
Wajah Arjuna memang tampan dan rupawan. Pribadinya yang sombong namun baik, bisa membuat siapa saja akan terpikat dengan sosoknya.
Gadis manapun dengan mudah bisa Arjuna taklukkan. Karena kharisma dan wibawanya mungkin sebagian para gadis tak akan berpikir dua kali, jika ingin memilikinya wakau harus mendapat kesengsaraan atau justru kebahagiaan.
Daya pikatnya sanggup melelehkan jiwa yang kesendirian. Seperti yang terjadi pada padaku. Sering melakukan apa-apa sendiri, sampai tidak pernah mengenal dunia pacaran. Jiwa haus akan kasih sayang seorang lelaki, agar bisa memuaskan hasrat tentang cinta. Dan saat inilah aku tidak bisa menahan hasrat, saat melihat wajah tampan Arjuna.
Malam ini, Arjuna berhasil merampas kesucianku yang tidak memiliki kekuatan untuk melawannya. Bahkan dengan kata permohonan sekalipun Arjuna tidak menghiraukan.
Baju yang berserakan segera kupunguti. Mungkin akibat kelelahan priaku sudah tertidur pulas.
Pukul sebelas, malam sunyi ditemani kegelapan, aku hanya bisa meringkuk dalam selimut memeluk tubuh sendiri. Kekacauan yang dia lakukan, benar-benar membuat bulir airmata ini jatuh.
Pernikahan macam apa ini? Kehidupan apa yang bakalan kujalani? Kenapa semesta tidak membiarkanku benar-benar bahagia, walau hanya sesingkat saja atas nama cinta.
"Apakah kau bakalan tulus mencintaiku, Juna? Sedangkan kebersamaan kita hanyalah kontrak? Kenapa kau tidak bisa mengontrol dirimu malam ini? Apakah kau tidak berpikir panjang apa yang telah kau lakukan," Kekhawatiran hati.
Udara dingin berhasil menerpa kulit, saat hembusannya berhasil menerobos dibalik selimut. Tidak bisa dijelaskan wajah sekarang. Bahagia karena Arjuna akhirnya mengungkapkan perasaannya, tapi disisi lain cukup tertekan akibat pernikahan palsu ini.
"Apakah kita akan terus bersama? Banyak harapan yang kuinginkan darimu. Tak lain agar kita bisa bersama terus sampai menua. Hhh, apakah harapanku terlalu tinggi? Semiga saja, mengenal Arjuna orangnya tidak akan pernah mengingkari ucapan dan janji."
Tanpa diduga tangannya berhasil menyentuh pinggang. Tubuh semakin menempel, tanpa ada jarak diantara kita. Dengan erat dia memeluk tubuh yang lemah.
"Jangan jauh-jauh dariku. Tubuhmu ingin kupeluk terus, paham."
Entah mengingau atau benar-benar sudah bangun. Kalau bangunpun, kenapa dia tidak mengetahui kesedihanku atas ulahnya tadi.
__ADS_1
Nyaman, itulah yang kurasakan. Sentuhannya terasa tulus, namun hati ini terus dihantui penolakan. Banyak harapan yang ingin kudapatkan dari Arjuna. Mungkin untuk saat inu tidak boleh berharap tinggi-tinggi dulu, sebab sikapnya bisa berubah kapanpun itu, jadi aku harus waspada dan selalu siap siaga.
Malam terus merangkak dipertengahan. Entah berapa lama aku terbuai dan ikutan tidur dipelukan Arjuna. Suara riuh diluar kamar hotel berhasil membangunkanku. Ada secercah cahaya mulai nampak, mungkin hari sudah menjelang pagi.
Tangan besarnya perlahan-lahan kutepikan. Berusaha bangkit untuk membersihkan diri. Sedetik menoleh ke arah pria yang terus saja terpejam menjelajahi mimpi. Rasa terima kasih ingin kulontarkan, tapi berat rasanya bertutur kata terhadap dia, mengenang dia suka jahil dan bercanda. Pasti akan diolok-oloknya.
Air shower cukup meredakan gejolak rasa. Pikiran terus melayang. Setitik derasnya air ketatap lekat. Wajah mendongak ke atas. Bayangan akan kejadian semalam begitu menghantui. Ada sedih, bahagia, takut, dan terutama was-was kinu sudah tercampur baur jadi satu. Tangan terus merapikan rambut yang sudah berbuih akibat shampoo. Lama berdiri dibawah hantaman air yang mengalir. Cukup menenangkan dan nyaman.
Tok ... tok, pintu telah diketuk seseorang.
"Sebentar."
Baju ganti langsung kusambar. Mungkin diluar adalah Arjuna yang sedang ingin masuk. Entah baju sudah benar posisinya apa tidak, yang terpenting ingin segera membuka pintu sebab ketukkannya seperti sedang tidak sabar.
"Iya ... iya. Ini sudah selesai."
"Lama amat mandi. Berendam apa tidur."
"Dua-duanya."
Menjawab seketusnya. Berusaha melewati wajah yang mengekspresikan seperti penasaran.
"Gitu saja kok sewot, sih. Aku nanya baik-baik, lho."
"Lha terus mau jawab apa. Kamu sendiri 'kan tadi yang bilang aku berendam apa tidur? Ya, benar dua-duanya. Ada yang salah atas jawabanku?" Entah mengapa kok bawaannya ingin marah.
__ADS_1
Mungkin ini efek masih tidak terima, saat dia berhasil merampas yang selama ini kujaga.
Tangan berusaha menaruh handuk kecil dikepala, agar rambut yang basah akibat keramas bisa segera mengeringkan dan meresapkan air yang masih menetes.
"Enggak juga, sih. Tapi tidak biasa-biasanya mandi lama banget."
"Kamu pasti tahu jawabannya."
Netra menerawang jauh dari dekat kaca jendela. Mulai ada beberapa kendaraan yang sedang melaju dijalanan.
"Hah, benarkah?" Sikap Arjuna mulai bikin merinding saja.
Kedua tangannya sudah terlingkar dipinggangku. Dagu disandarkan dibahu. Sikap yang tidak pernah bisa kubayangkan. Apakah ini yang namanya keromantisan dalam buaian cinta? Mungkin saja, iya. Tidak pernah marasakan, dan cukup membuat tercengang tidak menyangka.
"Tuh bisa jawab sendiri."
Desiran angin semakin membuat bulu kuduk merinding. Sikap yang manja bikin deg-degkan. Arjuna begitu santai, tapi berbanding terbalik denganku yang mulai kepanasan. Walau habis mandi kedinginan, namun melekatnya kulit kami begitu dasyat mmeberikan efek sensasi yang berbeda.
"Yang jelas maaf dan terima kasih untuk semalam."
Kecupan mesra dipipi diberikan. Mata terbelalak tidak menyangka.
"Aaah, kau ini, Juna. Bikin aku tambah salah tingkah saja. Tenang ... tenang, Liona. Huuufff. Jangan sampai Arjuna tahu kalau aku begitu deg-degkan. Bisa gawat jika ketahuan malah dicibirnya nanti," rancau hati.
__ADS_1
Debaran halus terus terjadi. Tangannya berhasil menerobos jari-jari. Genggaman erat dia kakukan. Nyaman sekali perlakuannya ini. Semga cintanya memang ada dan tulus ingin bersamaku.