
Mobil sudah melaju pelan-pelan. Rasanya tidak tenang saat ingin menemui musuh. Kegelisahan ini, membuatku duduk dalam mobil bergerak-gerak tak tentu terus.
"Semoga saja bos sombong itu tidak ngapa-ngapain aku nanti. Awas saja jika dia berbuat ulah dan aneh-aneh," rancau hati yang resah.
Shet, mobil sudah berhenti disebuah gedung yang menjulang tinggi, yang sepertinya adalah apartemen.
"Mari, Nona. Saya akan antar anda ke tempat tuan muda," ucap salah satu orang suruhan Arjuna.
Aku hanya bisa ikut saja, atas perintah dan arahannya
Kling, lift sudah terbuka dan kami berdua telah masuk. Lift terus saja meluncur ke atas, yang tidak tahu akan sampai ke lantai berapa.
"Kita sudah sampai, Nona!" ucapnya memberitahu.
"Iya!" jawabku malu-malu dengan sikap sopan.
Orang suruhan sudah berjalan duluan dan aku lagi-lagi hanya bisa mengikutinya dari belakang. Sebuah lorong memanjang telah terlewati, sepertinya tempat yang akan kami datangi sudah mulai dekat.
Ceklek, sebuah pintu telah dibukakan oleh orang suruhan.
"Oh, iya. Terima kasih."
Langkah sudah mulai melangkah masuk. Seketika netra menyapu pandangan kearah ruangan, yang nuansanya serba putih. Kelihatan bersih dan rapi adalah ciri khas yang punya tempat tinggal.
"Permisi!" ucapku mencoba memanggil.
"Iya. Oh, ternyata kamu sudah datang!" sapa seorang pria yang lumayan tampan juga, sudah keluar dari sebuah ruangan.
Dia mulai mendekatiku, yang masih berdiri terpaku didekat pintu masuk.
"Apakah dia yang namanya, Arjuna? Boleh juga ternyata. Tapi kayaknya tidak sesuai dengan sifatnya yang arogan itu," guman hati yang tidak percaya atas yang barusan kulihat.
__ADS_1
"Emm, kok wajah dia seperti ... seperti orang yang kukenal. Tapi siapa, ya! Pernah lihat, tapi lupa siapa dia ini," rancau hati bingung.
"Emm, terima kasih."
Seketika aku langsung duduk disofa memanjang, diiringi oleh orang yang sepertinya dia adalah si berekokok Arjuna.
"Wuuih, sudah datang ternyata kamu, Nona Liona!" sapa seseorang pria lagi yang tampan juga, tapi kelihatan agak sedikit dewasa wajahnya itu.
"Apaan, sih!" ketus orang yang tidak tahu namanya.
"Haist, nyapa orang cantik saja masak tidak boleh," balik ketus yang barusan menyapa.
"Hehehe, maaf ya, Nona. Bosku ini rada-rada galak, jadi harus banyak-banyak hati-hati sama dia. Perkenalkan namaku adalah Cakra, sekertaris sekaligus asistennya Bosku Arjuna ini," ucapnya memperkenalkan diri.
"Iya, aku sudah tahu, ketika kamu yang ikut kemarin sama nenek."
"Yap, itu saya."
"Kamu tahu siapa dia ini 'kan?" ucap Kakesalan orang yang sekarang kutahu namanya dia adalah Arjuna.
"Siip, iya ... iya. Rembes semua pokoknya, bos! Ini otw mau pergi membuat," jawab sekertaris nurut.
Aku hanya bisa cegegesan melihat ulah mereka berdua. Kelihatan akrab dan suka bercanda.
"Kamu pasti bertanya-tanya, mengapa aku mendadak menyuruhmu datang kesini," ucapnya yang memulai pembicaraan.
"Tentu saja itu."
"Baiklah, tidak usah berbasa-basi lagi, tentang kita yang akan dijodohkan. Mengenai masalah itu makanya aku bawa kesini, sebab ada hal penting yang ingin kubicarakan sama kamu," terangnya.
"Emm, bicaralah."
Sang sekertaris sudah kembali, membawa nampan berisikan tiga cangkir minuman dan beberapa camilan. Asap yang mengepul melayang-layang diudara, menandakan kalau teh baru saja diseduh.
__ADS_1
"Silahkan diminum!" suruh sekertaris.
"Terima kasih," jawabku santai.
"Sama-sama," uja sekertaris yang duduk dekat bosnya.
"Kamu tahu, kalau kita akan menikah oleh perjodohan yang tidak diinginkan. Jadi aku ingin membuat perjanjian, agar dalam berumah tangga nanti tidak ada penyesalan diantara kita. Kamu tahu sendiri, pernikahan nanti atas dasar ingin membagi rata tanah dan ingin sekeluarga damai bisa memilikinya," cakap panjang lebarnya.
"Maksud kamu, apa? Perjanjian apa? Kalau ngomong tidak usah berbelit-belit, langsung saja ke pokok pemasalahannya," keluhku tidak sabar.
"Huff, baiklah. Plaak!" jawabnya sudah melempar sebuah kertas terbungkus map hitam.
"Apa ini?" tanyaku sudah mengambilnya.
"Baca itu. Kalau kamu tidak cocok, bisa diubah sesuai keinginanmu," suruhnya.
Netra seketika memperhatikan baris demi baris kata-kata yang tertulis.
Pokok isi :
Tidak boleh ada yang jatuh cinta, walau sudah terikat pernikahan.
Tidak boleh mengurusi hak pribadi masing-masing.
Ikatan pernikahan adalah palsu dan apabila tanah sudah terselesaikan diantara kedua belah pihak, ikatan itu boleh dibatalkan sesuai persetujuan pihak yang terkait.
Perjanjian ini tidak boleh diberitahukan oleh pihak manapun, termasuk pihak keluarga sekalipun.
Sungguh gila perjanjian yang dibuat, namun rasanya aku tertarik untuk mengikuti alurnya. Kisah cinta yang tidak terjalin diantara kami, membuat dilema selama ini mau menerima tidaknya perjodohan.
"Apakah aku harus menerima kontrak perjanjian ini, ya! Kelihatannya sangat menguntungkan bagi kami berdua, tapi jika pihak kekuaraga tahu akan hal ini, pasti akan kecewa dan marah. Huff, aku harus bagaimana ini? Mungkin, ini adalah jalan satu-satunya, agar aku tidak terjebak pernikahan bersama Arjuna selamanya," guman hati yang bingung.
__ADS_1