Terpaksa Menikahi Si Culun

Terpaksa Menikahi Si Culun
Perkenalan


__ADS_3

Mobil-mobil mewah telah berjejer rapi, dengan pengawal ketat dari orang-orang yang berpakaian jas serba hitam. Sepatu mengkilat akibat terkena pantulan sinar mentari, telah menandakan betapa mewah dan fantastisnya harga sebuah sepatu.


Siapa yang tak kenal dengan tuan muda Arjuna Pramudya Pamungkas, pemilik perusahaan terkaya dalam pengelolaan bidang perhotelan dan pariwisata. Karena terkenalnya sampai banyak yang berkerjasama dengan dia, baik dari dalam negeri maupun mancanegara. Hotel bintang mewah dengan kebersihan, kenyamanan, dan pelayanan yang baik, selalu menjadi periotas utama dalam memajukan usahanya.


Banyak sekali pelanggan dari luar negeri, seperti Malaysia, Hongkong, Singapura, Cina, dll, selalu puas akan kinerja semua hotel yang berada ditangannya. Sahamnya hari-hari kian melonjak dratis tak tertandingi, hingga semua orang patuh dan tunduk tidak ada yang berani membantah sekecap katapun.


"Apa semua sudah siap untuk rapat hari ini?" tanya tegas tuan muda Arjuna.


"Sudah, tuan!" jawab sang pengawal bernama Cakra.


"Aku tidak mau sampai berantakan seperti kemarin. Siapa yang buat ulah hari ini, langsung tebas dan habisi semua aset maupun usahanya," Perintah kasar sang majikan.


"Iya, tuan!" jawab Cakra hanya bisa menundukkan kepala dengan hormat.


Sang pengawal Cakra sudah keluar dari mobil, dengan segera memutari badan mobil, saat ingin menyambut sang tuan muda yang akan turun disamping pintu sebelahnya, ketika sudah dibukakan oleh pengawal lain.


"Kamu pelajari ini semua dengan cepat. Kalau sampai salah, kamu akan kupecat segera, paham!" ancam Arjuna pada Cakra, dengan memberikan sebuap tablet berisikan file-file penting yang jadi bahan rapat.


"Baik tuan. Aku hanya butuh lima belas menit saja untuk menghafalnya," jawab kepasrahan Cakra.


Cakra adalah pria pintar, cepat tanggap, selalu mudah menyelesaikan masalah, yang terutama mempunyai keahlian bela diri yang kuat. Tak mungkin seorang pria terkaya seperti Arjuna salah memilih pengawal pribadi, sebab ini semua demi keamanannya yang telah banyak musuh, yang siap melengserkan maupun mencelakai Arjuna, saat tanpa kenal ampun juga sering menjatuhkan lawan.


Plak ... plok ... plok, secara tiba-tiba tak tahu dari mana arahnya, beberapa buah butir telur telah terlempar tepat mengenai wajah dan baju Arjuna.


"Sial, siapa itu?" tegas tanya Cakra marah.


Dengan segera semua pengawal mulai bergerak cepat, ingin mencari siapa dibalik dalang pelemparan. Namun ketika melihat kekanan kiri tak ada satu orangpun yang nampak mencurigakan, hingga pengawal mulai menyebar kesana-kemari untuk mencari.


"Cepat! Bawa tuan muda masuk," perintah bentak Cakra.


"Baik, Tuan!" jawab semua anak buah kompak.


"Berikan aku tisu dulu, dodol!" ujar Arjuna sudah emosi.


"Maaf, Bos. Tak ada tisu, adanya cuma sapu tangan," jawab Cakra grogi.


"Banyak omong, cepat ... cepat, berikan itu. Apa ngak lihat, muka telah hancur kotor dan bau begini," balik jawab Arjuna yang nampak dongkol.


"Eeh, iya ... iya, Bos. Maaf."


Pengawalan ketat kini dilakukan dengan cara mengelilingi tubuh tuan muda Arjuna, untuk segera membawa masuk ke dalam perusahaan, agar bisa selamat dari hal-hal yang tak diinginkan lagi.


Dengan langkah tergesa-gesa, pengawal sudah kalang kabut mengikuti tapak jejak Arjuna yang berjalan cepat.


Semua orang nampak aneh atas tingkah mereka, dengan hidung seketika mulai ditutup oleh tangan, yang terlihat semuanya akan muntah-muntah, mungkin ini efek Arjuna barusan tengah melewati mereka.

__ADS_1


"Aaah, sial. Bau telur itu begitu menyengat, hingga semua orang ingin muntah saja ketika berpapasan denganku," Kekesalan Arjuna berkata pada para pengawalnya.


"Kosongkan lift yang kupunya segera. Cepat ... cepat ... cepat!" bentak Arjuna tak sabar.


"Baik, bos!" Semua anak buah nampak kompak nurut saja.


"Awas saja kalau pelakunya ketemu, akan kucincang-cincang tubuhnya sampai kayak berkedel. iiiihh ... haaaah, kenapa baunya begitu busuk sekali melebihi bangkai," cakap Arjuna kian kesal marah.


Kling, lift telah terbuka dan dengan cepat Arjuna langsung masuk, dengan ditemani dua pengawal bertubuh kekar yang ikut masuk, sementara yang lain mengiringi lewat lift lain. Nampak pengawal selalu ingin memalingkan muka untuk tak menatap sang tuan muda, namun semua niatan itu diurungkan akibat takut oleh pemecatan.


"Apa ... apa? Apa kalian akan muntah juga, akibat mencium bau busuk ini?" tanya ketus tuan muda.


