pagi, "Ujarnya lalu bangun, Diana pergi ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yg terasa lengket keringat yg menepel padanya setelah pergulatan semalam membuatnya ingin segera mandi...
Setelah Diana masuk kedalam kamar mandi, tak lama Davin terbangun..Davin langsung mencari sosok Diana, namun tak menemukannya, "Sayang, "panggil Davin, namun Davin tak mendapat jawaban seketika Davin mulai cemas," kemana Diana? " ujarnya khawatir setelah kejadian penculikan Diana, itu membuat Davin menjadi paranoid dan selalu ketakutan akan tiadanya Diana disinya..
Suara gemercik air dari kamar mandi membuat hati Davin lega, "Tok...tok...tok, Sayang apa kamu di dalam? "teriak Davin..
"Ceklek..
"Dav ada apa? "tanya Diana yg melihat Davin bertanya penuh kekhawatiran,
Davin langsung memeluk Diana, "Jangan menjauh dari pandangan ku, "Ucapnya pelan terdengar jelas oleh Diana jika sekarang Davin mengkhawatirkannya..
"Dav, ada apa dengan mu? "tanya Diana bingung..
"Tidak..hanya saja tadi aku mencarimu, setelah aku membuka mataku, kau tak berada di sebelah ku, aku hanya takut, "Ujar Davin mengeratkan pelukannya.
"Kau terlalu berlebihan, aku hanya mandi, aku ingin menyiapkan sarapan untukmu, kita akan sarapan di bawah,
"Tidak, jangan mengerjakan apa pun, kamu masih sakit, kamu perlu banyak istirahat, "Larang Davin, tak ingin di bantah..
"Dav, aku hanya menyiapkan saja, aku tidak akan melakukan hal yg akan membuat aku lelah, "Bujuk Diana..
"Menurutlah. "Ujar Davin lalu masuk kedalam kamar mandi..Setelah menghabiskan dua puluh menit di kamar mandi Davin pun keluar, Mata Davin langsung terpokus kepada Diana, yg sedang bercermin..Davin menarik bibir atasnya membentuk tersenyum..
"Tidak, aku hanya ingin melihat bekas luka di wajah ku, aku pikir luka-luka ini tidak akan hilang secepat ini, "jawab Diana sambil menyentuh bagian yg terluka.
"Bukan kah kau yg bilang, tidak ada penyakit yg betah berlama-lama di tubuhmu, "Ujar Davin mengingatkan kata-kata istrinya.
Diana tersenyum mendengar ucapan Davin, dan mengingat kembali kata-kata konyol tersebut, yg sering dia katakan kepada adiknya."Ya kau betul, "Serunya tersenyum.
"Aku sangat merindukan Lina, "Ujarnya mengingat adiknya yg kini berada di jauh karena melanjutkan pendidikan di kota B..
"Jika kau sudah pulih, aku akan mengajakmu untuk mengunjunginya, "Jawab Davin yg membuat Diana berbinar senang..
"Betulkah? kau berjanji? "Seru Diana senang..
"Aku berjanji, Apa kau ingin makan sesuatu? "Apa masih menginginkan junk food? "Tanya Davin hati-hati, takut mengingatkan Diana pada peristiwa yg lalu,
"Aku mau, tapi aku ingin memakannya di rumah saja, apa kau keberatan? "tanya Diana..
"Tidak...aku akan membelikannya untukmu, sekarang, kita sarapan dulu, nanti sekitar jam sepuluh aku akan membelikannya untuk mu, "
Diana mengangguk cepat, "Ayo Diana "mengaitkan tangannya kepada tangan Davin, Davin menerimanya dengan penuh semangat..
.
.
Seusai sarapan Diana kembali lagi kekamar, rasa jenuh membuatnya tak nyaman berada di dalam kamar, Diana pun turun ke lantai satu untuk mencari keramayan, namun Setelah sampai di bawah Diana mendengar samar-samar Suara Davin memerintahkan seseorang untuk menyiksa Fiola, Diana menutup mulutnya saat mendengar suaminya, memerintahkan hal yg kejam..
"Dav....Apa kau menyekap Nona Fiona? "Tanya Diana, mengagetkan Davin..
"Sayang kenapa kamu berada disini? kenapa tidak pergi istirahat, "tanya Davin tak menjawab Pertanyaan Diana..
"Dav aku bertanya padamu? apa benar kau menyekap Nona Fiona? "Tanyanya kembali..
"Huh...
Davin membuang nafasnya pelan..."Iya aku menyekapnya, aku hanya memberinya sedikit pelajaran, "jawabnya bohong..
__ADS_1
"Aku ingin melihatnya, "Ucap Diana..
"Untuk apa? "Dia sakit jiwa, kamu tidak boleh bertemu dengannya, "Sahut Davin yg tak ingin menemukan Diana dan Fiona, sebab Davin yakin, Diana akan merasa iba, dan itu akan membuatnya melepaskan Fiona, dan Davin tidak mau itu terjadi, menurut Davin Fiona belum merasakan siksaan yg pantas untuknya. Davin ingin membuat Fiona menderita semenderita-deritanya,
"Bawa aku untuk melihatnya, "Pinta Diana..
