
Kerjaan yang menumpuk, membuatku harus kembali ke perusahaan. Ketika datang, banyak sekali yang harus ditanda tangani. Masalah perjodohan kukesampingkan dulu, sebab nanti ada cara jitu untuk merubah semua rencana itu.
Ret ... ret, tangan masih sibuk saja menandatangani.
Tok ... tok, pintu diketuk.
"Masuk!" perintahku langsung.
"Wah, terima kasih, my honey!" sapa suara Sonia.
"Ya salam, kenapa Sonia hari ini datang kesini juga," guman hati yang terkejut.
"Kenapa aku tidak bisa menemui kamu, honey? Susah sekali hanya sekedar bertemu saja," keluh Sonia.
"Kamu tahu sendiri kalau kerjaan banyak. Perusahaan bukan hanya satu dan semua yang memegang aku sendirian. Oh ya, kamu ada urusan apa mau ketemu?" tanyaku pura-pura.
"Iiih, kamu genit nanya-nanya gitu, aah! Apa kamu tidak merasa, kalau aku tuh rindu-serindunya sama kamu," balas manja Sonia.
"Hadeh, nih anak. Manjanya ngak bisa hilang. Sifatnya sangat baik sih, tapi manjanya itu ngak ketulungan bikin eneg saja," keluhku dalam hati.
Sonia dari dulu selalu memanggil diriku dengan sebutan honey. Rasanya sangat risih sekali dipanggil begitu, disaat aku bukan siapa-siapa Sonia, malah bermanja ria seperti kekasih saja.
"Hmm ... emm, aku tahu. Tapi apa harus ketemuan juga?" tanyaku polos.
"Ya haruslah. Kalau ngak ketemu, rasanya tidak puas tahu," jawabnya gamblang.
"Ya ... ya, benar juga apa katamu itu," sautku sambil sibuk memperhatikan berkas.
"Hei, honey. Aku datang kamu kok malah cuek, sih! Apa hari ini penampilanku kurang memuaskan?" cakapnya yang sudah berputar-putarkan badan, memperlihatkan busananya yang elegan.
"Kamu hari cantik!" pujiku tidak menatapnya.
"Wah, benarkah itu? Terima kasih."
"Emm. Oh ya, aku tuh lagi sibuk banget hari ini sebab sudah lama tidak ke perusahaan, jadi bolehkah kamu tidak menganggu kosentrasi kerjaan," pintaku santai.
"Yah ... yah, baru saja datang masak sudah main usir saja," keluhnya tidak suka.
"Bukan tidak suka dan mengusir, tapi cobalah memahami kalau aku benar-benar ada kerjaan menumpuk," jelasku.
"Hhh, tapi aku hari ini ingin bersamamu," ujarnya yang sudah cemberut.
Memang susah berbicara sama Sonia ini. Kalau tidak dituruti permintaannya dulu, pasti dia akan betah berlama-lama disini.
__ADS_1
"Lain kali saja, ya ... ya!" bujukku lagi.
"Atau kamu kerja saja dan aku menunggu kamu disini. Aku janji tidak akan ganggu kerjaanmu, gimana?" jawabnya yang keras kepala.
Sikap yang awalnya duduk dikursi kebesaranku, sekarang sudah berdiri untuk mendekati Sonia agar dia mau mengerti.
"Maafkan aku ya, Sonia. Kali ini aku benar-benar tidak bisa menemani kamu," jawabku mencoba menuntun sambil memegang bahunya, agar mau keluar dari ruanganku sekarang.
"Aku tidak mau, Arjuna. Aku mau bersama kamu sebentar saja, ya ... ya!" kekuhnya.
"Tidak bisa."
"Sepuluh menit saja, ya! Izinkan aku sebentar disini!" pintanya lagi.
"Enggak boleh."
"Kalau begitu semenit saja, gimana?" Keinginan Sonia lagi.
"Pokoknya tidak bisa."
"Aah, Arjuna. Kamu berubah jadi pelit begini, sih!" keluhnya yang sudah mengerak-gerakkan bahu dengan kuat, sehingga tangan yang sempat memegang sudah terlepas.
"Aaah," teriaknya yang akan jatuh.
Saat tidak ada keseimbangan lagi pada Sonia, langsung saja dengan sigap ingin menangkapnya. Licinnya lantai ketika memakai higheels, menjadi salah satu alasan utama mengapa Sonia bisa jatuh.
Bhuugh, tubuh kami berdua sudah jatuh secara bersamaan.
Posisi yang benar-benar tidak nyaman dan mengenakkan, saat tubuhku sekarang berada diatas Sonia.
Ceklek, pintu dibuka tiba-tiba.
