Terpaksa Menikahi Si Culun

Terpaksa Menikahi Si Culun
Acara Ijab Qobul


__ADS_3

Rasa bahagia namun terasa sedih, inilah yang sekarang bersemayam didalam diriku. Bagaimana tidak! Saat menikah namun ini hanya pura-pura dalam sebuah rencana. Kuputusan ini sudah diambil, jadi suatu saat nanti harus menerima resiko itu walau apapun yang terjadi ke depannya nanti.



Balutan kebaya putih sekarang telah melekat ditubuh, sebagai pakaian untuk melaksanakan acara ijab qabul yang akan segera dilangsungkan. Entah apa arti hukum atas semua ini, yang jelas dimata semua orang kami telah menikah sungguhan.


"Bismilllah, semoga kedepannya tidak terjadi apa-apa sama hubungan kami. Apa yang kami rencanakan, semoga saja tidak akan terbongkar," guman hati yang gugup saat wajah sedang dirias.


Walau Arjuna adalah pria yang sombong dan tidak berperasaan ketika berbicara, tapi kalau dilihat dan diperhatikan lebih dalam lagi ternyata dia orangnya baik juga, walau kadang tidak ditujukkannya secara gamblang didepan orang yang mengenal dekat dia.


Suara orang yang berbicara diluar terdengar sangat riuh, sehingga membuat hati terus saja deg-degkan tanpa berhenti pacuannya dari tadi. Tangan terus saja dibanjiri keringat, akibat terlalu tegang atas acara yang akan menjadi saksi bisu detik-detik akan melepas kesendirian.


"Nona, kenapa menangis?" tanya sang perias melihat serius ke arah wajahku.


"Ehh, enggak pa-pa kok, Mbak!" jawabku langsung mengusap pelan pipi yang sudah dijatuhi bulir-bulir airmata.


"Jangan menangis dihari bahagia ini, seharusnya Nona selalu gembira saat beruntung mendapatkan bos besar seperti tuan Arjuna itu. Lagian mak-upnya nanti akan rusak jika menangis begini," ucap sang perias yang sekarang mengusapkan tisu pelan-pelan ke pipi.


"Iya, Mbak. Terima kasih atas nasehatnya."


"Sama-sama."


Rasa gorgi yang mulai menyerang, tidak bisa kukusai secara tenang. Pikiran terus saja melayang-layang dan kalut, akibat sebuah rasa bersalah membohongi semua orang termasuk orangtua sendiri.


Semua telah selesai dengan riasan yang tipis namun sangat anggun. Dari pantulan kaca nampak sangat memesona bak bidadari.


"Mbak, saya permisi dulu, mau menelpon sebentar. Kalau acaranya sudah dimulai, panggil saya saja nanti," suruhku.


"Baik, Nona."


Langkah mulai menepi untuk segera menelpon, kepada orang yang membuatku tidak tenang sekarang.


Tut ... tut, gawai kucoba sambungkan, namun tidak diangkat-angkat juga.


"Ayolah, Arjuna. Angkatlah sebentar. Ayo ... ayo, angkatlah," Kepanikan hati saat tak kunjung jua dia mengangkatnya.


Handphone rasanya ingin kubanting saja, saat nada dari gawai tersambung tapi tidak segera diangkat.


"Mbak, apakah aku boleh minta tolong untuk keluar sebentar dari sini, untuk Mbaknya berbicara pada calon saya agar mengangkat telephone. Please ... please, saya minta bantuannya sebentar," ucapku sudah menangkupkan kedua tangan didada untuk memohon.


"Baiklah, Nona. Saya akan bantu sampaikan."


"Terima kasih, Mbak."

__ADS_1


"Iya."


Lama sekali menunggu panggilan. Sampai pada akhirnya gawai bergetar juga, setelah ada bantuan dari mbak perias pengantin.


[Hemm, ada apa?]


[Kenapa lama banget mengangkatnya, sih? Apakah pernikahan ini sangat penting bagi kamu, sementara semuanya adalah tipuan]


Rasa gondok dalam hati kini kuluapkan.


[Gimana tidak penting, sementara banyak keluarga yang menyaksikan acara sakral ini]


[Penting?]


[Apa kamu lupa sama perjanjian itu? Jangan lupa denda akan berlaku jika melanggarnya]


Suara sudah sepelan mungkin seperti berbisik-bisik, sebab takut jika ada orang lain akan mendengarnya nanti.


[Iya, Aku tahu]


[Oh ya, kamu kok santai amat kelihatannya, sedangkan aku saja sampai mati rasa akibat grogi yang akut ini]


[Ya, harus santai. Kalau tidak pasti nanti akan ketahuan oleh semua orang]


[Sudah, kamu tenang saja dulu mengenai pernikahan ini. Mengenai perjanjian kita pikirkan belakangan dulu, yang jelas kita harus berakting dengan baik agar semuanya berjalan dengan lancar]


[Ya sudah kalau begitu, aku ikut sama alur


kamu saja. Tapi kalau ada apa-apa, aku tidak ikut-ikutan dan tanggung jawab]


[Ok, sipplah kalau begitu]


[Emm]


Rasa tegang kini mulai agak mereda, setelah mendengar jawaban darI Arjuna. Walau sedikit mengesalkan sebab dia terlalu santai serta agak meremehkan, namun aku tetap harus ikuti alur bersantai juga agar tidak ada yang curiga.