"Tidak..... beristirahatlah, kamu tidak boleh menemui wanita gila itu, "jawab Davin lalu pergi ke ruang kerja..
Diana menarik tangan Davin saat tubuh Davin hendak masuk ke ruang kerja..
"Dav...Apa kau menyiksanya? "tanya Diana..
"Sayang, dengar aku, pergi ke kamarmu istirahatlah, aku masih ada pekerjaan, "Perintahnya tanpa ada niatan untuk menjawab pertanyaan Diana..
"Dav.. aku bertanya padamu, apa kau menyiksanya? selidik Diana..
"Huh..Davin kembali membuang nafasnya.. lalu menjawab "Iya aku menyiksanya, aku hanya membalas apa yg Dia lakukan padamu, "jawabnya santai..
"Dav.. apa bedanya kamu dengannya jika begitu, dia perempuan, dia melakukan itu karena ada sebabnya, kamu telah menghancurkan usaha keluarganya dia hanya menuntu balas karena perusahaannya hancur, Papanya masuk penjara, itu semua karena kamu juga, "Ujar Diana kecewa..
"Kenapa kau sangat bodoh, "ucap Davin gemes.kenapa kamu menyalahkan aku, aku melakukan ini, karena aku sayang pada mu, dan untuk Felix, itu memang pantas untuknya. demikian untuk perusahaannya, itu mereka yg memulai, aku juga sama hanya menuntut balas atas semua yg pernah mereka lakukan pada perusahan ku, pada diriku, dan pada dirimu.."Ujarnya lalu masuk ke ruang kerja..
"Tapi kalau begitu apa bedanya kamu dengan mereka, lepaskan Nona Fiona atau kau serahkan dia ke pihak yg berwajib, "Saran Diana..
Namun Davin diam, Davin lebih memilih membuka laptopnya dari pada harus berdebat dengan istrinya..
"Davin.."Ucap Diana keras
"Diana, aku melakukan ini untuk mu, jika aku melepaskannya sekarang, apa kamu tidak takut dia akan kembali menyakiti mu? sekarang pergilah istirahat aku masih banyak pekerjaan.."Usir Davin kesal..
"Tapi Dav, aku yakin setelah dia menerima siksaan darimu, dia akan berubah, aku akan bicara padanya, aku ingin menemuinya, tolong pertemukan aku dengannya," Ujar Diana memohon.
"Kenapa kau sangat bodoh dan keras kepala Diana, aku melakukan ini untuk melindungimu, aku tidak ingin kamu terluka, aku tidak ingin ada yg menyakiti mu, jangan menguji kesabaran ku terus, sekarang kamu pergi istirahat, tidak ada kamu bertemu dengannya, "Ucap Davin menaikan satu oktaf suaranya..
Diana berkaca-kaca mendengar ucapan Davin yg meninggikan suaranya, "Maaf jika aku membuatmu marah ucapnya, menahan cairan bening di pelupuk matanya..
Davin menarik nafas lalu membuangnya kasar, Davin mengampiri Diana, "Maaf aku telah membentak mu, mengertilah aku hanya ingin melindungi mu. aku takut kehilangan mu lagi, aku takut wanita itu menyakitimu lagi, aku akan mengirimnya ke penjara, "Ujar Davin mengalah lalu mendekap tubuh istrinya..
"Ayo aku akan mengantarmu ke dalam kamar, "lanjut Davin mengajak Diana..
"Bolehkah aku di ruang tamu dulu.? aku sangat bosan di dalam kamar, "Pinta Diana memohon..
"Maaf...aku mengurung mu di kamar, baiklah jika kamu ingin bersantai di ruang tamu, aku akan menemani mu, "
"Kenapa kamu tidak ke kantor saja? lagi pula aku sudah sehat, kamu tidak perlu teralalu khawatir padaku, "Ujar Diana,
"Aku belum bisa meninggalkan mu sendiri di rumah," jawab Davin..
"Apa yg kau katakan, disini begitu banyak penjaga, aku terlindungi disini, "Ucapnya meyakin kan Davin..
"Nanti kita bicarakan lagi, sekarang apa yg ingin kamu lakukan? "tanyanya membelai rambut Diana
"Kita nonton bersama, apa kau mau? "tanya Diana penuh harapan..
"Baiklah kita nonton film kesukaan mu, "Tawar Davin..
"Yee... mari kita Nonton, "Ucap Diana antusias..perdebatan yg tadi cukup menegangkan juga sudah Diana lupakan takala Davin mengiyakan kan ke inginannya untuk menonton bersama..
.
.
.
.
.
.
.
.**Bersambung
Jejaknya jangan lupa..terimakasih🤗🤗🤗**
__ADS_1