"Uuuupsss, maaf!" ucap sekertaris Cakra kaget.
"Lanjutkanlah keromantisan kalian itu. Maaf ... maaf, jika aku jadi penganggu," imbuh Cakra yang banyak drama, yang sekarang ingin menutup pintu.
Wajah Cakra yang cegegesan, membuatku sangat kesal padanya.
"Woi, jangan salah sangka, paham!" ketusku yang sudah berdiri, dari posisi jatuh bersama Sonia tadi.
"Enggak ... enggak, kami tadi tidak sedang salah sangka, kok. Tadi Arjuna memang betulan mau menolongku jatuh. Rasanya jadi terharu karena honeyku benar-benar peduli, yang seakan-akan tidak ingin aku terluka," ucap kepedean Sonia.
Tangan hanya bisa memukul jidat, saat Sonia malah melebarkan masalah.
"Wah, benar-benar itu, Sonia. Mungkin bos lagi ingin sayang-sayangnya kepada kamu," jawab Cakra yang menambahkan masalah, dengan membuat cerita mengada-ada.
__ADS_1
Mulutnya yang ember, rasanya ingin sekali segera kutampol. Enak saja, bilang akulah yang mau bermanja ria dengan Sonia.
Netra sudah melotot tajam ke arah Cakra yang masih cegegesan. Bukannya membantu menyingkirkan Sonia, malah dia semakin membuat keruh suasana.
"Wah, benarkah itu? Jadinya aku makin sayang sama kamu, honey!" cakap Sonia tidak percaya, yang kini mencubit pelan pipiku.
"Aaaa, sudah ... sudah."
"Iya ... Iya, apa yang dikatakan Cakra itu memang benar. Sekarang puas 'kan? Jadi aku mohon pulanglah dulu karena kerjaanku hari ini benar-benar menumpuk," pintaku yang membujuk dengan cara berbohong padanya.
"Hihiihi, benarkah itu? Jawaban kamu sangat-sangat memuaskan. Oke deh! Aku akan pulang sekarang, tapi kamu jangan kelelahan bekerja. Kalau kamu sakit, 'kan aku juga yang khawatir nanti," tuturnya yang masih bersikap manja.
"Emm, iya ... iya, nanti aku tidak akan capek. Jadi cepetan pergi sekarang, sebelum tanduk dipalaku akan keluar, nih!" usirku secara halus.
"Oke ... oke, slow respon.. Bye ... bye, honey!" pamitnya yang masih manja.
"Oke, bye ... bye!" jawabku sudah memberikan senyuman kecut, namun masih tetap ingin ramah padanya.
Kuantar Sonia sampai depan pintu, untuk memastikan kalau dia benar-benar akan pergi. Sekarang tangan sudah mengepal kuat, yang rasa-rasanya ingin memberi pelajaran pada Cakra. Sekertaris yang sok tahu dan selalu usil.
"Ada apa kesini?" ucapku bersikap masih ramah.
"Hanya mau minta tanda tangan saja, Bos!" jawab pelan Cakra, yang sudah menyodorkan sebuah map warna hitam.
Tangan langsung mengambil pemberiannya. Netra menatap seksama kearahnya yang menudukkan kepala, tapi aku tahu kalau Cakra mencuri-curi melihat.
Plak ... plak, bertubi-tubi map yang terpegang tangan, kugulung-gulung dan sudah terpukulkan dikepalanya.
"Ah, ampun Bos!" pintanya yang pura-pura sakit.
"Tiada ampun bagimu, plak ... plak," Kekesalanku yang memberi hukuman pada Cakra.
Amarah yang tertahan, membuatku sudah ngos-ngosan mengambil nafas.
"Apa kesalahanku, bosku sayang!" rayunya yang memuakkan.
"Haiiist, masih bertanya lagi. Kenapa ... kenapa? Masak tidak merasa apa yang kamu katakan tadi pada Sonia, hah!" cakapku emosi.
"Hehehe, iya ... ya, maaf. Jangan marah-marah, kenapa! Gantengnya nanti terbawa sama Sonia, lho!" jawab Cakra yang masih ingin mengajak bercanda.
"Haaist ... hiiiiih, ingin kuremas-eema wajahmu yang sok polos itu," Kekesalanku yang mengarahkan tangan, ingin sekali meremas.
"Mana tega kamu, Bos. 'Kan kamu yang paling the best. Wluek!" ledeknya sambil memuji.
"Hmm ... hmmm."
Hanya bisa mengelus dadalah yamg kulakukan sekaramg. Kerjaan yang memusingkan kepala, sekarang ditambah sikap konyol mereka yang mengesalkan. Untung saja aku orangnya sabar, jadi habis kejadian langsung kulupakan.
__ADS_1