Sekali tarikan nafas kuat, sekarang mulai bersiap-siap untuk segera turun menemui para tamu yang dari tadi sudah menunggu. Dengan berjalan secara anggun dan perlahan-lahan digiring mertua dan Ibu kandung, sekarang mulai mendekati meja yang ada Arjuna, Bapak penghulu dan para saksi.


Mata kami sama-sama saling beradu ketika melirik, saat sudah sampai duduk diacara yang sakral ini. Hawa panas mulai menyerang, ketika grogi tiba-tiba kembali hadir. Untung saja ada kipas angin yang menerpa tubuh, sehingga tidak ketahuan kalau aku sedang mengalami kondisi yang tidak baik.


"Baiklah, kita akan mulai acara ini. Semoga semua terjadi dengan lancar dan baik-baik saja, amin ya robbal alamin!" ucap Bapak penghulu.


"Amin ... amin," jawab kompak semua orang.

__ADS_1


"Kamu siap, Nak Arjuna?" tanya beliau.


"Alhamdulillah, siap Pak."


"Baiklah kalau begitu, kita akan mulai. Bismi-llāhi ar-raḥmāni ar-raḥīmi (﷽)," ujar Bapak penghulu yang kini sudah menjabat tangan Arjuna.


"Saya nikahkan anak kami yan bernama Liona Sekarsari binti Ahmad Munawir, dengan mas kawin uang lima ratus lima puluh ribu rupiah dibayar tunai," Pak penghulu dengan lantang mengucapkan kalimat, yang membuat dada rasanya mulai sesak saja.


“Saya terima nikah dan kawinnya Liona Sekarsari binti Ahmad Munawir dengan mas kawin uang lima ratus lima puluh ribu rupiah dibayar tunai.” Arjuna mengucapkannya dengan satu kali tarikan napas dengan khidmat.


“Bagaimana para saksi? Sah?” tanya Pak penghulu kepada saksi yang menghadiri acara ijab kabul dari pernikahan kami.


“SAH ... SAH!” jawab mantap para saksi.


"Alhamdulillah," Kelegaan perkataan Papa Arjuna dan bapak secara kompak.


Seketika ruangan itu menjadi riuh, sorak sorai kebahagiaan dari pihak keluarga dan para tamu undangan yang menghadiri acara pernikahan ini.


Kini aku sudah sah menjadi istri dari laki-laki yang sudah membuatku terjebak dalam pernikahan pura-pura. Aura kebahagiaan terpancar dari wajah kedua belah pihak keluarga. Akhirnya hubungan diatas kertas berlabuh di pelaminan juga.



Doa-doapun terus digemakan, saat acara ijab qobul akhirnya selesai juga tanpa ada kendala sama sekali.


Sekarang aku beralih mendekati Arjuna, yang posisi dia tepat duduk disampingku, yaitu untuk segera mencium tangan punggungnya, lalu tanpa diduga dia berbalik untuk segera mencium keningku. Wajah nampak begitu terkejut namun bisa kututupi langsung, dengan sumringah bahagia dalam gambaran wajah penuh kebohongan.


"Alhamdulillah, kalian sudah sah menjadi suami istri," ucap pak penghulu.


"Iya, pak!" jawabku ramah.


Setelah kami selesai menandatangani surat nikah dan berkas-berkas lainnya. Sekarang kami menuju ke tempat Ibu, yang wajah beliau sudah terbanjirkan oleh uraian airmata, saat melihat kami berdua ingin datang dengan tujuan bermaksud sungkem pada beliau.



"Ibu sekarang sangat bahagia melihat kalian berdua yang akhirnya dipersatukan dalam ikatan pernikahan," ujar beliau beruraikan airmata saat aku sungkem pada beliau.


"Iya, Bu. Ini semua berkat doa dan kesabaran ibu yang selalu mendukung dan ikhlas melepaskan anakmu ini untuk bersanding bersama orang lain," Balik ucapku saat pipi kami melekat untuk saling meluapkan kasih sayang.


Sedih dan bahagia telah terbaur menjadi satu. Tak henti-hentinya aku terus saja mengalirkan airmata. Entah berapa tisu yang sudah terpakai, yang jelas rasa ini membuatku begitu tak bisa bernafas dengan jenak.


"Ibu hanya bisa berdoa semoga kalian selama-lamanya akan tetap bahagia," imbuh ucap beliau.


"Iya, Bu. Terima kasih."

__ADS_1


Acara sungkem 'pun terus berlanjut sampai pada orangtua Arjuna juga. Kalau keluarga lain kami hanya menjabat tangan, sebagai tanda hormat mereka yang sudah mendukung acara pernikahan kami.


Wajah kami terus saja mencuri-curi pandang saling tersipu malu. Tidak tahu lagi apa yang harus dilakukan, saat semua begitu nyata terjadi sedangkan dibalik ini semua hanya tipuan.


__ADS_2