"Enggak ... enggak, kok Bos!" jawab ketakutan pengawal.


Bau badan yang sudah terkena telur busuk begitu menyengat, namun semua harus kuat menahan, kalau ingin masih tetap jadi anak buah dan bekerja padanya.


Tangan sudah membuka dasi yang terikat dileher, yang tak membuang waktu juga, kini membuka jas yang kotor dan berbau busuk.


"Buang semua baju dan jas itu!" tegas perintah Arjuna.


"Baik, bos."


Badan yang sispek namun tak begitu terisi, nampak sudah seperti petakan sawah yang tergenang air hujan namun masih kelihatan garis-garisnya, kini sudah mulai dibawa masuk ke kamar mandi diruang kerja kantornya. Baju singlet sudah dinaikkan keatas, dengan segera terlempar kesembarang arah.


Sabun cair telah terbubuh ditangan, yang berulang kali telah tersapu dibadan dan wajah, namun sialnya bau yang menjijikan itu terus saja menempel walau berkali-kali mengosoknya.


"Hiiiih, gila ... gila. Kenapa baunya tak mau hilang. Benar-benar sial hari ini, saat sedang mau rapat penting, tapi aku kini malah dihadapkan oleh bau badan yang busuk begini," rancau hati kesal saat berkali-kali mencium badan sendiri, sebab tak mau pergi bau busuknya.


Ceklek, pintu telah terbuka kasar oleh pengawal pribadi, asisten, sekaligus sekertaris. Semua status itu dirangkap jadi satu, akibat memang tak bisa menandingi kepintaran dan keahlian Cakra.


"Gimana sama pelempar itu, ketemu tidak?" tanya tuan muda Arjuna.


"Heeeh, susah sekali menemukannya. Tapi sedang kami usahakan dengan melihat cctv perusahaan," jelas Cakra.


"Baguslah itu," jawab santai bosnya, sambil terus berusaha mengendus bau badan sendiri.


"Wah, bos. Bau kamu sekarang melebihi wanginya parfum termahal didunia, nih!" ucap ledek Cakra.


"What? Gila apa kamu ini! Busuk begini dibilang parfum. Aaah, benar-benar gila pelempar itu, masak telur busuk diterjunkan ditubuhku, 'kan baunya jadi tidak mau hilang begini, yang padahal sudah seratus kali aku mengosoknya," jelas kekesalan Arjuna.


"Kalau ketemu pelakunya, akan kubunuh. Pasti itu!" imbuh tegas Arjuna.


"Wao, sadis beneeeer. Sekali-kali ngak pa-pa kali, bos. Seorang yang selalu rapi dan harum, kini bagaikan si miskin yang bekerja di penggalian selokan," hina Cakra sambil tersenyum-senyum.


Pluk, sebuah bulatan kertas terlempar diwajah Cakra.

__ADS_1


"Gila apa kamu ngatain bos sendiri. Comberan dari Hongkong, yang bisa membuat aku jadi miskin nyungsep turun derajat," jawab Arjuna tak suka.



"Ha ... ha ... ha, 'kan barang kali saja nanti bisa. Kelihatannya asyik juga bos yang angkuh dan ditakuti bisa mengali lubang diair comberan, hihihi!" tawa Cakra kembali meledek.


"Kamu 'tuh yang pantas bekerja kayak gituan," saut jawab Arjuna tak suka.


"Hahah, kalau aku sih ogah."


"Tahu 'pun kalau tidak mau, dasar anak buah luncnut, bisanya hanya berani sama bos sendiri," ujar Arjuna.


"Habisnya kekakuan dan kesombongan kamu itu, hanya dirikulah yang bisa melumpuhkan," jawab Cakra dengan percaya dirinya.


"Ya ... iya, sebab kamu adalah paling the best," puji Arjuna.


"Tahu 'pun."


"Plak, dasar kurang ajar!" sebuah kertas dalam map, terpukul tepat dikepala sang sekertaris.


"Sudah, jangan banyak omong. Lanjutkan rapatnya sekarang," perintah Arjuna segera.


"Siiip."


"Tapi tunggu disini dulu," cegah Arjuna sebelum benar-benar pergi.


"Apa'an lagi, Bos."


Srez ... sres ... srez, berulang kali minyak wangi terus tersemprot ditubuh Arjuna.


"Uhuuk ... uhuuuk, gila apa kamu bos! Masak minyak satu drum kamu semprot semua," ledek Cakra.


"Biar wangi gitu 'loh. Kamu tahu sendiri bau busuknya masih lekat tak mau hilang ini,"jawab santai Arjuna.


"Uhuuk ... ihuuuiuk, aku tahu. Tapi ngak juga harus tiga botol minyak wangi tersemprot semua," keluh Cakra tak suka.


"Shreeees, banyak bicara lagi nih anak buah. Mau kupotong gaji? Ayo cepat berangkat rapatnya," balik jawab Arjuna tak suka, sudah menyemprot minyak wangi langsung kepakaian Cakra.


"Heehehe, jangalah Bos. Kalau dipotong gaji nanti tidak bisa bayar cicilan, 'kan bisa brabe!" cegegesan jawab Cakra.


"Makanya jangan banyak ngeluh, nurut saja jadi anak baik sama bos, ok!" cakap Arjuna sabar.


"Yang pastinya selalu, ok."


Kini dua orang yang terkenal sadis dan ditakuti semua orang, sudah berjalan menuju ruangan rapat yang sudah nampak banyak pengusaha penting sedang menunggu. Saat masuk kepala sudah menunduk, tanda semua hormat dan tunduk pada tuan muda Arjuna.

__ADS_1


__ADS_2